Monday, December 29, 2014

Surat untuk Raditya Dika


Pontianak, 28 Desember 2014.
Untuk : Penulis, Comic, Pemain film, Sutradara, dan Bintang iklan favoritku Raditya Dika

Mewakili para penggemarmu di seluruh Indonesia.
Selamat ulang tahun yang ke 30 tahun Dika Angkasaputra Moerwani . Mungkin surat ini tidak akan kamu baca. Atau bahkan mentionku tidak kamu lihat karena banyaknya pemberitahuan di twittermu. Tidak masalah, tak mengapa. Aku hanya ingin menuliskan doa-doaku untukmu, menuliskan siapa dirimu bagiku, menceritakan bagaimana hebatnya dirimu, mengungkapkan betapa cintanya aku akan karya-karyamu.
Usia 30 tahun jelas bukan usia yang muda lagi untuk hidup membujang, yah sebagai seorang penggemar aku memang tidak berhak untuk memberi wejangan bahwa kamu harus segera menikah, memiliki istri untuk menjadi pendampingmu. Tapi inilah doaku, ini salah satunya. Aku sangat senang waktu membaca di media bahwa kamu berpacaran dengan penyanyi idolaku, kamu bahkan menceritannya  di novel marmut merah jambu. Tapi ternyata kalian memang tidak jodoh, mungkin saat itu kalian beda keyakinan. Kamu yakin kalau kamu ganteng dan dia tidak yakin sehingga kalian putus. Hahaha. Apapun itu aku berdoa semoga kamu cepat menikah sehingga mempunyai seseorang yang selalu mendampingimu, tidak hanya melayanimu (dan kucingmu) tapi juga menjadi partner untuk karya-karyamu.
Semoga akan ada lebih banyak novel yang kamu tulis setelah novel Koala Kumal yang liris Januari 2015 nanti. Akan lebih banyak film-film yang kamu ciptakan dan tontonan berkelas seperti Malam Minggu Miko bisa ditayangkan kembali dengan cerita yang berbeda mungkin. Semoga kreativitasmu tidak pernah surut, selalu menggebu-gebu, selalu melahirkan ide baru yang membangun generasi muda.
Raditya Dika, dibalik kisah-kisah lucu yang kamu tuliskan, ketahuilah aku tidak hanya sekedar membaca. Aku belajar, tentu saja tidak mempelajari kebodohan yang kamu ceritakan dengan cerdas itu. Aku belajar untuk bermimpi. Aku ingin menjadi seseorang yang bisa dikenang seperti seorang Raditya Dika. Sejak kecil aku suka membaca, menulis dongeng pendek dan membacakannya pada kakek. Tapi sejak mengenal karyamu, aku merasa menemukan sesuatu yang lebih kuat dari sekedar suka membaca. Aku jadi lebih dari suka, aku ingin menjadi penulis. Penulis novel. Aku ingat saat itu aku  duduk dibangku kelas 3 SMP tahun 2009. Aku mendapat sebuah novel dari kakakku, Novel Kambing Jantan, novel tipis yang kubaca tidak lebih dari satu hari. Tidak perlu kuceitakan lagi bagaimana kehebohan yang tercipta karena novel itu. Sangat parah. Aku tertawa terbahak-bahak di kamar, sampai kakek dan nenekku menggedor pintu untuk memastikan bahwa aku baik-baik saja. Aku bahagia saat membaca novelmu dan sejak itu karya-karyamu selalu ku tunggu. Dan jika kamu tahu di mana aku saat itu mungkin kamu akan sangat bangga karena karyamu begitu luar biasa bagi anak Dayak di pedalaman Kalimantan Barat. Waktu SMP aku tinggal di kampung kecil pedalaman Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Di desa Banua Martinus, sebuah desa kecil yang jauh dari bisingnya keramaian kota, sebuah desa yang jauh dari kesan modern. Sangat jauh dari gambaran kehidupan yang kamu ceritakan di novel-novelmu itu. Dan aku, aku yang tumbuh di lingkungan seperti itu sangat terinspirasi oleh cerita-cerita yang kamu tuliskan di novelmu. Tidak terinspirasi untuk melakukan hal konyol, tidak. Aku terinspirasi untuk menjadi hebat seperti kamu. Aku terinspirasi untuk mempunyai kosakata yang banyak, kosakata yang luas dan memang sangat membantuku untuk belajar menulis, aku terinspirasi untuk kuliah di luar negeri sepertimu.Kamu membuatku berani untuk bermimpi, untuk mencintai kemampuanku dan berusaha mengembangkannya.
Melalui novel dan film-film yang kamu buat aku mempunyai cara pandang yang jauh lebih baik mengenai lingkungan sosialku, mengenai keadaan keluargaku, mengenai pendidikan dan pergaulan. Entah harus bagaimana menjelaskan hebatnya-tak ternilainya manfaat karyamu bagiku karena banyak orang menilai karyamu tidak lebih hanya untuk hiburan. Bagiku karyamu adalah penyambung lidah generasi muda, karyamu berisi protes-protes sosial yang disampaikan dengan cara ‘Anak Muda’, tidak hanya melalui film tapi materi-materi yang kamu sampaikan saat Open Mic. Kamu menyampaikan keresahan kami sebagai generasi muda dengan cara yang kami inginkan, tidak dengan cara yang membosankan seperti sebuah ceramah panjang, apalagi dengan cara anarkis. Kamu, Raditya Dika dengan segala kreativitasmu berhasil menyampaikan protes kami terhadap kejadian-kejadian di lingkungan kami. Kamu dengan kerendahan hatimu dan kesederhanaanmu menjadi tokoh favorit untuk kami.Kami mencintaimu, kamu dengan segala kekonyolanmu. Kami mengagumi kemampuanmu mengolah sebuah cerita, kemampuanmu meracik bumbu-bumbu tawa di panggung Stand up Comedy, kreativitasmu dalam membuat film, ide-ide gilamu itu yang menjadi karya cantik, aktingmu yang menawan dengan ciri yang tidak dibuat-buat sama sekali. Kamu mengenalkan orang-orang Indonesia berbakat lainnya, yang membuat kami sangat jatuh cinta pada kalian orang-orang kreativ, membuat kami mencintai Indonesia ini. Kamu akan menjadi legenda bagi kami, penggemarmu.
Raditya Dika.. Terimakasih telah menjadi bagian dari kami, bagian dari generasi muda pemilik masa depan ini, terimakasih sudah menyajikan karya-karya super yang membuat kami tertawa, terimakasih sudah berbagi kebahagiaan bersama kami, kamu adalah idola. Karya-karyamu selalu kami nanti, selalu di hati. Selamat berusia 30 tahun, segala kebikan besertamu. Kamu legenda bagi kami.



Dari penggemarmu  : Claudia Liberani Randungan.

Sunday, December 28, 2014

Beku

Tak mengapa kau jadi keras seperti ini. Membeku sajalah dan aku akan menjaga dinginmu. Memang tak mungkin untuk menggenggammu lagi, tapi setidaknya aku bisa melihatmu dalam diam.
Dalam pendar cahaya di sekitar hatimu yang beku.

This entry was posted in

Thursday, December 11, 2014

Sebuah tulisan untuk teman yang telah pergi

Teruntuk : J.F

Hai.. 
Apa kabar ?
Aku sedang duduk di sebuah cafe tepat di depan lapangan futsal tempat kita bertemu pertama kali.
Duduk sendirian, dengan laptop  dan segelas jus apple, bergelut dengan tugas akhir semester yang sangat padat. Ah aku duduk menghadap jalan dan tepat berhadapan dengan lapangan futsal itu.
Waktu sangat cepat berlalu. Tidak terasa semester tiga akan  berakhir, tahun 2014 akan terlewati. Banyak hal yang akan segera menjadi kenangan dan salah satunya kamu. Entah kenapa hari ini aku memikirkanmu. Bukan karena aku datang ke tempat ini, bukan. Karena ini bukan kali pertamanya aku datang sejak kepergianmu. Mungkin hari ini aku memang harus menulis sesuatu untukmu, ya mungkin begitu.
Aku sering galau akhir-akhir ini, kamu tahu urusan perasaan memang sangat berat. Aku sering pergi mengendarai motor tanpa tujuan yang jelas, aku juga sering melamun di kelas. Aku sering merasa sendiri, aku sering merasa sedih,dan kadang menangis begitu saja. Dan setiap malam, setiap pulang kuliah aku melewati tempat itu, tempat terakhirmu. Dan aku segera sadar setelah melaluinya, maksudku setidaknya keadaanku lebih baik karena sampai saat ini aku masih bisa berada di tengah-tengah keluargaku. Kamu selalu mengingatkanku untuk bersyukur. 
Nah aku tahu sekarang kenapa harus menulis sesuatu untukmu, aku harus menulisnya untuk berterimakasih. Terimakasih karena kamu selalu mengingatkanku bahwa aku sangat beruntung masih bisa berada di dunia ini.
Aku sangat terkejut sewaktu mendengar kabar kepergianmu, padahal kita belum berjumpa sejak itu. Sejak kamu menyapaku di gereja dan tidak kubalas, aku sangat menyesal. Maaf. Maaf juga karena tidak datang di hari pemakamanmu tapi percayalah aku mendoakanmu. Dan sekali lagi terimakasih pernah bertemu dan berkenalan, terimakasih kita pernah menjadi teman. Setiap hari yang berlalu akan menjadi kenangan untuk hari esoknya, dan hari-hari berlalu tanpa terasa. Dan tempat itu, tempat yang ada di hadapanku saat ini akan menjadi tempat kenangan, di sanalah untuk pertama kalinya kita bertemu. Dan sekarang tak terasa kau telah pergi, dan kita tetap teman selamanya.