Friday, October 24, 2014

Pontianak 243

23 Oktober merupakan hari jadi kota Pontianak. Kota ini dikenal sebagai Kota Khatulistiwa karena dilalui garis lintang nol derajat bumi. Kota Pontianak didirikan oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie pada hari Rabu, 23 Oktober 1771 (14 Rajab 1185 H) yang ditandai dengan membuka hutan di persimpangan Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Kapuas Besar untuk mendirikan balai dan rumah sebagai tempat tinggal. Pada tahun 1778 (1192 H), Syarif Abdurrahman dikukuhkan menjadi Sultan Pontianak. Letak pusat pemerintahan ditandai dengan berdirinya Masjid Jami' (kini bernama Masjid Sultan Syarif Abdurrahman) dan Istana Kadariah yang sekarang terletak di Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur. 
Nama Pontianak yang berasal dari Bahasa Melayu ini dipercaya ada kaitannya dengan kisah  Syarif Abdurrahman yang sering diganggu oleh hantu kuntilanak ketika beliau menyusuri Sungai Kapuas. Menurut ceritanya, Syarif Abdurrahman terpaksa melepaskan tembakan meriam untuk mengusir hantu itu sekaligus menandakan di mana meriam itu jatuh, maka di sanalah wilayah kesultanannya didirikan.Terlepas dari benar tidaknya nama Pontianak berhubungan dengan kuntilanak hal ini sudah dipercaya turun temurun.
Saya sendiri tidak berasal dari kota ini.780 kilometer dari daerah tempat saya berasal, Putussibau. Dengan alasan melanjutkan pendidikan, saya tinggal di kota ini sejak setahun yang lalu, menempuh pendidikan di salah satu universitas negeri yang menjadi maskot kota Pontianak. 
Kota ini jelas mempunyai bagian tersendiri dalam hati saya, menjadi tempat menumpang beberapa tahun dan pasti akan tetap saya kenang. Di sinilah saya sedikit merasakan bagaimana menjadi perantau, meskipun tidak sepenuhnya merantau karena keluarga saya banyak yang sudah menetap di sini. Di sinilah saya bertemu dengan teman-teman saya, menemukan mereka dalam keadaan yang sama. Sama-sama menumpang untuk melanjutkan pendidikan. Kemudian melakukan hal-hal konyol seperti mencoba bekerja paruh waktu dan hanya bertahan beberapa hari. Di sinilah saya bertemu orang-orang yang sebelumnya buku dan filmnya hanya bisa saya baca dan lihat. Bertemu teman-teman yang mempunyai satu hobby. Menyenangkan.
Menemui keramaian setiap harinya, jalanan yang sesak oleh kendaraan, debu-asap-udara yang pengap. Mendapati tukang koran pada setiap perempatan lampu merah. Anak-anak kecil yang mengamen di korem setiap malamnya. Pengemis di tepi jalan di depan pasar Sudirman. Dodol lidah buaya, bingke cokelat, dan sotong pangkong yang menjadi andalan untuk oleh-oleh ketika ada teman dari luar pulau. Es krim petrus, nasi goreng ayong, ayam penyet bu Nina, bakso 21, sate babe tanah abang dan deretan nama tempat yang kami kunjungi untuk mengisi perut sepulang kuliah, percikan air mancur di bundaran depan Universitas Tanjungpura, sampai rusuhnya tawuran antar fakultas di kampus. Semuanya terbingkai di kota ini, tertata apik di sini, di hati. 
Dan malam ini, dentuman meriam karbit disusul kembang api menyemarakkan ulang tahun kota Pontianak yang ke 243 tahun. Sejak tadi pagi beredar berbagai pesan dan gambar sebagai ucapan ulang tahun untuk kota khatulistiwa di media sosial dengan hastag #PTK243. Diskon diberbagai tempat komersial, berbagai perlombaan dihelat untuk perayaan hari jadi kota ekuator. Selamat ulang tahun kota Pontianak. Semoga semakin jaya, semakin berkembang dengan merata. Tetap maju, tetap bersatu.

Tuesday, October 21, 2014

Generasi yang sadar.

Mengikuti perkembangan anak-anak adalah hal yang istimewa. Menyenangkan sekali. Saya mempunyai keponakan kecil. Ini adalah tahun pertamanya duduk di sekolah formal, Taman Kanak-kanak. Banyak perubahan yang terjadi padanya semenjak mengikuti sekolah formal. Terutama kemampuan akademiknya yang berkembang sangat baik. Dan rasanya seperti keajaiban saat saya bisa mendengarkannya membaca sebuah dongeng. Rasanya bahagia saat melihat si kecil yang biasanya hanya bisa mendengarkan cerita yang dibacakan atau mewarnai gambar jadi kini bisa membaca sendiri. Saya seperti kembali ke masa kecil. Menyaksikan tangan kecilnya menulis huruf dan menjelma menjadi kalimat. Dan nampaknya telah menjadi kewajaran bahwa semasa kecil kita sangat senang menuliskan kalimat-kalimat lucu. Bahkan kadang kalimat-kalimat menyebalkan seperti Andi-cinta-Mia. Hahaha saya ingat pernah membuat kakak menangis karena menuliskan kalimat itu berbaris-baris.
Anak kecil ibaratkan sebuah kertas putih. Jadi apa isinya nanti tergantung pada apa gang dituliskan di dalamnya. Dan ini yang membuat saya sangat sadar pentingnya mengajari anak kecil dengan kebiasaan  baik. Salah satunya adalah memberi kesempatan belajar baik di sekolah formal maupun di rumah. Mengajari anak menulis dan membaca misalnya. Karena saya sangat sadar kemajuan alat komunikasi zaman ini telah memanjakan generasi muda, anak kecil utamanya. Saya sangat prihatin saat mengetahui adik teman saya sudah pandai membaca tetapi tidak pandai menulis. Bagaimana bisa ? karena dia belajar membaca melalui media elektronik. Dia membaca huruf-huruf digadgetnya tanpa pernah mencoba menulis huruf-huruf itu sendiri. Sehingga di kelas dia sangat kesusahan menulis. Dan ini terdengar tidak lucu. Seharusnya, pada umumnya. Anak-anak diajarkan menulis terlebih dahulu baru kemudian belajar membaca. Dan hal yang sangat memprihatinkan saat menemui generasi penerus bangsa kita terlalu dimanjakan oleh canggihnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu kita sebagai -Generasi yang sadar- mempunyai tanggung jawab untuk mengajarkan hal-hal baik bagi generasi penerus kita. Salah satunya tidak membuat mereka menjadi malas menulis.
This entry was posted in

Monday, October 20, 2014

Selamat bekerja Jokowi-JK

20 Oktober 2014. ini adalah hari bersejarah untuk rakyat Indonesia dan negara ini. secara resmi Joko widodo dan Jusuf Kalla dilantik sebagai presiden dan wakil presiden Indonesia.
euforia masyarakat pendukung pasangan Jokowi-JK sangat tinggi, kompak dan membuat rakyat Indonesia terperangah. Penyambutan yang sangat luar biasa. hari ini adalah pesta rakyat untuk menyambut presiden dan wakil presiden baru. Rakyat Indonesia memperlakukan Jokowi-JK dengan istimewa. sangat istimewa. arak-arakan dan pemotongan tumpeng di berbagai daerah. ini luar biasa.
Saya juga tidak tahu apa yang mengilhami saya untuk menulis tentang pelantikan  Jokowi-JK. Saya bahkan tidak memilih siapapun pada pemilu yang lalu. hanya saja saya tidak ingin lupa bahwa hari ini rakyat Indonesia sedang mengeluk-elukkan presiden dan wakil presiden yang baru, sedang membuat perbandingan antara Jokowi-JK dan SBY-Boediono, sedang mengukur siapa yang lebih baik, sedang menggantungkan harapan bahwa kepemimpinan presiden kali ini lebih baik dari presiden yang lalu. saya tidak ingin lupa bahwa janji-janji Jokowi-JK sangat mulia sehingga menarik simpati masyarakat. Lima tahun akan kita jalani dengan kepemimpinan yang baru, dan dalam kurun waktu lima tahun saya pasti sudah selesai kuliah.Hanya satu harapan saya  pada presiden dan wakil presiden yang baru, semoga lapangan pekerjaan di Indonesia bisa tersedia sesuai dengan jumlah tenaga kerja. sehingga tidak ada lagi pengangguran dan keterpaksaan untuk menjadi TKI, sehingga nanti, beberapa tahun kemudian setelah kepemipinan Jokowi-JK berjalan dan saya membaca ulang tulisan ini, saya bukan lagi seorang Claudia Liberani yang pengangguran. Saya akan mendapatkan pekerjaan karena lapangan pekerjaan terbuka dengan luasnya, mampu menampung sarjana-sarjana yang ada di negara Ini. Saya berharap keadaan negara kita lebih baik di tangan Jokowi-JK. Kesejahteraan kalangan bawah dapat meningkat karena pemimpinnya memang orang yang peduli pada nasib rakyat bawah. Tidak ada kesenjangan sosial lagi karena perekonomian di negara kita sudah membaik. Semoga demikian. Selamat bekerja Jokowi-JK.
This entry was posted in