Friday, August 01, 2014

Dermagamu.

Akulah dermaga tempatmu akan kembali suatu saat nanti. Aku menunggumu di sini, masih menunggumu  meski kau tak kunjung kembali. Aku akan tetap di sini, berada di sini hanya untuk mendapati kau, kapal miliknya yang pernah berlabuh di sini untuk datang.
Aku mungkin tak sekokoh yang dulu, terlalu banyak hujan dan panas akhir-akhir ini. Tapi percayalah aku masih kuat untuk mencengkeram tongkang-tongkang besi itu. Aku masih luas untuk tempatmu terlentang, menangis, berteriak, marah. Aku masih sama, selalu memeluk laramu, menghapus pedihmu. Karena akulah dermagamu. Aku masih sama, kau pasti bisa merasakannya. Kau pasti bisa merasakan betapa sunyinya aku, dermagamu. Kau pasti bisa merasakan sakitnya terabaikan dan terlupakan, pasti bisa karena itulah kau saat pertama datang padaku. Kau pernah terluka karena terlalu laju berlayar dan sekarang aku merasakan luka karena terlalu jauh terpisah. Terpisah darimu, dari dirimu yang menjadi kepunyaannya tapi pernah singgah padaku sekedar untuk beristirahat. 
Dan sekarang aku sadar, kita adalah sebuah kebetulan yang kita percayai sebagai kebetulan yang indah. Karena itulah aku masih tetap setia menjadi dermagamu, tetap kokoh di tepian pantai untuk menunggumu kembali, mungkin kau tak berlabuh lagi padaku, tapi aku tahu, suatu saat kau akan kembali. Mungkin hanya untuk beristirahat lagi. atau kebetulan baiknya lagi kau akan berhenti. meskipun berhenti karena lelah, bukan karena merindukanku, tak mengapa karena aku ini lah dermagamu. Datanglah, pulanglah, aku masih di sini

.
Akulah dermagamu, tempatmu kembali suatu saat nanti. pulanglah, kembalilah, aku masih di sini.

This entry was posted in