Monday, June 02, 2014

Yang tertinggal

Hanya bayangan kita yang tertinggal. Menari-nari di pelupuk mataku, menarikku untuk masuk ke dalam memori silam saat kita masih bahagia di masa kecil. Kita menari dengan rok bermotif bunga warna-warni, meloncat lincah dengan ballon dalam genggaman kita. Bayangan saat kita mandi bersama, saling menanyakan bentuk tubuh seperti apa yang kita inginkan saat dewasa nanti. Saat kau dengan jengkelnya mengajariku menghafalkan doa Bapa Kami, mengajariku mengepang rambut tapi kemudian merajuk karena aku tak pernah pandai. Aku tak pernah pandai menyisir rambut barbie sepertimu, menggantikan baju pesta yang mereka kenakan dengan baju lucu untuk mereka tidur, aku tak pernah tertarik untuk mengobrol dengan boneka-boneka berbulu mata tebal itu. Yang aku ingat ketika kau sibuk bermain dengan boneka-bonekamu, aku sedang asik mencetak tanah di bawah kolong rumah kita, bermain becek dengan teman-temanku yang mengenakan baju Panji pahlawan milenium 2000 yang bersayap di belakangnya. Baju yang selalu aku ingini namun tak pernah ibu belikan dengan alasan baju itu untuk anak laki-laki. Dan aku.. aku selalu dengan riangnya bermain kejar-kejaran mengenakan rok. Lucu. Aku lebih tertarik bermain pipit ketika kau tidur siang. Aku lebih terhibur dengan membaca buku saat kau senang dengan sajian sinetron-sinetron di televisi. sampai kita beranjak dewasa terlalu banyak perbedaan yang kita miliki. Dan kita masih belum menyadarinya, kita masih hidup di satu rumah tapi dengan pikiran yang jauh berbeda, bahkan saat ini pikiran kita semakin bertolak belakang. Kita semakin berbeda, dan semakin jauh. Sampai akhirnya aku menyadari bahwa aku tidak bisa mengerti sifatmu, dan kau tidak mengerti sifatku. Kita pun semakin berjauhan, kita jarang berkomunikasi layaknya adik-kakak, bahkan kita tidak mengerti cara untuk berkomunikasi satu sama lain. Ah aku hanya berhenti di satu kesimpulan, aku memang tidak pernah mengerti pola pikirmu kak, kita berbeda dan aku sudah lelah mengalah. Aku lelah memaklumimu. Aku lelah berpura-pura akur di depan ayah dan ibu. Aku lelah dengan kebersamaan kita ini. Dan sekali lagi. Aku lelah. Aku sadari satu-satunya kesamaan yang kita punya adalah kita sama-sama punya kenangan di masa kecil, kita sama-sama berpikir bahwa kenangan itu satu-satunya hal yang masih tertinggal. Hanya itu, aku tau hanya itu kak. Dan aku harap kenangan itu masih kau perkenankan singgah dipikiranmu walau hanya sebentar, agar kau tau bahwa kita pernah bahagia bersama, agar kau ingat kita pernah berjalan searah sewaktu kita masih kecil, waktu egois di diri kita masih belum menjelma menjadi sahabat untuk mengisi perpisahan 8 tahun yang kita alami karena keputusan ayah dan ibu.