Wednesday, June 04, 2014

Buku..



Sedikit berbicara tentang makna buku bagiku. walaupun sebenarnya hari ini bukan hari yang menarik untuk dituliskan dan diceritakan karena aku sedang dalam mood yang berantakan. Hari ini aku seharian di rumah, di dalam rumah. Benar-benar tidak keluar apalagi merasakan panasnya matahari. Hari libur dan uangku hampir habis. Hari yang sempurna. Sempurna untuk penderitaanku. Aku baru saja berpikir bahwa aku bisa mati terbunuh di kamar ini, terbunuh rasa bosan. Tapi ternyata sampai tanggal 30 berlalu aku masih hidup. Hahaha. Perasaan baru tadi sore aku duduk di kursi favorite ku ini. membaca blog, berkomen, dan mengkhayal mengenakan dress rancangan Sheri Hill untuk ke gereja besok sore. Sekarang sudah pukul 02.00 dini hari. Tanggal 31 sudah tiba. Apa planingku hari ini ? tentu saja bukan pergi ke gramedia, uangku hampir habis. Aku pasti tidak bisa menahan hasrat untuk membeli novel baru ketika sampai di sana, aku harus menghindari toko buku ketika uangku menipis. Bagi kebanyakan anak perempuan, dress atau sepatu dan neckle jelas lebih menarik dari buku, ini bisa kubuktikan ketika pergi ke mall bersama teman-teman kampus maupun kakak-kakakku. Aku berani taruhan, mereka pasti mengurangi uang untuk keperluan kuliahnya supaya bisa membeli satu dress, atau sepatu, atau tas, atau kalung, gelang, ah apapun itu yang berhubungan dengan “girl”. Dibandingkan dengan aku, aku lebih mampu menahan keinginan untuk membeli dress baru, sepatu, tas, ataupun kalung. Meskipun diskon besar, biasanya keinginanku untuk memiliki benda-benda itu hanya bertahan sampai 15 menit. Kemudian aku akan berpikir bahwa benda-benda itu tidak aku gunakan nantinya, tidak aku perlukan, buang-buang uang saja. Tapi ketika dihadapkan pada toko buku, aaah aku ingin memiliki semuanya, semua buku di toko itu. Mulai dari dongeng anak, komik, majalah, novel, buku-buku inspiratif, buku tentang filsafat hukum, politik, tutorial perawatan wajah, kumpulan resep membuat puding, aneka jus, sampai panduan untuk menjadi ahli pialang. Aku ingin buku-buku itu ku miliki. Semuanya. Aku pernah menghabiskan jatah uang jajan bulananku untuk membeli buku, dan konsekuensinya selama sebulan tidak ada acara menonton bioskop, makan ramen di Oishii, nasi goreng chalicious, dan hang out bareng teman-teman. Aku rela tidak memiliki barang baru demi memiliki buku-buku yang sekarang sudah menumpuk di kamar. Sebagian sudah usang karena sering aku baca berulang kali, sebagian lagi usang karena terlipat-lipat saat aku tertidur, ada juga yang masih terlihat baru karena belum selesai aku baca, bahkan ada yang belum dikeluarkan dari segelnya. Sengaja tidak aku keluarkan karena aku menjadikannya sebagai koleksianku, rasanya sayang jika bukunya dikeluarkan dari segel, dibaca lalu terlihat kusam. Aku lebih memilih membaca buku temanku, meminjamnya dari pada harus membuka buku koleksianku. Aku jatuh cinta pada buku. ya benar, buku adalah teman yang paling setia bagiku. Lebih setia dari siapapun di kampus bahkan di kontrakan. Buku selalu menemaniku, saat di kamar, dapur, wc, kelas, ketika menunggu cucian motor selesai, saat menunggu antrian di bank, menunggu jemputan kakak di kantin, menunggu teteh Erfy di depan kelas, bahkan saat berpergian jauh aku selalu membaca ketika bosan. Jika Salman Aristo menyebut film sebagai cinta pertamanya, maka aku menyebut buku adalah cinta pertamaku. Aku mengenal buku sejak kecil, sejak usia lima tahun aku sudah gemar membaca dan aku terperangkap di dunia buku. aku selalu menyukai buku lebih dari apapun.