Sunday, June 15, 2014

Entah

Memang tak ada yang bisa menjamin perasaan ini bisa bertahan lama. Tapi kenyataannya bahwa aku sangat senang dengan hubungan kita. Aku bahagia di dekatmu.
Katamu sebelum benar-benar memutuskan untuk bersama kita harus mengenal satu sama lain. Kamu benar, tapi satu hal yang aku takutkan..
Aku tak ingin kehilanganmu saat aku belum mengenalimu, karena aku sangat tau kepribadianku. Aku ini mudah bosan.

Friday, June 13, 2014

Jatuh cinta mode on.

"Setahuku cinta itu random
 Tak tahu kapan datang dan dengan siapa
 Buktinya indah ini datang
 Dengan tiba-tiba dan dia orangnya"
(The Nellwans : Marmut Merah Jambu)
.
.
.
Lirik lagu ini memang bagian yang paling ngena untuk perasaanku saat ini. Ah kenapa jatuh cinta selalu datang tiba-tiba dan pada orang yang tak terduga :')

Thursday, June 05, 2014

Untuknya, lelaki yang paling kusayangi



Ku raih lagi rosario ini, untuk kesekian kalinya di hari yang sama. Dan kali ini aku bernovena untuk seorang lelaki yang sangat ku cintai. Seorang lelaki yang karenanya aku memilih bertahan di sini, di kota ini untuk kuliah. Aku berdoa untuk segala kebaikannya selama ini, ketulusannya mencintai dan menyayangiku, keikhlasannya untuk berkorban, kegigihannya untuk berjuang; memperjuangkan cita-cita kami. Aku ingin dia tetap bahagia, tetap riang melewati hari-harinya. Segala yang baik selalu menyertai tiap langkahnya, usahanya, dan kerja kerasnya.
            Teruntukmu yang malam ini kuistimewakan melebihi keistimewaanmu dihari-hari biasa, aku ingin mengucapkan maaf untuk semua yang telah aku perbuat. Maaf untuk perbuatan-perbuatan burukku yang melukaimu, mengecewakanmu. Maaf untuk semua tingkah lakuku yang kadang membuatmu merasa diabaikan. Ketahuilah sesungguhnya aku tidak pernah bermaksud membuatmu sedih. Aku mencintaimu, sangat amat mencintaimu. Aku tidak bermaksud mengabaikan panggilanmu dengan sengaja ketika kamu menelfon, atau hanya membaca pesanmu tanpa membalasnya ketika aku sedang mengantuk, maaf.. karena itu seringkali komunikasi kita tidak nyaman, maaf karena sifatku yang buruk itu seringkali kita beradu pendapat. Maaf untuk semua yang membuatmu sedih sayang, maafkan.
            Dan untuk kesekian kalinya aku tegaskan, kamu adalah lelaki yang paling aku sayangi, lelaki yang paling aku banggakan, andalkan, kamu tetap yang terhebat, selalu yang terhebat. Aku menulis ini dengan perasaan sedih karena tak bisa bersama-sama denganmu. Maaf aku tidak bisa mengucapkan selamat ulang tahun secara langsung kepadamu. Selamat ulang tahun pak, semoga semakin tegar dalam menjalani hidup ini, tambah bijaksana sebagai pemimpin di keluarga kita, Tuhan pasti melindungi dan memberi kesehatan untuk bapak, segala rezeki dan usaha bapak dilancarkan. Selamat berusia 48 tahun, Tuhan melindungi kita. Amin.

Wednesday, June 04, 2014

Buku..



Sedikit berbicara tentang makna buku bagiku. walaupun sebenarnya hari ini bukan hari yang menarik untuk dituliskan dan diceritakan karena aku sedang dalam mood yang berantakan. Hari ini aku seharian di rumah, di dalam rumah. Benar-benar tidak keluar apalagi merasakan panasnya matahari. Hari libur dan uangku hampir habis. Hari yang sempurna. Sempurna untuk penderitaanku. Aku baru saja berpikir bahwa aku bisa mati terbunuh di kamar ini, terbunuh rasa bosan. Tapi ternyata sampai tanggal 30 berlalu aku masih hidup. Hahaha. Perasaan baru tadi sore aku duduk di kursi favorite ku ini. membaca blog, berkomen, dan mengkhayal mengenakan dress rancangan Sheri Hill untuk ke gereja besok sore. Sekarang sudah pukul 02.00 dini hari. Tanggal 31 sudah tiba. Apa planingku hari ini ? tentu saja bukan pergi ke gramedia, uangku hampir habis. Aku pasti tidak bisa menahan hasrat untuk membeli novel baru ketika sampai di sana, aku harus menghindari toko buku ketika uangku menipis. Bagi kebanyakan anak perempuan, dress atau sepatu dan neckle jelas lebih menarik dari buku, ini bisa kubuktikan ketika pergi ke mall bersama teman-teman kampus maupun kakak-kakakku. Aku berani taruhan, mereka pasti mengurangi uang untuk keperluan kuliahnya supaya bisa membeli satu dress, atau sepatu, atau tas, atau kalung, gelang, ah apapun itu yang berhubungan dengan “girl”. Dibandingkan dengan aku, aku lebih mampu menahan keinginan untuk membeli dress baru, sepatu, tas, ataupun kalung. Meskipun diskon besar, biasanya keinginanku untuk memiliki benda-benda itu hanya bertahan sampai 15 menit. Kemudian aku akan berpikir bahwa benda-benda itu tidak aku gunakan nantinya, tidak aku perlukan, buang-buang uang saja. Tapi ketika dihadapkan pada toko buku, aaah aku ingin memiliki semuanya, semua buku di toko itu. Mulai dari dongeng anak, komik, majalah, novel, buku-buku inspiratif, buku tentang filsafat hukum, politik, tutorial perawatan wajah, kumpulan resep membuat puding, aneka jus, sampai panduan untuk menjadi ahli pialang. Aku ingin buku-buku itu ku miliki. Semuanya. Aku pernah menghabiskan jatah uang jajan bulananku untuk membeli buku, dan konsekuensinya selama sebulan tidak ada acara menonton bioskop, makan ramen di Oishii, nasi goreng chalicious, dan hang out bareng teman-teman. Aku rela tidak memiliki barang baru demi memiliki buku-buku yang sekarang sudah menumpuk di kamar. Sebagian sudah usang karena sering aku baca berulang kali, sebagian lagi usang karena terlipat-lipat saat aku tertidur, ada juga yang masih terlihat baru karena belum selesai aku baca, bahkan ada yang belum dikeluarkan dari segelnya. Sengaja tidak aku keluarkan karena aku menjadikannya sebagai koleksianku, rasanya sayang jika bukunya dikeluarkan dari segel, dibaca lalu terlihat kusam. Aku lebih memilih membaca buku temanku, meminjamnya dari pada harus membuka buku koleksianku. Aku jatuh cinta pada buku. ya benar, buku adalah teman yang paling setia bagiku. Lebih setia dari siapapun di kampus bahkan di kontrakan. Buku selalu menemaniku, saat di kamar, dapur, wc, kelas, ketika menunggu cucian motor selesai, saat menunggu antrian di bank, menunggu jemputan kakak di kantin, menunggu teteh Erfy di depan kelas, bahkan saat berpergian jauh aku selalu membaca ketika bosan. Jika Salman Aristo menyebut film sebagai cinta pertamanya, maka aku menyebut buku adalah cinta pertamaku. Aku mengenal buku sejak kecil, sejak usia lima tahun aku sudah gemar membaca dan aku terperangkap di dunia buku. aku selalu menyukai buku lebih dari apapun.

Monday, June 02, 2014

Yang tertinggal

Hanya bayangan kita yang tertinggal. Menari-nari di pelupuk mataku, menarikku untuk masuk ke dalam memori silam saat kita masih bahagia di masa kecil. Kita menari dengan rok bermotif bunga warna-warni, meloncat lincah dengan ballon dalam genggaman kita. Bayangan saat kita mandi bersama, saling menanyakan bentuk tubuh seperti apa yang kita inginkan saat dewasa nanti. Saat kau dengan jengkelnya mengajariku menghafalkan doa Bapa Kami, mengajariku mengepang rambut tapi kemudian merajuk karena aku tak pernah pandai. Aku tak pernah pandai menyisir rambut barbie sepertimu, menggantikan baju pesta yang mereka kenakan dengan baju lucu untuk mereka tidur, aku tak pernah tertarik untuk mengobrol dengan boneka-boneka berbulu mata tebal itu. Yang aku ingat ketika kau sibuk bermain dengan boneka-bonekamu, aku sedang asik mencetak tanah di bawah kolong rumah kita, bermain becek dengan teman-temanku yang mengenakan baju Panji pahlawan milenium 2000 yang bersayap di belakangnya. Baju yang selalu aku ingini namun tak pernah ibu belikan dengan alasan baju itu untuk anak laki-laki. Dan aku.. aku selalu dengan riangnya bermain kejar-kejaran mengenakan rok. Lucu. Aku lebih tertarik bermain pipit ketika kau tidur siang. Aku lebih terhibur dengan membaca buku saat kau senang dengan sajian sinetron-sinetron di televisi. sampai kita beranjak dewasa terlalu banyak perbedaan yang kita miliki. Dan kita masih belum menyadarinya, kita masih hidup di satu rumah tapi dengan pikiran yang jauh berbeda, bahkan saat ini pikiran kita semakin bertolak belakang. Kita semakin berbeda, dan semakin jauh. Sampai akhirnya aku menyadari bahwa aku tidak bisa mengerti sifatmu, dan kau tidak mengerti sifatku. Kita pun semakin berjauhan, kita jarang berkomunikasi layaknya adik-kakak, bahkan kita tidak mengerti cara untuk berkomunikasi satu sama lain. Ah aku hanya berhenti di satu kesimpulan, aku memang tidak pernah mengerti pola pikirmu kak, kita berbeda dan aku sudah lelah mengalah. Aku lelah memaklumimu. Aku lelah berpura-pura akur di depan ayah dan ibu. Aku lelah dengan kebersamaan kita ini. Dan sekali lagi. Aku lelah. Aku sadari satu-satunya kesamaan yang kita punya adalah kita sama-sama punya kenangan di masa kecil, kita sama-sama berpikir bahwa kenangan itu satu-satunya hal yang masih tertinggal. Hanya itu, aku tau hanya itu kak. Dan aku harap kenangan itu masih kau perkenankan singgah dipikiranmu walau hanya sebentar, agar kau tau bahwa kita pernah bahagia bersama, agar kau ingat kita pernah berjalan searah sewaktu kita masih kecil, waktu egois di diri kita masih belum menjelma menjadi sahabat untuk mengisi perpisahan 8 tahun yang kita alami karena keputusan ayah dan ibu.

Sunday, June 01, 2014

Tentang yang Tegar

Tegar, sebuah kata yang menunjukkan kekuatan yang terletak dari dalam hati seseorang. Lebih dari kuat, hampir sama dengan kemampuan untuk merelakan sekalipun hal itu masih sangat diinginkan untuk bertahan. Tegar   adalah kesiapan untuk kehilangan atau bahkan dihilangkan. Ntah bagaimana tegar menurut kalian. Itu hanya sedikit makna tegar yang bisa aku ungkapkan dengan pikiran sempitku, makna tegar yang aku dapatkan setelah menjalani hidup bersama orang yang tetap bahagia meskipun dihianati, dilupakan, diabaikan, dibuang. Tegar yang aku maknai sebagai kekuatan untuk menerima kenyataan sekalipun tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Tegar itu tetap bertahan meskipun keadaan sudah sangat menyakitkan, tegar itu tetap berdiri sekalipun lutut-lututmu bergetar hampir tak mampu menopang tubuhmu. Tegar adalah tetap berjalan sekalipun puluhan kali harus tersandung, tegar itu lebih dari tidak mudah putus asa; tidak mudah pantang menyerah. Tegar berarti tetap bahagia dalam kedukaan, tegar adalah tetap senang meskipun berpura-pura. Tegar itu menerima kesedihan dengan senyum mengembang tapi ada kekecewaan di pelupuk matanya, tegar dengan menutupi kesedihan, tegar dengan tetap bahagia meskipun masalah menunggu hampir di setiap ruas jalan yang di lalui di lorong yang dinamakan kehidupan. Tegar itu Ibu. Orang yang mampu menyembunyikan tangis dan laranya dari kami puteri-puteri yang disebutnya "harta paling berharga".