Tuesday, February 05, 2019

Membaca Saga no Gabai Bachan (Nenek Hebat dari Saga) Membaca Kenangan Bersama Nenek




Ulasan Buku Saga no Gabai Bachan / Nenek Hebat dari Saga


Buku ini adalah karya Yoshichi Shimada, ditulis berdasarkan kisah nyata yang dialaminya ketika masih kecil. Di buku penulisnya juga menggunakan nama kecilnyam bukan nama Yoshichi. Kamu yang tertarik dengan cerita-cerita berlatar Perang Dunia II pasti tertarik membaca buku ini. Karena cerita ini dimulai ketika Hiroshima luluh-lantak oleh bom, Yoshici Shimada yang masih kecil kemudian dipindahkan ke kampung neneknya agar aman sementara ibunya harus bekerja di Tokyo.


Jadilah Yoshici kecil hidup berdua dengan neneknya yang sangat sederhana (mau nulis miskin tapi nanti ngggak sopan). Kalau dilihat dari luar, kehidupan neneknya ini amat sangat kekurangan. Tapi di dalam dirinya dia adalah pribadi yang kaya, isi kepalanya juga kaya. Neneknya yang penganut Budha memilih cara hidup sederhana.

Dia melepas semua rasa memiliki terhadap benda, jadi orangnya jarang merasa sedih, dia selalu ceria dan bergembira karena tahu apa yang dia butuhkan. Tapi cara hidup seperti ini tentu harus dibarengi dengan akal yang banyak. Cara hidup tanpa kepastian seperti sang nenek membuatnya harus memiliki banyak strategi untuk mengatasi semua kemungkinan buruk yang akan terjadi.

Di dalam buku, cara-cara hidup sederhana sang nenek inilah yang diceritakan penulis. Kisah lainnya berupa cerita tentang kenangan berkesan bersama sahabt kecil dan beberapa guru. Cerita-cerita ringan nan sederhana yang disampaikan dengan jenaka tapi mampu membuat mata berkaca-kaca. Buku ini sangat indah menurut saya.

Yoshici kecil yang harus berpisah dengan ibunya dan menjalani hidup miskin, tumbuh dengan keterbatasan tapi selalu bisa tertawa karena sang nenek yang mampu memberikan semangat baik padanya. Tapi ketika musim dingin tiba hidup mereka jauh lebih keras, dan saya sedih membayangkannya.

Tapi karena penulis merupakan seorang komedian, kisah-kisah sedih pun bisa disampaikan dengan ringan. Seperti Etgar Keret ketika menulis The Seven Good Years, meski situasi di Israel membuat pilu dia mampu menuliskannya dengan ringan dan jenaka.

Pesan yang ingin disampaikan buku Nenek Hebat dari Saga jelas adalah menjalani hidup dengan sederhana, membuatnya berarti dan bermanfaat karena kita hanya hidup satu kali. Tapi tentu saja tidak secara gamblang dijelaskan seperti itu, pesan-pesan ini terselip di antara cerita-cerita yang ditulis dengan baik. 

Kalau kamu sedang membutuhkan bacaan ringan tapi memiliki makna yang baik untuk spiritualmu, buku ini sangat direkomendasikan. Bahkan bagus sebagai bacaan untuk anak kecil karena kisahnya menghibur serta mendidik. Font yang digunakan juga sangat tepat untuk dibaca anak-anak.

Pengalaman Membaca Buku Saga Gabai no Bachan

Pengalaman membaca yang saya dapatkan juga beragam, saya sangat tidak suka kekerasan, saya tidak suka perang, itu menakutkan dan merugikan, terutama untuk anak kecil. Ketika membaca kisah ini, saya langsung bisa merasakan penderitaan anak-anak korban perang. Mereka harus berpisah dengan keluarga, hidup dengan keterbatasan, semua ini membentuk kondisi psikologis mereka bahkan membentuk peradaban di sebuah negara.

Gabai no Bachan juga mengajarkan saya untuk hidup jadi lebih sederhana, melepas keterikatan dengan benda-benda duniawi. Mencapai kebahagiaan dengan menyadari satu hal yang berarti; sesungguhnya apa tujuan saya hadir ke dunia. Saya ingin membawa kebahagiaan bagi lingkungan saya. Seperti sang nenek, meski dalam keterbatasan kita tetap bisa saling bantu. 

Cerita-cerita masa kecil penulis di desa Saga bersama sahabat dan para guru juga membuat saya jadi mengingat beberapa pengalaman di masa kecil. Saya pernah masuk asrama, sejak usia 8 tahun berpisah dengan orang tua, ada banyak orang-orang baik yang memberikan perhatian pada saya. Dan yang paling terasa ketika membaca buku ini adalah rasa rindu pada nenek.

Nenek dan saya memiliki banyak kenangan, ketika saya tinggal di asrama nyaris setiap hari minggu nenek menjenguk ke asrama. Membawa berbagai kebutuhan dasar saya, kadang dia berjalan kaki melewati tiga kampung, menempuh jarak yang lumayan jauh. Barang saya selalu lengkap dan kembali ke tempat semula bahkan jika ada senior yang memakainya, mereka tidak akan berani menghilangkan barang-barang saya karena takut diomeli nenek.

Nenek juga membantu saya membuat PR Ilmu Pengetahuan Sosial tentang nama-nama negara berkembang, dia membuatkan sarapan yang tidak begitu enak tapi selalu membuat kenyang. Dia mengantar saya ke gereja ketika saya menerima komuni pertama, dia juga mendongeng untuk saya ketika saya mencabuti ubannya, kami berpergian keluar kota bersama mengenakan motor tambang hingga bus. Banyak peristiwa penting yang saya lalui bersamanya. Jadi membaca buku Nenek Hebat dari Saga seperti membaca kenangan bersama nenek.

Quotes dari buku Nenek Hebat dari Saga

"Kebahagiaan itu bukanlah sesuatu yang ditentukan oleh uang. Kebahagiaan itu adalah sesuatu yang ditentukan oleh diri kita sendiri." - Nenek Hebat dari Saga

"Kebaikan sejati adalah kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui orang yang menerima kebaikan." - Nenek Hebat dari Saga.

Jadi siapaun kamu yang perlu bacaan ringan tapi menghibur yang sarat akan perenungan dan pesan kebaikan, buku ini bisa kamu jadikan pilihan. Kamu yang sedang belajar hidup sederhana, menyukai ajaran Budha atau sedang merindukan nenek, buku setebal 264 halaman ini bisa kamu baca.


Saturday, January 26, 2019

Cheran, Potret Masyarakat Adat yang Berdaulat dan Bahagia Tanpa Negara

source: itsgoingdown.org

Ketika berbicara tentang Cheran, kamu bebas menyusun imajinasimu seliar mungkin, karena perjuangan masyarakat di sana untuk mempertahankan hutan dari penebang bersenjata dan mengusir polisi serta politisi sangat heroik. 

Di tengah kontestasi politik yang memuakkan dan perasaan nyaris putus asa terhadap para negarawan, saya menemukan sebuah film dokumenter menarik. Judulnya Cherán, tierra para soñar (Cheran, Tanah Mimpi). Film dokumenter tentang Cheran, sebuah kota kecil di negara bagian Michoacan, Meksiko yang mandiri dan berdaulat.


Cheran ditinggali oleh masyarakat adat Purepecha. Ketika saya menyebut masyarakat adat jangan membayangkan masyarakat yang primitif ya. Kota kecil ini merupakan kota otonom yang tidak tergantung  pada peraturan negara, masyarakat Purepecha memiliki instrumen hukum sendiri dan sistem pemerintahan tradisional yang mereka jalankan. Ketika tingkat kejahatan terorganisir di Meksiko sangat masif, Cheran dengan sistem pemerintahannya berhasil membuktikan bahwa kemandirian masyarakat adat dan pilihan untuk menjadi otonom bisa menghapuskan tindak kejahatan terorganisir.

Tapi kedaulatan masyarakat Purepecha di Cheran tidak didapat begitu saja. Mereka harus berjuang keras melawan kartel, para penebang bersenjata hingga mengusir polisi dan politisi dari wilayah mereka. Para penebang berasal dari luar komunitas adat mereka.

Film dokumenter berdurasi kurang dari 60 menit ini berisi obrolan bersama beberapa tokoh pergerakan di Cheran yang menceritakan bagaimana perjuangan mereka melawan penebang liar bersenjata dan mengusir aparat pemerintah serta politisi hingga proses pemerintahan tradisional dijalankan. Film ini diproduksi oleh televisi lokal dengan foto-foto dari Juan Jose Estrada Serafin yang bisa memperlihatkan dengan jelas bagaimana kekacauan terlewati dan kebangkitan terjadi. 

Film dibuka dengan rekaman para Ronda Comunitaria yang sedang bertugas memeriksa mobil. Ronda Coumunitaria merupakan sebuah milisi yang mengganti peran aparat untuk menjaga pos pemeriksaan bersenjata di 3 jalan utama menuju pemukiman. Isinya tidak hanya laki-laki, tapi juga perempuan, semua orang yang terpanggil untuk menjaga kota.

Lalu dimunculkan narasi dari seorang tokoh perempuan yang menjadi narasumber, dia mengungkapkan bahwa kedamaian tidak bisa didapatkan dengan jalan perdamaian. Hanya orang-orang yang tinggal di daerah aman dan tidak sengsara yang percaya bahwa perubahan bisa terjadi dengan jalan damai. Pernyataan yang menunjukkan bahwa kedamaian yang tercipta di Cheran tidak didapat dengan mudah dan manis. Mereka harus berjuang dalam arti yang sebenar-benarnya; mengangkat senjata.

Tahun 2011 mereka melakukan perlawanan terhadap penebang liar yang mengancam kedamaian di kota,. Perlawanan ini dipimpin oleh kelompok perempuan, perlawanan yang menyebabkan suasana kota jadi mencekam. Semua orang turun ke jalan, baik laki-laki maupun perempuan, orang dewasa atau anak-anak. Mereka membawa senjata untuk melawan. Selama tiga bulan mereka tidak bisa berkomunikasi dengan pihak luar karena akses informasi diputuskan oleh aparat.


Tapi mereka tetap memilih bersatu, tidak ada yang mau meninggalkan kota. Di tengah kemelut itu mereka mencoba membentuk dewan masyarakat, organisasi ini setiap hari mendapat dukungan dari semua pihak lalu mereka secara bersama-sama sepakat untuk mengusir politisi dari kota dan memilih untuk menerapkan pemerintahan tradisional seperti yang nenek moyang mereka ajarkan.

Cheran tidak memiliki pemimpin, mereka hanya memiliki dewan komunitas yang dipilih dari anggota masyarakat. Mulanya ada enam komunitas, sekarang menjadi delapan. Pemilihan dilakukan bersama, dengan cara yang ditentukan bersama. Dewan komunitas tidak harus memiliki latar belakang pendidikan dan karir yang bagus, karena mereka yang tidak sekolah tapi memahami keadaan di Cheran pun memiliki kesempatan untuk mencalonkan diri. Jauh berbeda saat mereka memiliki partai politik.

Setelah menentukan dewan komunitas mereka pun mulai mengeluarkan aparat pemerintah dari kota karena selama ini pemerintah tidak pernah membantu mereka meski mereka sudah berkali-kali melapor dan meminta bantuan. Mereka memblokade jalan dan mengusir politisi karena partai politik hanya membuat mereka terpecah-pecah bahkan tidak akur dalam keluarga. 

Menonton film ini memberikan banyak energi positif untuk saya, semangat juang dari masyarakat adat di Cheran sangat luar biasa. Dengan menghadirkan tokoh-tokoh pergerakan secara langsung, baik dari kalangan muda maupun tua, saya dapat menangkap banyak pesan dan tentu saja ilmu dari pengalaman mereka. Bagaimana rakyat tidak bisa dikalahkan ketika bersatu.

Cheran, kota bahagia tanpa negara / Tirto.id


Hehe bagian inilah yang sulit; bersatu. Cheran bisa karena mereka merupakan komunitas adat, ada nilai-nilai warisan leluhur yang masih dipegang teguh. Bahwa manusia dan lingkungn adalah kesatuan, jadi ketika ada orang yang ingin merusak hutan maka mereka sepakat untuk melawan dan menyingkirkannya. Sebenarnya Indonesia juga memiliki komunitas-komunitas adat yang seperti ini, tapi kondisinya jelas berbeda.

Masyarakat di Cheran paham betul dengan masalah yang mereka hadapi, kesadaran harus timbul dari akar rumput. Mereka juga memahami dengan baik bagaimana ekonomi bekerja, sistem pemerintahan saat itu dan sistem pemerintahan tradisional yang mereka pilih. Memang, sebaik-baiknya senjata adalah pengetahuan itu sendiri. Karena dari pengetahuan timbul kesadaran lalu kesadaran itulah yang membuat laki-laki dan perempuan - tua dan muda di Cheran turun ke jalan membawa senjata untuk melawan perusak hutan dan pihak-pihak yang melanggar hak mereka.

Seperti yang narasumber ungkapkan, pemerintah menggunakan berbagai cara untuk menggusur masyarakat adat dari tanah mereka dan budaya mereka sendiri. Di Indonesia kita bisa perhatikan bagaimana negara mengeluarkan istrumen hukum dan kebijakan yang represif. Perlahan-lahan komunitas adat kehilangan tanahnya, sedikit demi sedikit identitas mereka dilucuti dan diberi label hingga dampak buruknya adalah masyarakat adat jadi malu mengakui identitasnya. 

Saya sepakat dengan pernyataan dari salah satu narasumber bahwa perempuan pribumi  rentan menjadi sasaran dari target penghapusan nilai-nilai budaya di lingkungan masyarakat adat. Ketika si ibu tidak lagi peduli pada nilai-nilai kehidupan yang dipegang teguh oleh komunitasnya maka anak-anaknya tidak akan mengenali budaya itu lagi.

Masyarakat di Cheran tahu bahwa perempuan pribumi membangun fondasi budaya masyarakat karena para ibulah yang menunjukkan cara hidup dan berpikir pada anak-anak. Perempuan memiliki peran besar dalam komunitas mereka, termasuk dalam pemberontakan di tahun 2011. Kalau perempuan pribumi tidak ada maka tidak ada lagi yang menyebarkan budaya pada anak, ini penting di komunitas Cheran karena budaya mereka sangat berkaitan dengan alam. Menjaga budaya berarti menjaga alam, ketika budaya hilang maka alam pun hilang, dan sebaliknya.


Kesadaran akan nilai budaya seperti ini yang patut dimiliki oleh anggota masyarakat adat. Tapi kenyataannya di Indonesia masih sedikit orang-orang yang mampu menyadari nilai budaya mana yang bersifat membangun atau tidak. Keadaan inilah yang menyebabkan adanya komunitas-komunitas tertentu yang bangga dengan nilai-nilai budaya yang destruktif. 

Karena itu, memimpikan kedaulatan masyarakat adat layaknya di Cheran bisa terjadi di negara kita masih jadi tantangan berat menurut saya. Masih jauh dan sulit. Tapi mengetahui ada tempat seperti Cheran di belahan dunia yang luas ini, rasanya bahagia. Memberikan berlipat-lipat semangat bagi saya pribadi agar tekun dengan karya-karya dan pelayanan yang saya lakukan karena saya juga berasal dari komunitas adat.

Tapi sejujurnya saya merasa bahwa masalah yang dialami masyarakat Cheran adalah masalah yang sedang dihadapi negara kita. Oleh sebab itu, untuk kamu yang sedang putus asa atau sedang membara melihat situasi politik dan ekonomi kita saat ini, saya sangat merekomendasikan film ini untuk ditonton. untuk mengunduh film bisa klik di sini ya.

Di bagian akhir film saya sempat termenung beberapa saat ketika membaca tulisan di dinding yang artinya kurang lebih "Kami bukan dari golongan kiri atau kanan". Satu kalimat yang layak direnungkan ketika kita sudah gerah dengan keadaan yang semakin hari semakin menekan kita dan kita menginginkan perubahan. 


Oh iya di bawah ini ada beberapa artikel tambahan untuk memperkaya informasi tentang Cheran, kalau kamu memiliki referensi dan informasi lain jangan sungkan membaginya di kolom komentar ya.


Artikel berbahasa Inggris dari BBC
Artikel berbahasa Inggris dari NBC News
Artikel berbahasa Indonesia dari Tirto
Artikel berbahasa Inggris dari the Guardian

Sunday, October 21, 2018

Catatan Perjalanan Rimba Terakhir (3) ; Menanam Benih Padi, Menanam Kehidupan

Masyarakat Dayak Seberuang di Dusun Silit sedang gotong royong menugal / Tim Rimba Terakhir

Hari sudah agak sore ketika saya dan teman-teman yang tergabung dalam tim Rimba Terakhir Silit berkunjung ke ladang seorang warga yang sedang mengadakan gotong royong menugal. Ladangnya tidak terlalu jauh dari perkampungan, bisa ditempuh dengan belasan menit berjalan kaki. Kedatangan kami disambut dengan hangat, teman-teman saya dipersilakan mengambil gambar, mengobrol dengan beberapa orang yang kami temui sedang istirahat. 

Sementara saya meminta ijin untuk ikut memasukan benih ke tanah yang telah ditugal. Meski tidak ikut sampai benih habis, saya merasa cukup puas bisa larut dalam suasana kebersamaan ini.  Setelah selesai menugal, semua warga kembali ke rumah masing-masing. Ada juga yang mampir ke rumah warga yang mengadakan gotong-royong, kami juga diminta untuk bergabung.

Di sana suasana kebersamaan terasa lebih erat. Kami duduk bersila membentuk lingkaran. Dengan cekatan mereka menyajikan makanan kecil. Makanan sederhana yang terasa spesial karena saya tahu makanan ini adalah makanan terbaik yang mereka buat untuk merayakan hari ini. Dalam tradisi masyarakat Dayak, jamuan harus selalu ada setelah gotong royong di ladang dilaksanakan. Selain sebagai bentuk terima kasih pada orang-orang yang telah membantu, ini adalah wujud syukur pada pemilik semesta yang telah memberi perlindungan.

Begitulah hari pertama kedatangan kami di Silit berlalu. Silit merupakan sebuah dusun yang terletak di Desa Nanga Pari, Kecamatan Sepauk, Sintang. Kami datang ketika tengkawang sedang berbunga, sementara warga Silit yang merupakan Suku Dayak Seberuang sedang memasuki masa menugal di ladang. 

Kami beruntung karena bisa menyaksikan langsung proses berladang tradisonal ini, setidaknya kami jadi tahu bagaimana kearifan lokal masyarakat ketika mengolah lahan untuk berladang. Sangat arif, bertolak belakang dengan tudingan yang mudah ditemui jejaknya di portal-portal media daring bahwa peladang tradisional menyebabkan kebakaran lahan dan biang di balik bencana asap yang tiap tahun selalu terjadi di ibu kota provinsi.

Memang, belakangan seruan yang meminta masyarakat pedalaman di Kalbar untuk mengubah cara berladang semakin sering terdengar. Bahkan muncul stigma negatif terhadap peladang tradisional, stigma inilah yang selalu dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk menyerang mereka. Padahal, masyarakat melakukan kegiatan berladang sesuai dengan kearifan lokal yang sudah dijalankan turun temurun.

Begitulah cara berladang yang diterapkan masyarakat Dayak Seberuang di Dusun Silit. Setiap tahapan memiliki aturan yang selaras dengan kelestarian lingkungan. Ini tidak lain karena masyarakat di Silit masih memiliki hubungan yang sangat erat dengan alam.

Seperti yang diungkapkan menteri adat, Paulus Inka bahwa masyarakat Dayak Seberuang tidak pernah sembarangan ketika berladang. Semua proses memiliki adat aturannya sendiri. Mereka yakin, mustahil mampu mendapatkan hasil bumi yang baik jika perlakuan mereka terhadap bumi sendiri buruk.

Menteri Adat, Paulus Inka mengenakan baju batik, menjelaskan tentang proses berladang dalam komunitas adat Dayak Seberuang / Tim Rimba Terakhir

“Semua di bumi ini ada pemiliknya, ada yang punya. Termasuk tanah tempat berladang, makanya harus pamit dulu kalau mau menggunakan tanah, harus hati-hati saat mengolahnya dan tidak lupa berterima kasih setelah mendapatkan hasilnya,” tuturnya ketika kami mengobrol keesokan harinya.

Proses berladang diawali dengan ritual meminta tanah pada Puyang Gana. Ada beberapa persyaratan yang harus disediakan, seperti membawa sebatang tebu, sepotong kunyit, sebuah keladi dan sepotong besi kecil. Katanya semua persyaratan ini akan jadi hantaran untuk Puyang Gana. Keladi akan jadi tempayan dan kunyit menjadi emas. Sedangkan tebu akan jadi senapan yang menghantarkan permintaan padanya.

Mereka percaya jika mereka telah meminta ijin pada Puyang Gana, maka tanah tersebut akan diberkati. Tapi jika hari pelaksanaan ritual mereka mendapati ada ular di tanah tersebut, itu pertanda bahwa tanah tidak diijinkan. Mereka harus mencari tanah lain. Petunjuk alam seperti ini memang masih dipercaya. 

Setelah mendapatkan lahan, mereka mulai membersihkannya. Saat musim menebang tiba, mereka juga harus memberikan sebuah rancak berisi nasi pulut dan hati ayam. Sebagai bentuk ijin pada Puyang Gana agar melancarkan pekerjaan mereka. Kayu-kayu yang telah ditebang akan ditunggu sampai kering barulah dibakar. 

Membakar ladang tidak dilakukan begitu saja, mereka bergotong-royong agar api tidak melebar melebihi patok atau parit kecil yang sudah dibangun. Dengan cara seperti ini kebakaran lahan melebihi lahan ladang tidak pernah terjadi. Cara membakar seperti ini nyaris diterapkan semua suku Dayak yang pernah saya jumpai. Jadi helikopter yang tempo hari [atroli dan menyirami lahan ladang warga, sepertinya salah sasaran.

Setelah ladang selesai dibakar proses berikutnya adalah menugal. Ritual menugal kali ini merupakan ritual memberi makan Puyang Gana dan temannya, Aji Menteri. Makanan yang diberikan berupa sajian nasi biasa, nasi pulut. Dilengkapi hati, perut, kaki, serta kepala ayam, diletakkan di sebuah piring kecil. Persembahan ini merupakan bentuk permohonan agar Puyang Gana memberkati ladang mereka sehingga hasilnya banyak dan yang bekerja tetap sehat.

Tua muda saling membantu dalam gotong royong menugal yang dilaksanakan masyarakat Dayak Seberuang di Dusun Silit /  Tim Rimba Terakhir

Ritual-ritual yang menghubungkan mereka dengan alam masih terus berlanjut. Setelah menugal sekitar bulan November atau Desember dilakukan ritual nepah umah. Ritual yang dilakukan untuk membuang penyakit padi sehingga tidak mengalami gagal panen.

Sekitar bulan Februari atau Maret mereka memasuki masa panen. Saat panen tiba, sebelum pemilik ladang memanen semua padi di ladang, dia terlebih dahulu harus memanen satu pokok padi dan mengulasnya lalu mengikatnya dengan akar tengang. Nah, akar ini juga menarik karena sangat sering digunakan dalam ritual adat suku Dayak Seberuang di Silit. Contohnya untuk pernikahan adat, pasangan laki-laki dan perempuan harus mengenakan akar tengang supaya hubungan mereka kuat, seperti akar tengang.

Menurut penjelasan Paulus Inka, akar tengang adalah akar paling kuat, ini akan jadi kekuatan padi agar tidak mudah habis dan yang bekerja tidak mudah lelah. Setelah panen selesai barulah diadakan ritual nyelapat tahun. Ini adalah perayaan akhir panen yang selalu dilaksanakan meriah.

Setiap komunitas adat Dayak memiliki penamaan yang berbeda untuk pesta syukur sesudah panen. Ada yang menyebutnya naik dango, ada pula yang menyebutnya pamole’ beo’ masing-masing sub suku memiliki penamaan berbeda. Tapi di ibu kota provinsi pada bulan Mei selalu diadakan festival Gawai Dayak yang jadi momentum besar untuk menyatukan pesta syukur sesudah panen ini. Festival ini diadakan sepekan penuh.

Sedangkan di Silit kemeriahan juga memenuhi acara nyelapat tahun. Masyarakat akan membuat tuak, disimpan di temoayan lalu dihisap menggunakan suling dari bamboo beramai-ramai. Ternak-ternak akan dipotong, sebagai bentuk sukacita atas panen tahun ini. Tapi sebelumnya mereka telah mempersembahkan makanan dan minuman untuk Puyang Gana sebagai bentuk terima kasih atas berkat yang diberikan. 

Pesta seperti ini, menurut Paulus Inka tidak akan ada jika mereka tidak memiliki hutan “Kalau hutan habis, tidak ada tanah untuk berladang, tidak ada gawai,” katanya. Karena itulah dia dan masyarakat di Dusun Silit bertekad untuk mempertahankan hutan dan sungai yang mereka miliki. Ketika daerah lain di sekitar mereka sudah luluh oleh iming-iming lapangan pekerjaan dan kehidupan sejahtera dari perusahaan perkebunan kelapa sawit maupun perusahaan tambang, mereka memilih menolak kehadiran perusahaan-perusahaan itu.

“Kebutuhan kami sudah terpenuhi oleh hutan dan sungai di sini, kalau pihak luar mau menambahkan silakan tambah yang baik, bukan yang membuat buruk. Apalagi kalau sampai membuat hutan dan sungai jadi rusak,” ujarnya. 

Di akhir pembicaraan dia menyampaikan pesan agar masyarakat memiliki kesadaran untuk menjaga hutan yang mereka miliki. Seperti pesan-pesan yang sering disampaikan para aktivis lingkungan, Paulus Inka juga mengamini hal yang sama, bahwa bumi ini hanyalah pinjaman dari anak cucu.

“Kalau kita tidak bisa menjaga bumi, nanti anak cucu kita bagaimana hidupnya? Masa mau minum air keruh beracun kalau sudah tercemar tambang, tanah habis dipakai perusahaan sawit, tidak bisa ditanami lagi karena tanahnya jadi keras. Bagaimana?” 

Saya yakin kita semua tau apa jawabnya. Berbagai berita dan data tentang bencana ekologis akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit dan tambang jadi jawaban untuk pertanyaan ini.

Friday, October 19, 2018

Catatan Perjalanan Rimba Terakhir (2) ; Menyepi Sejenak ke Air Terjun Supit, Kiara, dan Sentarum

Tim Rimba Terakhir Silit berfoto di depan Air Terjun Sentarum / Tim Rimba Terakhir

Bicara tentang pariwisata di daerah Sintang pasti dua destinasi ini langsung terlintas, Bukit Kelam dan Air Terjun Nokan Nayan. Siapa yang tidak tahu keduanya, Bukit Kelam merupakan batu alam terbesar kedua di dunia setelah Giant Rock Anyer di Australia. Sementara Air Terjun Nokan Nayan merupakan air terjun yang dikenal dengan ketinggiannya dan disebut-sebut menyerupai bentuk air terjun Niagara.


Tapi Sintang yang luas menyimpan banyak tempat menarik yang sayang untuk dilewatkan. Seperti tiga air terjun yang sempat saya dan teman-teman tim Rimba Terakhir Silit kunjungi, Air Terjun Supit, Air Terjun Kiara, dan Air Terjun Sentarum yang terletak di Dusun Silit, Desa Nanga Pari, Kecamatan Sepauk, Sintang. Ketiganya terletak di lokasi yang tidak berjauhan.

Perjalanan ke Dusun Silit sendiri merupakan perjalanan panjang. Menghabiskan waktu berjam-jam di atas kendaraan. Siap-siap melewati jalur yang menantang dengan tanjakan dan turunan khas jalan perkampungan, serta mengorbankan komunikasi dengan dunia luar sementara waktu karena daerah ini tidak terkoneksi dengan jaringan internet. Keseruan perjalanan menuju Silit saya tuliskan di postingan sebelumnya.

Air Terjun Supit, Kiara, dan Sentarum berjarak sekitar 5 Km dari Dusun Silit. Bersama Dang, Koordintaor Pelestarian Sumber Daya Alam di Komunitas Pecinta Alam dan Lingkungan Dusun Silit (Komplids) kami menjajal keindahan ketiga air terjun ini. Dia juga mengajak beberapa temannya untuk mengantar rombongan kami. Perjalanan ditempuh menggunakan motor, jalurnya agak berbahaya untuk orang yang tidak terbiasa melewati tanjakan dan turunan di jalan tanah dengan tikungan dan tebing yang curam.


Dang, Koordinator Pelestarian Sumber Daya Alam di Komunitas Pecinta Alam dan Lingkungan Dusun Silit (Komplids) / Dok. Tim Rimba Terakhir

Sepanjang perjalanan kami melalui ladang-ladang penduduk, sebagian ladang ada yang sudah ditugal, yang lain masih menyisakan tanah-tanah hitam tanda baru saja melalui proses pembakaran, rumah-rumah warga yang terpencar berjauhan juga jadi pemandangan yang kami lalui. Kami tidak segan menyapa ketika melihat ada yang duduk di teras rumah. Sesekali motor harus dipacu kencang saat menempuh tanjakan, dan turun dengan hati-hati karena kendaraan kami beriringan. Harus bisa menjaga jarak dengan kendaraan di depan atau di belakang. 

Meski berada di daerah yang sama, ketiga air terjun ini memiliki panorama berbeda. Air terjun Supit memiliki tebing yang curam yang membuat sungai di bawahnya terlihat seperti lorong kecil. Supit dengan sungai panjang di bawahnya memiliki kisah sendiri. Sungai ini dipercaya menghubungkan Silit dengan sungai di Ketapang. Untuk kamu yang senang dengan tantangan, pasti sangat menyukai karakteristik Air Terjun Supit. 

Dang berkali-kali mengingatkan agar kami berhati-hati karena batu di Supit licin. Di Supit kami hanya duduk menikmati udara segar yang menyejukkan, sinar matahari yang tidak menyengat, deru suara air terjun, dan aroma khas hutan tropis yang berhasil menghilangkan ketegangan setelah menempuh perjalanan.

Berfoto di depan Air Terjun Supit / Dok. Tim Rimba Terakhir

Puas beristirahat di Air Terjun Supit, kami melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Kiara. Kami berjalan sebentar, menyebrangi sungai kecil dengan air yang dingin. Tidak jauh dari sungai kecil itulah Air Terjun Kiara berada. Kiara menawarkan panorama air terjun yang langsung jatuh ke sungai yang tidak begitu dalam. Dang menjelaskan nama Kiara diambil dari pohon Kiara yang tumbuh di sekitar air terjun. Pohon kiara merupakan pohon beringin.

Sungai kecil yang dilalui di perjalanan menuju Air Terjun Kiara / Dok. pribadi

Karena di Air Terjun Supit kami tidak bermain air, begitu sampai di Air Terjun Kiara dan melihat aliran sungai kecilnya, kami tidak bisa kalem lagi. Saya dan seorang teman langsung turun dan menghampiri batu-batu besar yang terpencar. Masing-masing duduk merendam kaki, sebagian mengabadikan momen dengan berfoto, ada juga yang sibuk memasang drone untuk mendokumentasikan perjalanan ini. 


Menikmati sejuknya suasana di Air Terjun Kiara / Dok. Tim Rimba Terakhir

Hari itu deru suara air terjun jadi suara yang paling sering saya dengarkan. Setelah menghabiskan banyak waktu  di Air Terjun Kiara kami pun melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Sentarum. Di sinilah puncak perjalanan kami. Air Terjun Sentarum tampak kokoh dengan bebatuan yang besar dan rapi, layaknya batu yang dipotong. Air terjunnya memiliki dua sisi yang agak berjarak, sementara di bawah airnya agak dalam dan lumayan deras.

Air Terjun Sentarum / Dok. Pribadi

Sentarum mengingatkan saya pada sebuah danau pasang surut di Kapuas Hulu, Danau Sentarum. Saya sempat menanyakan kesamaan nama ini pada Dang, tapi saya tidak mendapatkan jawaban. Sejak pertama melihat air terjun ini, Sentarum seperti menyimpan misteri dengan tebing-tebing batunya.  Dang mengajak kami menaiki tebing, di atas tebing pemandangan jauh lebih indah. Airnya mengalir deras, jatuh ke bawah, ke sungai di mana beberapa teman sedang asik berenang. Air yang mengalir sangat jernih, bahkan seorang teman tidak ragu-ragu meminumnya ketika haus.

Kekayaan seperti inilah yang dirindukan masyarakat Labuan Bajo. Jauh dari Silit ada sebuah tempat yang mashyur dengan pariwisatanya, setiap tahun ribuan turis menyambanginya. Labuan Bajo pasti masuk dalam daftar tempat yang ingin dikunjungi para traveler dunia. Tempat ini menawarkan banyak tempat wisata lengkap dengan hotel nyaman, tapi masyarakatnya sendiri selalu kekurangan air bersih. Labuan Bajo pun dijuluki Kota Seribu Jeriken.

Silit beruntung, karena mereka memiliki air yang berlimpah, termasuk wisata air terjun ini. Saya dan teman-teman yang naik ke tebing istirahat menikmati pemandangan sambil menghayal seandainya kami bisa memiliki rumah di tepi tebing air terjun Sentarum, lengkap dengan wifi dan helikopter yang bisa mengangkut kami ke kota jika persediaan makanan habis. Khayalan ini tentu saja absurd.

“Tidak jauh dari Sentarum inilah hutan Silit berada, biasa orang mencari rotan atau meramu ke sana. Ada juga yang berburu,” Dang mulai menjelaskan kondisi hutan di sekitar Air Terjun Sentarum. Pohon-pohon di sekitar Air Terjun Sentarum memiliki daun rimbun, membuat sinar matahari terhalangi. Di bebatuan tumbuh lumut, sementara di tepiannya banyak anggrek hutan. Jadi jangan heran jika menjumpa banyak kupu-kupu aneka warna berterbangan.


Bersantai di depan Air Terjun Sentarum / Dok. Tim Rimba Terakhir

Kalau saja air terjun ini mudah dijangkau, mungkin pemandangannya tidak seindah ini. Ketika kami berkunjung saja kami mendapati tumpukan bekas makanan ringan dari pengujung, botol minuman plastik termasuk pembungkus rokok. Selalu sedih ketika mendapati kenyataan bahwa masih banyak orang yang tidak bertanggung jawab. Memang, seringkali orang-orang sibuk memikirkan negara tapi tidak memikirkan pembungkus makanannya sendiri. Seorang teman kemudian memungut sampah-sampah ini dan membawanya turun. 

Menurut Dang pengujung yang menyambangi Air Terjun Sentarum memang beragam, sebagian dari mereka mungkin masih memiliki pemahaman yang buruk tentang lingkungan. Apalagi jumlah pengujung semakin bertambah, tidak hanya masyarakat Silit tapi pengujung dari daerah Sintang dan Sekadau. Bahkan baru-baru ini ada turis mancanegara yang berkunjung.

“Selain untuk memperkenalkan adat istiadat, budaya, maupun potensi pariwisata di Silit, alasan kami mendirikan Komunitas Pecinta Alam dan Lingkungan Dusun Silit (Komplids) ya untuk menjaga lingkungan agar tetap bersih dan lestari,” tuturnya. Karena itulah mereka selalu mengimbau agar pengunjung tidak melakukan tindakan tidak bertanggung-jawab seperti ini. Komplids jadi wadah pemuda-pemudi Silit untuk memperkenalkan potensi pariwisata sambil menyuarakan pesan pelestarian lingkungan.

Pemandangan Air Terjun Sentarum / Dok. Tim Rimba Terakhir
Seperti yang Dang ceritakan, mereka tidak hanya memperkenalkan pariwisata, budaya serta adat istiadat di Silit, sekarang mereka juga mulai mempelajari isu-isu lingkungan. Terutama yang berhubungan dengan hutan mereka. 

“Tapi yang jadi tantangan adalah keterbatasan informasi. Karena akses menuju Silit tidak mudah, selain itu tidak ada jaringan internet. Kami sering ketinggalan berita, termasuk keterbatasan pemahaman terhadap isu yang mengancam keberadaan hutan kami,” ungkap Dang.

Apa yang Dang ungkapkan sedikit menyentil saya, pekerjaan membuat saya harus terhubung dengan dunia luar setiap hari. Jaringan internet dan informasi baru adalah napas untuk pekerjaan saya. Jadi selama ada internet saya tidak punya alasan untuk tidak bekerja, bisa menyepi ke tempat yang tidak terhubung dengan jaringan internet  seperti ini adalah sebuah nikmat yang saya syukuri. Sementara itu di hadapan saya, seorang teman yang usianya tidak terpaut jauh menginginkan kemudahan akses informasi seperti yang sedang saya hindari. 

Saya dan teman-teman mengobrolkan banyak hal bersama Dang, pemuda 20 tahun yang banyak membantu kami selama berada di Silit. Dia menyampaikan harapannya agar pemerintah setempat bisa memperhatikan infrastuktur jalan menuju Silit, terutama menuju air terjun.

“Kita di sini selalu siap menerima orang-orang yang berkunjung, karena itu kami sangat berharap pemerintah mau memperbaiki jalan menuju Silit dan air terjun. Karena kalau musim hujan jalannya agak susah dilewati,” katanya. 

Setelah puas mengobrol kami turun ke bawah, saatnya mandi. Kami menyelam sepuasnya. Teman yang tidak bisa berenang harus puas mandi di tepi sungai, mengapungkan badan sementara yang lain berenang ke bagian tengah. Lelah berenang kami pun menepi, mengeringkan rambut lalu pulang dengan kondisi basah kuyup.

Kalau kalian sedang jenuh dengan rutinitas dan keramaian, melakukan perjalanan ke air terjun Supit, Kiara, dan Sentarum bisa jadi pilihan. Jika sehari saja tidak cukup, kalian bisa menginap di rumah kepala dusun. Ambil beberapa hari di sana, menyepi sambil menyatu bersama masyarakat yang masih sangat terhubung dengan alam. 

Senang rasanya bisa melihat ketiga air terjun ini. Perjalanan di Silit komplit. Setelah menempuh perjalanan panjang yang melelahkan kami mendapat sambutan hangat dari masyarakat Silit, kami diajak mengenali seni dan budaya mereka, kami juga mendengar kegelisahan mereka tentang korporasi yang mengincar hutan di Silit, dan mereka juga mengajak kami melihat air terjun yang jadi primadona di dusun ini.

Keesokan harinya kami pamit, perjalanan ke Silit sudah berakhir, kami harus pulang. Saya berjanji akan mengirim buku untuk Dang, setidaknya dia bisa mendapat informasi dari sana meski tidak sekaya infromasi dari internet. Perlahan mobil yang membawa kami semakin meninggalkan Silit, sebuah dusun di pedalaman Sintang yang masih memiliki rimba dan kaya akan air. Mereka memiliki air yang jernih, berlimpah, dan menyimpan banyak ikan yang bisa mereka ambil kapan saja. Air ini tidak hanya mengaliri sungai untuk mereka mandi dan minum, tapi juga memberikan penerangan ketika malam tiba. 

Friday, October 12, 2018

Catatan Perjalanan Rimba Terakhir (1) ; Silit, Dusun Berdaulat di Pedalaman Sintang


Air Terjun Sentarum di Silit / Dok. Tim Rimba Terakhir Silit


Setelah melakukan pagelaran seni di Sendi, Mojokerto, mengunjungi hutan Dayak Tomunt di Lamandau, Kalimantan Tengah, menyambangi dataran tinggi Tokalekaju di Sulawesi Selatan, dan menyapa Sikerei yang menjaga hutan di Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai. Rimba Terakhir dari WALHI akhirnya tiba di Silit, sebuah dusun yang terletak di Desa Nanga Pari, Kecamatan Sepauk, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Saya menjadi bagian dari perjalanan ini, empat hari saya dan beberapa teman seniman mengeksplorasi keindahan alam dan budaya Silit. Menyepi sejenak dari rutinitas harian yang mulai membosankan jelang akhir tahun. 


Menggunakan dua mobil, rombongan kami bertolak dari Pontianak menuju Silit. Kami harus menempuh perjalanan panjang, menahan penat karena berjam-jam duduk di mobil dari Pontianak sampai Simpang Kayu Lapis, sebuah simpang yang berada di perbatasan Bumi Senentang dan Bumi Lawang Kuari. Dari simpang ini kami harus melanjutkan perjalanan menuju pusat desa Nanga Pari. Melewati jalan berkerikil dengan tanjakan dan turunan yang lumayan memacu adrenalin. Kadang harus melalui jalanan berlubang, namun karena hari sudah menjelang malam saat kami menuju pusat desa maka pemandangan tidak begitu jelas. Jalan yang rusak tidak begitu nampak.


Dari cahaya mobil yang terbatas saya bisa menyaksikan deretan kebun sawit di kiri kanan jalan yang kami lewati, tanah-tanah gersang, pemukiman warga yang belum begitu padat di tepi jalan. Malam sudah tinggi saat kami tiba di pusat desa Nanga Pari. Rumah kepala desa menjadi tujuan kami, di sanalah kami beristirahat karena perjalanan menuju Silit dilanjutkkan keesokan harinya.


Jalan menuju Silit masih berupa tanah kuning, jaraknya sekitar 3 km dari pusat desa sangat beresiko jika dilewati menggunakan mobil. Berkali-kali mobil saling tarik karena jalan yang tidak memungkinkan untuk dilalui. Kadang kami juga harus turun dan jalan kaki sampai tiba di jalan yang agak mendingan, atau mobil yang satu berhasil ditarik. Maklum, Oktober adalah musim hujan, jalan susah dilalui ketika basah. Semakin menuju daerah tujuan, jalan semakin tidak memungkinkan untuk dilalui menggunakan mobil. Akhirnya satu mobil ditinggal di depan pondok warga, sebagian dari rombongan memutuskan berjalan kaki. Lumayan melelahkan. 


Tapi semua rasa lelah jadi luruh saat kami tiba di rumah kadus yang jadi tempat tinggal kami selama berada di Silit. Tepat di depan rumah ini terbentang Sungai Silit yang jernih dan sejuk. Sungai yang langsung kami serbu begitu selesai mengobrol dengan kepala dusun yang menyambut kedatangan kami dengan ramah.  Silit merupakan wilayah yang didiami masyarakat Dayak Seberuang, bahasa yang mereka gunakan tidak jauh berbeda dengan bahasa Iban. Bahasa yang tidak begitu asing bagi saya, meski tidak lancar berbicara dengan bahasa ini, saya bisa mengerti artinya.


Silit, dusun kecil yang terletak di Desa Nanga Pari, Kecamatan Sepauk, Sintang / Dok. Tim Rimba Terakhir Silit

6 km dari kampung ini terdapat hutan yang dijaga turun temurun oleh masyarakat Silit. Dari hutan inilah mereka mendapatkan tumbuh-tumbuhan yang digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk untuk berburu dan meramu. Sejak dulu sudah ada kawasan tertentu yang hanya dapat diambil kayunya, yaitu di kawasan Tinting Ban dan Tinting Jenang.


Selain wilayah tersebut tidak diperbolehkan mengambil kayu. Kayu yang diambil juga tidak untuk diperjual-belikan, tapi lebih pada penggunaan pribadi seperti memenuhi kebutuhan untuk membuat rumah atau peti mati. Searah dengan kawasan rimba Silit, terdapat tiga air terjun yang sering dijadikan objek wisata oleh masyarakat sekitar, yaitu air terjun Supit, Kiara, dan Sentarum.


Jelang sore hari kami menyempatkan diri untuk berkunjung ke ladang salah satu warga. Kebetulan hari itu sedang dilaksanakan gotong royong untuk menugal. Saya bahkan berkesempatan untuk ikut memasukkan benih padi bersama warga. Berada di tengah masyarakat seperti ini selalu menyenangkan, kutipan dari Pram “Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri.” terasa nyata adanya. Tua dan muda bekerja sama dengan sukacita, gelak tawa mengiringi proses menugal hingga selesai.

Silit Mandiri, Silit Berdaulat

Masyarakat di Silit melakukan gotong royong menugal di ladang salah satu warga. / Dok. Tim Rimba Terakhir

Sebelum pulang, kami diajak singgah ke rumah warga. Di sana kami disuguhi makanan khas yang hampir ditemui di semua komunitas Dayak, pulut atau lemang. Tidak hanya itu kami juga sempat menikmati olahan daging yang dimasak menggunakan penyedap rasa alami. Ternyata di Silit masyarakat jarang menggunakan micin ketika memasak.

Mereka lebih memilih menggunakan penyedap alami dari daun tumbuhan sengkubak. Selain tanpa bahan kimia, daun sengkubak juga bisa didapatkan dengan cuma-cuma tanpa harus membeli. Sebuah kemewahan yang semakin jarang ditemui. Sore itu, di depan rumah warga kami melepas penat. Menyantap makanan kecil yang mereka suguhkan sambil menikmati suara serangga yang riang menyambut malam.

Ketika malam tiba listrik pun menyala. Saya kira perjalanan kali ini akan memberikan pengalaman menghabiskan malam di bawah temaram pelita. Ternyata saya salah, Silit yang terpencil nyatanya bisa mengupayakan penerangan di malam hari. Menarik karena penerangan ini menggunakan PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro) yang bersumber dari Sungai Silit. Berdasarkan obrolan dengan Kepala Dusun, Pak Inus. Masyarakat membangun PLTMH secara swadaya, tanpa campur tangan pemerintah. PLTMH tersebut menyinari 63 rumah yang ada di Dusun Silit.


Dengan sumber informasi dan dana yang terbatas, masyarakat jelas melalui banyak tantangan. Pembangunan PLTMH melalui proses panjang. Tahun 2010 perencanaan telah dibuat, semangat yang diusung adalah semangat gotong royong dan kemandirian. Tahun 2011 pengerjaan mulai dilaksanakan, teknisi asal Bandung membantu mayarakat Silit untuk menyelesaikan misi ini.


Berbagai kendala sempat dialami, tahun 2012 pengerjaan sempat terhenti, tapi tahun berikutnya lanjut lagi. Bendungan sudah selesai dibuat tapi turbin tetap tidak berfungsi. Tahun 2015 masyarakat Silit membangun kemitraan dengan CU (Credit Union) untuk membeli alat seharga 669 juta. Pak Inus menuturkan masing-masing kepala keluarga mengambil kredit sebesar 14 juta. Dari kredit itu terkumpul dana 553 juta rupiah, sisanya kembali digenapi dengan swadaya.


Masyarakat Silit menunjukkan bahwa mereka mampu mandiri dan berdaulat di atas tanah mereka sendiri. Malam itu, di Silit, di sebuah dusun kecil yang jauh dari ingar bingar kendaraan, tanpa jaringan internet dan jauh dari kesan kemajuan jaman. Saya justru melihat betapa pikiran orang-orang ini lebih maju, menembus keterbatasan yang membelenggu mereka.

Sayup-sayup lagu Power To The People dari John Lennon yang tempo hari saya dengarkan sepulang kerja menari-nari di kepala saya. “Say you want a revolution, we better get on right away. Well you get on your feet, and out on the street. Singing power to the people.. power to the people.”

Mendengar Ruding, Mendengar Pantun dari Silit

Anak-anak menyeberangi Sungai Silit menuju ke sekolah. / Dok. Tim Rimba Terakhir Silit

Seperti daerah dataran tinggi umumnya, udara pagi di Silit sangat dingin. Kami menyeruput kopi sambil menikmati suasana pagi. Beberapa anak terlihat menyeberang sungai menuju sekolah, yang lainnya melewati depan rumah dengan senyum malu-malu. Sekolah di sini hanya tersedia sampai tingkat SD. Kalau ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya berarti harus ke pusat desa. Jam belajar dimulai pukul 08.00 WIB, sebelum masuk kelas anak-anak boleh bermain di lingkungan sekolah. Termasuk di tepi sungai karena sekolah mereka tidak jauh dari sungai.


Hari itu kami melakukan eksplorasi seni dan budaya melalui alat musik tradisional di Silit. Kami berkesempatan menyaksikan permainan ruding yang dibawakan oleh Nek Mina. Ruding adalah alat musik tradisional di Silit. Terbuat dari bambu dan dimainkan dengan ditiup sambil menarik senar yang terbuat dari tali.


Dulu alat musik ini sering dimainkan ketika orang-orang sedang dalam perjalanan menuju ke ladang, atau dimainkan di malam hari sambil menunggu kantuk datang. Tapi seiring berlalunya waktu, suara ruding semakin jarang terdengar. Bahkan di Silit sudah sedikit orang yang bisa memainkan alat musik ini. Beruntung kami bertemu Nek Mina, dia tidak hanya mengajari kami memainkan ruding, tapi juga menghadiahi alat musik ini untuk beberapa teman saya.

Nek Mina memainkan ruding, alat musik tradisional dari Silit yang sudah jarang dimainkan. / Dok. Tim Rimba Terakhir Silit

Selain ruding, kami juga berkesempatan mengenal instrument musik daerah di Silit. Tidak jauh berbeda dengan komunitas Dayak pada umumnya, di Silit gong juga digunakan sebagai alat musik untuk mengiringi tari-tarian. Tapi irama yang dihasilkan ternyata tidak hanya bisa dihasilkan dari gong, dengan menggunakan bambu kita juga bisa menghasilkan suara yang sama. Beberapa perempuan datang dengan bambu yang baru diambil dari hutan.

Tiga orang perempuan menabung bambu yang menghasilkan suara layaknya gong. / Dok. Tim Rimba Terakhir Silit
Lalu dengan cekatan mereka memotong bambu-bambu dengan berbagai ukuran tersebut, membuat lubang pada sisinya. Setelah dirasa pas, tangan mereka dengan cepat memukul gong tersebut secara bergantian, teratur dan tenang hingga terbentuklah sebuah irama. Siang itu sangat syahdu, di bawah pohon tengkawang yang mulai berbunga di samping rumah kadus, melalui bambu yang ditabuh oleh kelompok musik perempuan, kami menikmati irama musik etnik yang unik dari Silit.


Tidak cukup sampai di situ, saat malam tiba kami kembali dihibur dengan sastra lisan yang berkembang di Silit. Yaitu bemain, ini adalah sastra lisan yang berbentuk pantun. Permainannya sederhana saja, seseorang akan bertanya sambil berpantun, pertanyaannya bebas, sesuai dengan apa yang ingin diketahui penanya. pertanyaan ini kemudian harus dijawab kembali menggunakan pantun. Tapi jawaban harus berkaitan dengan bait pertama dan kedua dari pantun pertanyaan. Pantun dilantunkan dengan nada khas dan bahasa daerah.


Suasana sangat ramai, apalagi di penghujung malam menteri adat, Paulus Inka melantunkan pantun 30. Konon pantun ini merupakan senjata pamungkas untuk memikat pujaan hati. Pantun tersebut dilantunkan dengan lantang di antara derai tawa para pendengar. Ditemani bercangkir-cangkir kopi dan minuman khas Silit, suasana terasa hangat. Sesekali teman saya memetik senar gitar untuk membuat suasana semakin hidup. Gelak tawa semakin keras mengiringi malam yang sepi di dusun Silit. Memang, bahagia sesederhana itu. 

Mengunjungi Air Terjun Supit, Kiara, dan Sentarum

Perjalanan menuju air terjun Supit, Kiara, dan Sentarum / Dok. pribadi.
 Hari ketiga merupakan puncak dari perjalanan kami di Silit, hari itu kami diajak mengunjungi objek wisata air terjun yang berjarak sekitar 5 km dari Silit. Ada tiga air terjun di sini, yaitu air terjun Supit, Kiara, dan Sentarum. Ketiganya merupakan objek wisata yang sudah tidak asing bagi orang-orang di Sintang. Dengan letak yang tidak berjauhan, ketiga air terjun ini bisa dijangkau dengan perjalanan satu arah. Perjalanan bisa ditempuh menggunakan motor. Untuk saya yang jarang melakukan perjalanan seperti ini, kondisi jalan menuju air terjun cukup membuat khawatir. Berkali-kali saya memejamkan mata ketika kami melewati jalan terjal yang berada tepat di tepi tebing. 


Setelah mendekati objek wisata, motor harus diparkir di tempat yang telah tersedia. Kami harus berjalan kaki sebentar untuk sampai di air terjun Supit. Melewati beberapa tanjakan yang lumayan membuat napas saya ngos-ngosan. Silit adalah wilayah dataran tinggi tropis, kondisi jalannya memang banyak tanjakan dan turunan. Di kiri-kanan jalan terdapat banyak tanaman hias liar khas hutan tropis. Saya sering berhenti untuk mengamati tanaman liar yang memiliki daun atau bunga menarik. 

Air Terjun Supit / Dok. Tim Rimba Terakhir Silit. 

Sampai di air terjun Supit rasa lelah langsung hilang melihat panorama yang ditawarkan. Air terjun Supit memiliki tebing yang curam yang membuat sungai di bawahnya terlihat seperti lorong kecil. Konon jika seseorang terseret arus sungai itu maka akan tembus ke sebuah sungai di daerah Ketapang. Untuk orang yang senang dengan tantangan, menjajaki air terjun Supit dan menapaki bebatuan di sekitarnya pasti sangat menyenangkan. Karena takut ketinggian saya hanya menikmati pemandangan dari tepi tebing. Itu juga dengan kaki yang kadang gemetar karena takut terpeleset.


Setelah puas menikmati air terjun Supit kami melanjutkan perjalanan ke air terjun Kiara. Dalam bahasa Silit Kiara berarti pohon beringin. Nama ini digunakan untuk penamaan air terjun karena di sekitar air terjun terdapat pohon Kiara. Di banding Supit, air terjun Kiara jauh lebih bersahabat bagi saya. Tanpa rasa takut saya langsung mencuci muka di airnya yang jernih dan sejuk, teman-teman melakukan hal yang sama.

Air Terjun Kiara / Dok. Tim Rimba Terakhir Silit.

Kiara memiliki bebatuan besar yang terpencar-pencar, tapi tidak begitu luas sehingga spot untuk mengambil foto terbatas. Kami beristirahat beberapa saat di sana, menikmati udara segar yang bebas polusi. Suara air terjun yang jatuh membuat suara harus dikeraskan ketika bicara. Saya menghirup napas dalam-dalam, aroma hutan di air terjun Kiara pasti akan selalu saya rindukan.


Perjalanan kami pun dilanjutkan karena sebelum tengah hari kami harus sudah sampai di air terjun Sentarum. Dengan langkah kaki yang tergesa-gesa karena semangat, saya berjalan mengikuti rombongan. Jarak Sentarum tidak begitu jauh dari Kiara. Begitu sampai di air terjun ini kami langsung berhamburan, masing-masing mencari tempat yang nyaman untuk duduk. Batu di Sentarum seperti sengaja dihamparkan, seakan-akan memang diperuntukkan bagi orang-orang untuk bersantai sambil menikmati pemandangan air terjun.

Bersantai di atas tebing Air Terjun Sentarum / Dok. Tim Rimba Terakhir Silit

Sungai Sentarum juga luas, tapi arusnya deras. Harus waspada kalau tidak bisa berenang. Airnya sangat segar, berendam di sini menjadi sebuah kemewahan tersendiri. Sentarum dengan batu-batunya yang kokoh menyimpan banyak pertanyaan di kepala saya. Bagaimana panorama ini terbentuk, batu-batu kokoh yang menyambut kedatangan kami. Mandi saja tidak cukup, kami juga mencoba untuk naik ke puncak tebing. Ternyata pemandangan di sini jauh lebih indah. Melihat langsung air-air ini meloncat ke bawah. Tapi tetap waspada karena ada bagian batuan yang ditutupi lumut sehingga jadi licin.

Tim Rimba Terakhir Silit berfoto di depan Air Terjun Sentarum / Dok. Tim Rimba Terakhir

Menyelamatkan Sungai dan Hutan Silit, Menyelamatkan Kehidupan di Silit


Silit dan hutannya yang masih terjaga / Dok. Tim Rimba Terakhir Silit

Saya dan beberapa teman memilih istirahat berlama-lama di atas tebing. Berbaring di atas batu, di bawah teduhnya pepohonan dari rimba silit. Berdasarkan obrolan dengan kepala dusun dan menteri adat, pak Inus dan Paulus Inka, masyarakat Silit memang sepakat untuk menjaga hutan yang mereka miliki. Di masa orde baru ketika Soeharto berkuasa, hutan di Silit pernah dijajal perusahaan kayu lapis. Tapi sejak illegal logging diberantas, perusahaan itu pun lenyap.


Puluhan tahun setelah itu incaran dari perusahaan lain datang. Menurut penuturan pak Kadus belakangan banyak perusahaan kelapa sawit yang mencoba masuk ke wilayah Silit. Tidak hanya itu, perusahaan tambang juga jadi ancaman bagi Sungai Silit. Sungai ini memiliki kandungan emas yang tinggi, sangat seksi bagi korporasi. Tapi masyarakat tidak mau menyerahkan hutan dan sungai yang mereka miliki karena menurut kepala dusun di sanalah semua kebutuhan terpenuhi.


Ketika mereka membutuhkan air dan ikan, Sungai Silit menyediakan air jernih dan ikan segar. Ikan semah merupakan jenis ikan yang banyak ditemui di perairan Silit. Air Sungai Silit tidak hanya jadi tempat untuk minum dan mandi, tapi mampu memberikan pencahayaan bagi puluhan rumah yang ada di dusun kecil ini. Keanekaragaman hayati di Sungai Silit juga tetap terjaga karena di sini ada larangan untuk mengambil ikan dengan tuba.

Hutan jadi tempat di mana semua kebutuhan pangan maupun papan tersedia, dan semuanya bisa didapatkan secara gratis. Tanpa perlu membayar, tanpa harus dikuasai oleh satu golongan. Hutan juga jadi rumah bagi satwa yang memiliki hubungan dekat dengan masyarakat Silit. Terutama suara burung, dalam hal-hal tertentu masyarakat Silit masih mempertimbangkan tanda dari alam ketika hendak melakukan sesuatu. Suara burung dipercaya sebagai peringatan untuk nasib baik atau sebaliknya.


“Sudah sering kampung kami didatangi orang perusahaan, tapi kami selalu menolak. Selama saya jadi kepala dusun saya akan melawan habis-habisan untuk menolak semua jenis perusahaan yang masuk ke sini. Baik itu perusahaan sawit maupun tambang,” ujar kepala dusun Silit waktu kami mengobrol tentang hal ini. Sebuah pernyataan keras yang cukup jelas. Pernyataan yang tidak jauh berbeda dengan pernyataan menteri adat, Paulus Inka.


“Kalau hutan habis, nasib kami bagaimana. Sementara kami sampai saat ini masih bergantung pada hutan. Keperluan sehari-hari kami masih didapatkan di hutan. Ambil rotan, daging, dari sana. Kalau perusahaan datang, habis sudah,” tuturnya.


Mereka berharap semangat untuk mempertahankan hutan dan kekayaan alam yang ada di Silit bisa didukung oleh semua pihak. Tidak hanya masyarakat Silit tapi juga para pemerintah dan para penggiat konservasi. Menyelamatkan hutan Silit sama dengan menyelamatkan kehidupan masyarakat di Silit. 

Gawai Ngemaik Anak ke Sungai, Perkenalan Pertama Bayi dengan Alam


Gawai ngemaik anak ke sungai, perkenalan pertama bayi dengan alam. / Dok. Tim Rimba Terakhir Silit

Ketika matahari sudah semakin tinggi kami memutuskan untuk kembali ke perkampungan. Saya ingin secepatnya tiba di rumah karena kedinginan. Sepanjang perjalanan pulang saya tidak khawatir panas matahari akan membakar kulit karena suasana tetap sejuk, pohon-pohon tropis membentuk kanopi, menghalau sengatan sinar matahari.


Sesampainya di rumah kami beristirahat sebentar, kepala saya pusing karena telinga saya kemasukan air. Saya memutuskan untuk tidur siang sementara teman-teman yang lain mengikuti gawai ngemaik anak ke sungai, sebuah ritual pemberian nama bayi yang dilaksanakan oleh kepala dusun untuk anak bungsunya yang baru lahir dua bulan lalu.


Masyarakat di Silit yakin alam dan manusia memiliki hubungan yang sangat erat. Karena itu alam harus mengenali bayi-bayi yang baru lahir. Seperti yang dijelaskan menteri adat, Paulus Inka, gawai ngemaik anak ke sungai bertujuan untuk mengenalkan sang anak dengan alam sekitarnya. Sungai merupakan lingkungan yang sering didatangi sang anak kelak karena di sanalah dia mandi. Karena itu gana sungai (penunggu sungai) harus mengenalinya. 


Ritual ini berlaku untuk semua anak yang lahir di Silit. Sebelum anak berusia lebih dari setahun mereka harus sudah dikenalkan pada alam. Ritual ini dimulai dengan mantra yang dibaca oleh pemimpin ritual. Anak kemudian dibawa turun ke sungai beserta sesajian sebagai persembahan pada puyang gana dan gana sungai, serta buah kelapa yang sudah bertunas yang jadi simbol pelampung bagi sang anak.


Layaknya upacara pembaptisan, kepala sang anak akan diusap dengan air dari sungai. Setelah mantra diucapkan anak bisa dibawa pulang ke rumah, sementara kelapa bertunas yang tadinya digunakan sebagai pelampung harus ditanam oleh orang yang telah ditunjuk. Kelapa ini tidak boleh ditebang kecuali oleh anak itu sendiri. 


Kelapa ibaratkan pelampung yang membantu anak mengapung ketika sang anak berada di sungai. Kelapa juga jadi simbol pengharapan agar kehidupan sang anak kelak lurus ibaratkan pohon kelapa, tidak menghadapi banyak persimpangan. Harapan baik ini tidak hanya diberikan pada sang anak, tapi juga pada orang yang menanam kelapa tadi. Begitulah kedekatan masyarakat Silit dengan alam. Mereka sudah menjadi satu kesatuan kosmos.


Ritual pemberian nama itu menjadi acara sakral terakhir yang sempat kami saksikan di Silit. Meski tengkawang sudah mulai berbunga, ritual ngalu antu buah (acara adat untuk menyambut musim buah raya setiap tahunnya) belum juga dilaksanakan. Keesokan harinya rasa haru memenuhi dada kami saat kami pamit pulang setelah menghabiskan tiga hari di dusun ini. Meski berat rasanya untuk berpisah, tapi kami akhirnya saling melepas pelukan. Sebelum matahari meninggi kami sudah beranjak meninggalkan Dusun Silit. 


Bagi saya pribadi perjalanan ini ibaratkan perjalanan spiritual. Perjumpaan saya dengan masyarakat Silit yang sederhana dan mandiri menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Singkat tapi membekas. Ketika negara cenderung mengukur kemajuan peradaban dengan bangunan yang bertingkat, orang-orang ini justru sangat maju pikirannya melampaui orang-orang yang memiliki deretan gelar akademik.


Mereka tidak memiliki gedung pencakar langit, rumah yang mereka tinggali juga cukup sederhana, pendidikan formal juga tidak tinggi. Tapi mereka sangat mandiri. Saat negara tidak bisa memberi mereka penerangan, mereka membuat PLTMH sendiri. Saat korporasi datang melirik hutan dan sungai di dusun ini, mereka dengan keras menolak. Di Silit yang bagi sebagian orang merupakan perkampungan tertinggal, saya justru melihat masyarakatnya memiliki pikiran yang lebih maju.


Ketika orang-orang berpendidikan yang berpihak pada korporasi datang dan berusaha mengambil sumberdaya komunal yang mereka miliki dan sudah lestarikan turun temurun, orang-orang Silit yang bahkan tidak memiliki kesempatan untuk mengecap pendidikan tinggi dengan lantang menyuarakan bahwa mereka menolak berbagai upaya penguasaan hutan maupun sungai oleh satu golongan. Orang-orang Silit, mereka adalah orang-orang yang berdaulat, rakyat yang berdiri kokoh dengan semangat kolektif dan kemandiriannya.