Friday, April 20, 2018

Yang Menyebalkan dari Putus Cinta

Putus cinta tidak pernah jadi soal biasa untuk orang-orang yang selektif dalam memilih pasangan. Apalagi untuk orang yang tidak mudah bergaul di lingkungan sehari-hari, menemukan orang yang nyambung diajak mengobrol saja susah. Memang manusiawi, tapi ini sangat menyiksa..

Yang menyebalkan dari putus cinta tentu saja patah hati. Perlu waktu lama untuk menerima kenyataan, membiasakan diri tanpa dia. Rasanya sangat menyebalkan. Membuka hati pada orang baru juga tidak gampang, ada rasa takut, rasanya tidak mudah. Kita harus berkenalan, memulai semuanya dari awal, mengenali kebiasannya, menyesuaikan diri lagi. Mencoba percaya lagi, kalau dipikir-pikir rasanya malas untuk kembali meletakkan hati pada orang lain. 

Malas untuk mempercayai orang baru, membiarkan orang lain mengetahui sisi buruk kita, kelemahan dan kekurangan kita. Menebak-nebak orang lain seperti apa, hal apa yang disenanginya, apa yang bisa membuat kita dekat, dan tebakan-tebakan lainnya. 

Setelah putus cinta ada banyak kebiasaan yang mesti diubah, ada banyak hal yang hilang, misalnya perhatian-perhatian khusus yang sering diberikannya, rasanya menyesakkan ketika berada di keramaian tapi yang dirasakan adalah kesepian. Putus cinta membuat keadaan jadi buruk, kehilangan nafsu makan dan mengganggu jam tidur, apalagi ketika sedang rindu.

Biasanya yang dirindukan bukan orangnya, tapi kebiasaan yang sering dilakukan dengannya, misalnya berdiskusi sebelum tidur. Membicarakan apa saja, mulai dari twitwar di Twitter, berita apa yang sedang ramai hari ini, sudah membaca buku sampai halaman berapa, bagaimana pekerjaan hari ini, hingga berdiskusi hendak menghabiskan esok dengan kegiatan apa. 

Masih banyak hal menyebalkan lainnya, misalnya harus menerima pertanyaan dari teman kampus atau kerja "lho kok sendirian, si itu ke mana?" Pertanyaan yang hanya dijawab dengan senyuman, pertanyaan yang membuat kita sedih. 

Belum lagi saat harus mendatangi tempat-tempat yang sering didatangi berdua, perasaan sedih bisa langsung datang dan rasa kehilangan semakin bertambah. Saat tak sengaja mendengar lagu yang sering didengar berdua di mobil, sedihnya semakin dalam. Ingatan-ingatan tentang dia seakan berterbangan, dan inilah yang paling menyiksa. Ingatan. 

Mengingat momen-momen berkesan yang pernah dilalui bersama, lebih menyakitkan kalau hubungan sudah dijalin lama, sudah melewati masa remaja hingga berproses jadi dewasa bersama, ada banyak hal berharga yang dilalui berdua. 

Bertahun-tahun bersama, mulai dari masa kuliah hingga bekerja, mulai dari gombalannya hanya gombalan khas mahasiswa baru hingga gombalan pasangan dewasa tentang masa depan berdua. Mengingat semua itu rasanya.... tidak bisa dideskripsikan. 

Setelah bertahun-tahun bertahan, akhirnya saat ini tiba juga. Putus cinta. Putus dari orang yang tidak hanya jadi pacar, tapi juga teman, bahkan saudara. Tempat di mana semua keluh kesah ditumpahkan, tempat di mana rencana-rencana disusun, tempat di mana keberanian menghadapi kenyataan hidup bertumbuh, tempat yang tidak bisa tergantikan.

Rasanya rindu..

Rindu sekali.

Sunday, April 08, 2018

Ulasan Buku Saya Terbakar Amarah Sendirian



"Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri." (49)


Judul: Saya Terbakar Amarah Sendirian!
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Tahun Terbit: Cetakan pertama, Januari 2006
Cetakan kedua , Desember 2006
Tebal: 131 halaman.

7/30

Buku ke tujuh yang saya baca. Ini adalah buku yang berisi perbincangan Pramoedya Ananta Toer dengan jurnalis asal Amerika, AndrĂ© Vltchek dan Rossie Indira tentang pandangan Pram terhadap beberapa hal terkait negeri bernama Indonesia. 

Mulanya penulis menjumpai Pram karena sebuah project film, tapi keadaan Pram sudah sangat lemah, tidak bisa banyak bergerak, hanya bisa bicara dan menghisap rokok. 

Buku ini merangkum pikiran-pikiran Pram tentang banyak hal yang terjadi di negeri ini. Mulai dari pengalaman pribadinya yang menjadi korban kejahatan sebuah rezim, hingga harapannya pada golongan muda. 

Dibuka dengan kata pengantar dari Chris GoGwilt yang epic, lalu sekapur sirih dari penulis yang membuat kadar penasaran semakin bertambah. 

Ada 12 bagian yang merangkum perbincangan hangat yang dilakukan dalam waktu empat bulan ini, fyi wawancara mulai dari Desember 2003-Maret 2004 saat itu kondisi kesehatannya sudah jauh menurun. 

Pram membahas tentang sejarah, kolonialisme dan Soekarno, dia juga menceritakan kideta 1965 dan masa penahanan yang dialaminya, emosi pasti tercampur aduk di bagian ini. 

Dia juga menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang budaya dan Jawanisme, Pram adalah tokoh yang sangat menentang Jawanisme. Menurutnya Jawanisme hanya melahirkan generasi-generasi yang penakut terhadap junjungan (pemerintah), bermental pecundang karena tidak berani melawan atasan walaupun tahu perbuatannya salah. Dia menjelaskan Jawaniame dan kolonialisme Jawa sudah bertindak brutal pada penduduk Indonesia yang tinggal di negara kepulauan yang luas ini, jauh lebih keji dari ysng dilakukan oleh para penjajah asing. 

Karya sastranya juga dibahas, begitupun presiden kesayangan Amerika, Soeharto, turut dibahas olehnya, dalam bagian ini dia terang-terangan menyebut Soeharto sebagai presiden yang merusak Indonesia. Merusak moral bangsa hingga ke akar-akarnya, dan membentuk Indonesia yang sekarang, Indonesia yang menurutnya sedang berjalan menuju gerbang kehancuran. 

Timor Leste dan Aceh juga dibahas dalam satu sesi, dia menyebut jika mental masyarakat Aceh patut ditiru, mental pejuang.

Keterlibatan Amerika Serikat juga dibicarakan. Hingga rekonsiliasi yang menurutnya tidak bisa menggantikan haknya yang telah dirampas pemerintah, dirampas negara. 

Bagian akhir ditutup dengan harapannya pada masa depan Indonesia. Dia menyebut bahwa revolusi adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan masa depan Indonesia, dan hal ini hanya bisa dilakukan oleh golongan muda. 

Sebagai orang yang menyukai prinsip dan belajar kemanusiaan melalui karya-karya Pram, buku ini saya rekomendasikan untuk dibaca. Usai dibuat penasaran oleh kata pengantar di bagian depan, pembaca selanjutnya bisa bergumul dalam pikiran penulis Asia Tenggara yang berkali-kali mendapatkan nominasi Nobel  Sastra ini. Ada banyak keresahan yang disampaikan Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang ditahan Orba selama 34 tahun di penjara dan kamp konsentrasi tanpa proses pengadilan sama sekali. Seorang penulis yang karya-karyanya dirampas dan dimusnahkan, bahkan yang berhasil diselamatkan dilarang beredar, tidak cukup itu, pemerintah juga membakar perpustakaannya, mengacaukan kehidupan keluarganya. 

Membaca buku ini tidak hanya menyulut empati terhadap kemanusiaan, tapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa golongan muda di negeri ini harus berbenah, betapa rendahnya kemampuan memproduksi sehingga memiliki mental lembek, hanya mau jadi pesuruh. 

Saya Terbakar Amarah Sendirian seperti buku yang sangat pribadi mengenai sosok Pram, dan di balik lembarnya saya seolah mendengar  Pram sedang menasehati saya. Hahaha. 

Golongan muda, saya rasa buku ini memang ditulis untuk kita.  

Membaca Manifesto Komunis




“Seluruh sejarah adalah sejarah perjuangan kelas, sejarah perjuangan antara kelas yang dihisap dengan yang menghisap, antara kelas yang dikuasai dengan yang menguasai dalam berbagai tingkat perkembangan masyarakat.”
 6/30.

Saya menyelesaikan Manifesto Komunis di malam Paskah, saat suasana hening karena orang rumah ke gereja. Karya Karl Marx dan Frederick Engels yang pertama kali terbit tahun 1848 ini tidak terlalu tebal, tapi saya membacanya dengan lambat, tidak mau berlanjut sebelum paham.

Buku yang diterbitkan di Inggris beberapa minggu sebelum Revolusi Perancis meletus ini telah menginjak usia 170 tahun saat saya membacanya. 170 tahun yang panjang. Mereka menerbitkan tulisan ini karena ditugaskan untuk menyiapkan program partai yang lengkap secara teori dan praktek. Saat itu mereka berdua bernaung di bawah Liga Komunis, perhimpunan kaum buruh dari Jerman yang berhasil menarik massa dari berbagai negara. 

Secara keseluruhan buku ini menjelaskan tentang apa itu komunis, seperti apa sistemnya, apa tujuannya dan bagaimana cara mencapainya.

Ada empat bagian dalam buku ini. Bagian pertama dimulai dengan apa yang dimaksud kaum komunis dan apa yang menjadi tujuannya. Dijelaskan pula tentang kelas secara umum, bagaimana perubahan masyarakat feodal hingga kelahiran kelas-kelas borjuis dan proletar.

Bagian kedua berisi tentang hubungan antarkelas, di bagian ini penulis menjelaskan bahwa hubungan antarkelas selalu melahirkan eksploitasi. Karena untuk menjadi kapitalis, seseorang tidak saja harus mempunyai kedudukan perseorangan semata, tetapi kedudukan sosial dalam produksi. Karena kapital adalah suatu hasil kolektif, dan hanya dapat digerakkan oleh tindakan bersama dari banyak anggota, malah lebih dari itu, pada tingkatan terakhir, kapitalis hanya dapat digerakkan oleh tindakan bersama dari semua anggota masyarakat.

Sementara itu bagian ketiga berisi tentang berbagai literatur sosialis dan komunis. Penulis menjelaskan jenis-jenis sosialis dan saya rasa ini seperti kritik. Bagian ini tidak kalah menarik untuk dipahami mendalam.

Sedangkan bagian terakhir diisi dengan partai dari negara dan kelompok apa saja yang pernah bekerjasama dengan komunis. Ada beberapa negara yang disebutkan di dalam buku. Misalnya di Inggris, Swiss, Polandia, Jerman, bahkan bersama-sama mewujudkan reforma agraria di Amerika. Pada bagian ini penulis berharap agar pergerakan bisa mencontoh revolusi yang sudah ada, mempelajari apa yang membuatnya berhasil maupun gagal. Tulisan dua sahabat ini sangat fenomenal.

Bagian akhir ditutup dengan kalimat khas " Kaum buruh di seluruh dunia, bersatulah!"

Buku ini worth reading. Bagi siapa saja. Supaya ungkapan Bekerja bukan untuk menderita maupun membuat menderita orang lain menjadi nyata.

Bisa dikatakan saya terlambat membaca buku ini, di usia
21 tahun. Harusnya sejak SMA saya sudah memahami konsep kapitalisme dan komunisme :’)

Well, seperti kata Marx dan Engels, working men of all countries, unite!

Selamat hari Minggu dan jangan lupa sadar :p


Friday, March 30, 2018

[Review] Menyelami Kisah-Kisah Bunuh Diri di Novel Norwegian Wood

kalau kita membaca buku yang sama dengan yang dibaca orang lain, kita cuma bisa berpikir seperti orang lain (45).

Buku ke lima yang saya baca.

Kali ini saya membaca buku Norwegian Wood karya penulis terkenal dari Jepang, Haruki Murakami. Ini adalah karya pertamanya yang saya baca setelah saya anggurkan dua tahun. Buku ini bercerita tentang Watanabe, seorang pemuda dari Kobe yang mencintai gadis bernama Naoko, kekasih dari sahabat baiknya, Kizuki yang bunuh diri selepas bermain bilyard bersamanya ketika mereka masih SMA.

Untuk melupakan kenangan tentang Kizuki, Watanabe melanjutkan pendidikan di Tokyo. Tinggal di asrama dan berjanji memulai hidup yang baru. Namun Tokyo ternyata menjadi tempat di mana dia tidak sengaja bertemu dengan Naoko, gadis yang dulu tidak begitu dikenalnya. Pertemuan tidak sengaja itu akhirnya mendekatkan mereka, mereka sama-sama saling membutuhkan karena dengan kehadiran mereka satu sama lain maka sosok Kizuki akan selalu hidup meski mereka tidak berani membicarakan Kizuki sama sekali ketika mengobrol. Lambat laun Watanabe menyukai gadis ini.

Jauh dari kesan sedih, saya justru merinding membaca buku ini. Mungkin Norwegian Wood layak disebut cerita tentang psikologis. Haruki Murakami berhasil menceritakan proses gangguan jiwa dengan indah. Menghadirkan tokoh-tokoh yang sangat hidup dan berkesan, hingga saya menutup buku ini, sosok-sosok itu seakan nyata. Ada Nagasawa yang tidak pernah putus asa dan kekasihnya Hatsumi yang terlalu menyukai sesuatu hingga lupa bagaimana caranya realistis.

Ada pula tokoh Midori, seorang gadis ceria yang terlalu cepat dewasa yang merupakan teman sekelas Watanabe di matakuliah Sejarah Drama II. Midori menurut saya adalah satu-satunya tokoh waras di sini meskipun hal-hal yang dia lakukan menyimpang.

Tokoh berikutnya adalah Reiko, perempuan usia 40 tahun yang jago bermain piano dan digadang-gadang akan jadi pianis terkenal sampai akhirnya masa depannya kacau karena dia dianggap lesbian.

Secara keseluruhan novel 423 halaman ini sangat bagus. Saya selesaikan hanya sehari, mulai dari diksi, alur, dan tema, semuanya dikemas dengan rapi dan detail. Tidak ada bagian yang kosong, semuanya tersambung dan tertata dengan baik. Saya ingin menyelami pikiran tokoh-tokoh ciptaan Haruki, kadang saya berpikir apakah mereka ini nyata, apakah saya bisa bertemu orang seperti Naoko, Reiko, atau Watanabe.

Saya mungkin terdengar munafik, tapi kita semua berhak memutuskan apakah ingin melanjutkan hidup atau tidak ketika kita sudah tidak memiliki tanggung jawab moral terhadap apapun dan siapapun. Tapi novel ini memberikan pemahaman yang lebih dari pada ini, bahwa kematian sering kali dipilih karena ketidakberdayaan, bukan karena merasa tercukupi. Setelah tokoh Holden Caulfield di buku Catcher in the Rye karya J.D Salinger, kini saya selalu terbayang-bayang tokoh Naoko. Mereka adalah tokoh yang melawan, sebisa mungkin berusaha terlihat waras di depan orang lain, di hadapan masyarakat yang sebenarnya tidak memahami satu hal pun tentang mereka. 

Norwergian Wood adalah novel dewasa, saya lebih dulu menonton filmnya dan bukunya jauh lebih indah. Di film kita tidak bisa menerima dengan baik bagaimana proses menjadi gila terjadi, namun dengan membaca kita bisa memahaminya, meresapi bagaimana jiwa terancam hingga menyerah dan memilih mengurung semuanya sendirian. Semua rasa sepi, bingung, putus asa, takut, jiwa yang terancam.

Alur yang digunakan adalah alur mundur, penulis menggunakan lagu Norwegian Wood dari The Beatles untuk menghantar pembaca mundur ke tahun 1969, ketika Watanabe masih berusia 19 tahun, jelang 20 tahun. 

Haruki berhasil membuat tertawa dan merinding. Caranya menuturkan kisah sangat menawan, saya tertawa di beberapa bagian dan merinding di bagian lainnya. Ini adalah buku yang saya rekomendasikan untuk mengisi akhir pekan, buku ringan namun memiliki pesan-pesan khusus, terlebih jika kalian memiliki orang terdekat yang menderita gangguan jiwa. Saya tidak bisa berhenti membacanya sejak membuka halaman pertama, novel ini saya beli tahun 2016 tapi baru bisa dibaca hari ini. Ada banyak kisah tentang bunuh diri di dalamnya dan bagi saya buku ini sangat berarti.

Seperti yang disampaikan Haruki melalui sosok Nagasawan, kalau kita membaca buku yang sama dengan yang dibaca orang lain, kita cuma bisa berpikir seperti orang lain (45).

Semoga kita memiliki waktu untuk bersenang-senang dengan buku, tentu saja buku-buku bagus.

Wednesday, March 28, 2018

PANJANG UMUR PERJUANGAN

"Saya selalu percaya bahwa bangsa Indonesia punya dua cara untuk menjadikan Indonesia sesuai dengan yang diharapkan. Menuntut perubahan dan menciptakan perubahan. -Pandji Pragiwaksono.
Aku berharap aku bukan satu-satunya anak muda yang terpacu oleh kalimat ini. aku juga setuju bahwa ada dua jenis anak muda di dunia, mereka yang menuntut perubahan dan mereka yang menciptakan perubahan, semoga kita bagian yang kedua.
Hari ini adalah Hari Pahlawan, seperti biasa momentum seperti ini akan menjadi satu hari spesial di mana nasionalisme semua orang ditunjukkan. Walaupun aku tahu mereka hanya akan mengenangnya hari ini. Hanya hari ini, hari berikutnya mereka dilupakan, seolah Indonesia ada dengan sendirinya tanpa ada perjuangan.
Indonesia sudah merdeka, terimakasih para pahlawan, setidaknya aku lahir tanpa iringan meriam dan aroma mesiu.
Tapi lihatlah, kita hanya memiliki kemerdekaan tetapi tidak merasakannya. Merdeka berarti bebas, bebas menentukan masa depan bangsa sendiri. Dan sialnya masa depan bangsa ini memang dipertaruhkan sebebas-bebasnya oleh segelintir orang.
Jadi siapa yang saat ini merdeka ? Rakyat Indonesia atau hanya orang-orang tertentu ?
Aku juga sering merasakan, sebenarnya Indonesia ini yang mana ? Indonesia adalah pulau Jawa. Itu yang aku rasakan selama ini.
Membuatku berpikir bahwa Indonesia adalah di mana kita lahir. Aku lahir di Kalimantan Barat, Indonesia adalah Kalimantan Barat. Padahal pikiran itu salah, tapi terlanjur aku paksakan benar karena kenyataannya semua yang diputuskan di negara ini berpatokan dari kejadian yang terjadi di tanah Jawa.
Ah aku terlalu cemburu.
Keadaan ini pula yang membuatku sadar, bahwa selamanya Indonesiaku (tempatku) akan menjadi seperti ini jika aku hanya menuntut tanpa melakukan apapun.
Perjuangan belum berakhir. Kemerdekaan telah ada, tapi tidak dirasakan semua pihak. Aku selalu teringat sebuah kampung kecil di Kapuas Hulu, namanya Nanga Sungai. Sebuah tempat yang mungkin belum terpetakan di Google map. Desa itu terletak di kecamatan Banua Martinus, sekitar dua jam dari Putussibau, pusat kota Kapuas Hulu.
Nanga sungai merupakan desa yang kecil, tidak lebih dari 50 kepala keluarga tinggal di sana. Sebuah perkampungan Dayak yang tenteram tanpa kemajuan meskipun penduduknya sudah tidak tinggal di rumah betang. Sebuah desa tertinggal yang tiap rumah dikepalai oleh seorang ibu, karena kaum lelaki meninggalkan kampung untuk bekerja di tempat lain.
Tidak ada penerangan di sana, malam hari perkampungan itu sunyi senyap, hanya muncul cahaya-cahaya kecil dari celah rumah papan penduduk, hiburan setiap malam adalah mendengarkan radio. Siaran berita RRI PRO 1 merupakan siaran yang paling sering didengarkan, dalam keheningan malam suara siaran tetangga bahkan dapat terdengar jelas.
Desa ini memiliki rumah sekolah tapi hanya sampai Sekolah Dasar, jenjang berikutnya harus ditempuh di sekolah yang terletak di kecamatan, tidak jauh memang tapi kondisi sekolah di sini sangat memprihatinkan. Muridnya sedikit, dari kelas satu sampai kelas enam jumlahnya tidak lebih dari 20 siswa, dengan guru yang hanya berjumlah tiga orang.
Minat belajar anak-anak di sini tinggi, aku tahu karena aku melihatnya sendiri. Mereka sangat giat belajar tapi sayangnya media belajar mereka sangat terbatas. Sekolah ini kekurangan buku. 
Yang tersedia hanya buku paket, tidak ada buku lain. Mereka rajin ke sekolah, seragam mereka memang tidak rapi tapi mereka sangat berusaha untuk hadir ke sekolah menggunakan seragam yang lengkap. Mereka mengenakan dasi dan topi, sepatu hitam walaupun kaos kaki mereka sudah melorot. Mereka melaksanakan upacara pengibaran bendera tiap hari Senin, dengan jumlah mereka yang sedikit lagu Indoensia Raya benar-benar terdengar seperti lagu yang dinyanyikan sekelompok orang sambil berlari.
Belum genap dua tahun yang lalu aku mengunjungi desa ini. Aku sampai menangis melihat betapa tertinggalnya pembangunan di Nanga Sungai. Mobil tidak bisa masuk ke sini, sepeda motor adalah satu-satunya kendaraan mewah yang bisa kita temui di halaman rumah penduduk. Tapi jangan heran, motor-motor tersebut bernomor kendaraan Malaysia. Karena memang itu adalah motor Malaysia yang dibeli secara ilegal. Produk Malaysia bukan hal yang asing di sini.
Pekerjaan sehari-hari masyarakat di sini adalah bertani, perempuan-perempuan pergi ke ladang setiap hari, pekerjaan mereka adalah menanam padi dan mengurusi anak, sementara suami mereka bekerja di daerah lain dan mereka hanya berkumpul sesekali, biasanya para lelaki akan pulang ketika Natal. Natal adalah satu-satunya hari di mana Nanga Sungai memiliki banyak kaum lelaki.
Nanga sungai adalah wajah lain dari Indonesia, Indonesia yang luas. Indonesia yang sebentar lagi akan menghadapi MEA, bersaing bersama negara-negara tetangga yang sudah siap berlari. Ibaratkan sebuah tim yang mengikuti lomba lari, Indonesia merupakan tim yang memutuskan mengikuti lomba lari karena pelari depan mereka sudah cukup dilatih sementara pelari di belakang masih terluka di sana sini.
Pemerintah daerah tiap tahun menjanjikan akan menyediakan penerangan di kampung ini, tapi sepertinya mereka lupa meletakkan kembali kepala  mereka yang dia fakt terlalu tinggi ketika bicara, sehingga mereka lupa pada hal-hal yang telah keluar dari pikiran kotor mereka.
Tuntutan oleh pihak-pihak yang masih peduli pada nasib kampung ini seolah tidak didengar, mungkin dianggap tidak ada. 
Setelah menghabiskan beberapa hari di nanga sungai dan mendapat kesan bahwa tempat itu memang jauh dari kata maju aku bertanya pada kakek  mengapa mereka tidak menerima industri perkebunan kelapa sawit saja supaya penbangunan di sana dapat dilaksanakan. 
Kita bisa meminta listrik dan perbaikan jalan pada perusahaan yang akan mengubah tanah seluas 12.653 hektar menjadi lahan perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Embaloh Hulu, aku mengungkapkan kalimat itu dihadapan orang yang pernah bersumpah tidak akan menyerahkan barang sejengkal pun tanah Tamambaloh untuk perkebunan kelapa sawit. 
Sore itu tidak akan kulupakan, sebuah sore tenang di rumah betang Balimbis, aku dan kakek menikmati ubi goreng buatan bibi dan kakek menjawab ucapanku dengan kalimat pendek, "kita masih bisa hidup tanpa mengadaikan masa depan anak cucu kita, tong".
Kalimat kakek sangat membekas di hatiku sampai saat ini. Kalimat yang menyadarkanku bahwa perubahan memang perlu tapi tidak perlu jika harus mengorbankan masa depan generasi berikutnya.
Kalau begitu kapan Nanga Sungai akan berubah, kapan akan ada listrik di sana, kapan aku melihat anak-anak membaca buku tentang cerita rakyat daerah di perpustakaan sekolah ? Kapan aku melihat sebuah keluarga utuh dengan ayah dan ibu yang lengkap ? Kapan orang-orang ini bisa menyaksikan siaran televisi sepuasnya tanpa takut listrik tiba-tiba padam karena mesinnya kehabisan bensin ? Kapan orang-orang ini bisa merasakan menjadi orang Indonesia yang merdeka ?
Kapan-kapan.
Intinya, Nanga Sungai tidak akan berubah hanya karena satu anak menuliskan betapa tertinggalnya kampung itu. 
Perubahan hanya akan terjadi jika ada yang melakukannya. Apa yang bisa kulakukan selain mengajar anak-anak semangat itu ketika aku datang ke sana ? Aku sadar perjuangan masih panjang. Aku berharap semesta berpihak padaku dan pada orang-orang baik lainnya yang masih peduli pada Nanga Sungai dan pada hal-hal yang terabaikan dan terlantar.
Kalimat Pandji Pragiwkasono bukan sekedar kalimat biasa bagiku. Saat ini aku hanya seorang mahasiswi hukum yang bahkan merasa salah jurusan, tapi aku dengan sangat sadar ingin menjadi orang kecil yang melakukan perubahan. Anak-anak SD di Nanga Sungai membuatku bersyukur setidaknya aku bisa bersekolah dan mengecap pendidikan yang layak serta bisa belajar tanpa batas.
Wajah mereka sangat polos ketika aku datang ke SDN 10 Nanga Sungai, tanpa malu-malu mereka memintaku mengajari mereka berbahasa Inggris, aku mengajari mereka dengan perasaan campur aduk, kadang lucu, kadang kesal, kadang kasihan, dan mereka terperangah ketika aku mengajak mereka belajar sejarah dan untuk menyemangati mereka aku menceritakan sosok gubernur pertama Kalimantan Barat yang merupakan orang Dayak. Orang yang berasal dari sebuah kampung kecil lainnya di wilayah Mendalam. Aku meminta mereka menyebutkan cita-cita mereka. Ada yang ingin menjadi camat, ada yang ingin menjadi guru, ada yang ingin menjadi petani yang kaya. Hahaha mereka benar-benar polos.
Ketika aku meminta mereka bertanya salah seorang mengacugkan jari dan dengan polosnya bertanya, "Kak Rani, Pontianak itu seperti apa ?" 
Tidak seorangpun di antara mereka pernah pergi ke Pontianak, lalu aku memperlihatkan beberapa foto di hpku. Ketika aku perlihatkan beberapa foto di handphone ku mereka berdecak kagum. "Waaaaw Pontianak terang ya." Ah adik-adikku, Jakarta sepuluh kali lebih terang dari Pontianak.
Aku tidak akan lupa pada mereka, pada senyum ramah ibu-ibu di Nanga Sungai, pada suara jangkrik di sore hari menjelang malam, pada suara radio RRI PRO 1, aku tidak akan lupa pada kalimat Pandji Pragiwaksono itu. Banyak hal yang harus diperjuangkan, banyak hal yang harus diperbaiki. Perubahan hanya akan terjadi jika ada yang berbuat. 

Selamat hari pahlawan. Panjang umur perjuangan.

(Tulisan saya di tahun 2015).


This entry was posted in

Ikan Tapah dan Kearifan Lokal Masyarakat Dayak Tamambaloh di Nanga Sungai

Ikan Tapah, Predator Raksasa di Perairan Kalimantan

Pandoan, anak sungai yang berada di Sungai Tamambaloh, letaknya di antara Nanga Sungai dan Paat, dua kampung yang tergabung dalam Desa Saujung Giling Manik, Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu. Foto: Ache Salalona

Selain ikan Arwana atau ikan siluk, ikan tapah juga cukup dikenal di daerah Kapuas Hulu. Ikan jenis Wallago ini sering disebut sebagai ikan raksasa karena ukurannya yang cukup besar. Sebagai karnivora, ikan tapah sering menyerang lawannya ketika merasa terancam. Maka jangan kaget jika membaca berita di portal media daring mengenai penyerangan yang dilakukan oleh predator raksasa ini. Meski secara pribadi saya belum pernah menjadi korban atau melihat orang di sekitar saya diserang ikan tapah.

Ikan tapah tersebar di beberapa daerah, seperti Kalimantan dan daerah Sarawak, Malaysia. Namun saat ini keberadaan ikan tapah sudah semakin jarang ditemui, termasuk di Kapuas Hulu.

Kabupaten konservasi yang layak disebut laboratorium alam ini nyatanya tidak juga membuat betah ikan-ikan tapah. Namun ini tidak hanya terjadi di Kapuas Hulu dan pada ikan tapah, keberadaan ikan air tawar memang sudah selayaknya jadi perhatian bersama. Seperti yang tertulis di situs berita lingkungan, Mongabay, populasi ikan air tawar mendesak untuk dilindungi.

Seperti yang tercatat di sana, di Indonesia saat ini sebanyak 8500 spesies ikan air tawar hidup di perairan tanah air atu 26 persen dari spesies ikan dunia. Keberadaan ikan air tawar juga semestinya diperhitungkan, pemerintah Indonesia seharusnya tidak hanya konsentrasi melindungi ikan di laut.

Di tengah ramainya seruan untuk melindungi populasi ikan air tawar, ada komunitas tertentu yang justru telah melakukan upaya pelestarian melalui pengetahuan yang diwariskan oleh nenek moyang.

Ikan tapah memiliki bentuk tubuh seperti pisau dengan kumis yang menjadi ciri khasnya. Panjangnya bisa mencapai 2,4 meter. Di daerah Sarawak ikan ini memiliki legenda tersendiri. Dengan ukuran raksasa ini, mendapatkan ikan tapah merupakan sebuah rejeki, selain ukurannya yang besar, dagingnya juga gurih.

Di Kapuas Hulu ikan tapah sudah jarang dikonsumsi karena populasinya yang semakin berkurang. Namun ada satu daerah yang setiap tahun selalu didatangi ikan tapah, sebuah kampung kecil di Kecamatan Embaloh Hulu yang dikenal sebagai Nanga Sungai.

Kampung kecil yang belum teraliri listrik ini memang menyimpan keunikannya sendiri. Dibanding perkampungan lain di Kapuas Hulu, Nanga Sungai menyimpan banyak eksotisme khas pedalaman Kalimantan, hutan belantaranya masih terjaga, begitu juga biota sungainya. Aktivitas sehari-hari tanpa bantuan tenaga listrik membuat Nanga Sungai seperti dimensi lain di tengah hiruk pikuk masa ini.

Sebuah anak sungai di perbatasan Nanga Sungai dan kampung di sebelahnya, Paat bernama Pandoan menjadi tempat di mana ikan tapah datang tiga kali dalam setahun, kedatangan pertama untuk memantau keadaan atau dalam bahasa Tamambaloh disebut mabas kedatangan kedua untuk bertelur kemudian kedatangan ketiga untuk mengeluarkan telur dan melepas anak-anaknya.

Perlakuan masyarakat terhadap alam membuat kondisi air sungai baik untuk biota air tawar. Maka tidak heran, ketika daerah lain di Kapuas Hulu mulai jarang didatangi ikan tapah, Nanga Sungai justru bisa panen ikan berkumis ini setahun sekali. 

Panen ikan tapah menjadi agenda tahunan yang sudah dilakukan turun-temurun, ritual adat juga menyertai kegiatan ini, kegiatan yang hanya dilakukan di Nanga Sungai karena desa-desa lain tidak  lagi didatangi ikan tapah. 

Mamakar Tapah, Kearifan Lokal Masyarakat Dayak Tamambaloh di Nanga Sungai

Masyarakat Nanga Sungai bergotong royong membuat perangkap ikan tapah
Seperti yang diterangkan Tamanggung Tamambaloh, Pius Onyang ST, mamakar tapah  merupakan kegiatan tahunan yang dilakukan masyarakat Nanga Sungai. Panen ikan tapah besar-besaran ini dilakukan setahun sekali, hasilnya berlimpah, tidak hanya dikonsumsi bersama keluarga, sebagaian memilih menjualnya keluar kampung.

Mamakar tapah sendiri adalah proses memasang perangkap ketika air sungai agak surut, perangkap yang dipasang harus panjang, sekitar 3 meter. Pemasangan perangkap dilakukan sekitar dua minggu sebelum masyarakat bersama-sama mengail ikan. Penangkapan ikan biasanya dilakukan di bulan September maupun Oktober.

Proses mamakar tapah diawali dengan ritual adat, yaitu pamindara. Tetua adat akan memanggil roh leluhur, mengucapkan permisi agar mereka turut menjaga ikan-ikan tersebut sehingga pintu rezeki mereka tidak tertutup. Pamindara juga dilakukan sebagai tanda bahwa mereka tidak akan mengambil lebih dari yang dibutuhkan.
Tamanggung Tamambaloh, Pius Onyang ST mengadakan upacara pamindara sebelum kegiatan mamakar tapah dimulai.
Setelah pamindara, masyarakat bergotong royong membuat perangkap. Perangkap dibuat dari bambu, dalam proses ini pihak laki-laki yang banyak bekerja, sedangkan perempuan menyiapkan makanan. Ketika proses mengail ikan maka laki-laki maupun perempuan semuanya turun ke sungai. Karena pekerjaan dilakukan secara gotong royong maka pembagiannya juga dilakukan secara merata.

Penangkan masih menggunakan cara tradisional, dia menegaskan tidak diperbolehkan menangkap ikan menggunakan alat yang membahayakan keberlangsungan ikan-ikan di sungai, hal ini sudah diatur dalam hukum adat masyarakat Tamambaloh. Khusus di Nanga Sungai, aturan ini sangat dijaga ketat karena itulah daerah ini dikenal menghasilkan banyak ikan sejak dulu. Ini tidak terlepas dari konsep mengambil seperlunya dari alam. Pengetahuan nenek moyang yang mereka warisi juga membuat mereka tahu bulan-bulan apa saja ikan tapah mudik, aktivitas apa yang tidak boleh dilakukan mendekati masa-masa itu. Hingga kondisi lingkungan seperti apa yang nyaman untuk ikan tapah. 

"Selama kita masih perlu makan, maka lingkungan harus kita jaga karena kita hidup dari sana, tanah, hutan, air, tiga hal ini ibaratkan nadi kita," ucapnya mengingatkan mengapa tidak boleh menggunakan alat berbahaya saat menangkap ikan, hasil tangkapan saat itu memang banyak, namun semuanya akan mati, tidak ada lagi untuk hari depan. 

Begitu juga prinsip kekeluargaan dan keadilan yang masih dipegang teguh masyarakat di Nanga Sungai, dalam kegiatan mamakar tapah maupun saat menangkapnya, semua warga akan turun, biasanya tiga hari penuh warga Nanga Sungai akan melaksanakan panen ikan tapah hasilnya akan dibagi rata per kepala keluarga.

Dia menuturkan, tahun 1959 dan 1968 merupakan tahun di mana tangkapan mereka sangat besar, kala itu lebih dari 1.000 ekor ikan tapah tertangkap. Saat itu populasi ikan tapah masih jauh lebih banyak dibandingkan sekarang. Meski demikian dia optimis ikan-ikan ini tidak akan hilang dari Nanga Sungai karena mereka selalu menjaga kondisi air, mempertahankan kearifan lokal, sebuah pengetahuan tua yang diwariskan turun temurun, upaya konservasi paling sederhana yang pernah ada.

Tahun 2017, kabar warga Nanga Sungai yang memanen ikan tapah sampai disorot oleh media-media mainstream. Banyak yang heran bagaimana bisa mendapat ikan sebanyak itu. Bahkan ada yang mengira ikan ini hasil budidaya masyarakat. Padahal warga Nanga Sungai hanya menyediakan tempat alami bagi ikan-ikan yang akan menetaskan telurnya dan melepas anak-anaknya. Tidak ada penangkaran ikan di Nanga Sungai. Ikan-ikan tapah yang masih kecil dibiarkan lewat, tahun depan mereka akan datang kembali, melihat-lihat kondisi di sana, menetaskan telur dan melepaskan anak-anaknya, siklus ini terjadi setiap tahun.

Perangkap dibuat dengan ukuran panjang.
Camat Embaloh Hulu, Hermanus Susanto juga menuturkan pada saya bahwa 7 tahun yang lalu ada beberapa lokasi yang menjadi tempat masuknya ikan tapah, tidak hanya di Nanga Sungai tapi juga di desa lain seperti Ulak Paok dan Nanga Tamao. Namun seiring dengan aktivitas pertanian yang menggunakan pestisida maka populasi ikan tapah di sana jadi berkurang bahkan saat ini sudah tidak pernah dimasuki lagi.

Dia menjelaskan Nanga Sungai bertahan dimasuki Tapah tidak hanya karena memiliki liang yang besar di dasar sungainya, namun kehati-hatian masyarakat dalam melakukan aktivitas perladangan di sekitar wilayah datangnya ikan tapah sangat berpengaruh.

"Masyarakat Nanga Sungai sangat berhati-hati ketika berladang di sekitar perhuluan sungai. Mereka disiplin dalam melidungi kawasan tersebut," ujarnya.

Pengetahuan-pengetahuan nenek moyang juga bertransformasi dengan sangat baik sehingga sampai saat ini masyarakat Nanga Sungai tahu kapan ikan tersebut datang untuk kali pertama, kali kedua, hingga kapan saat yang tepat untuk menangkapnya, bahkan ukuran seperti apa yang boleh ditangkap juga ditaati. Dia berharap kearifan lokal ini tetap terjaga, bahkan dia memiliki rencana agar kearifan lokal ini dibuatkan Perdes sehingga pengelolaannya dapat lebih terorganisir.
 
Setiap tahun masyarakat Nanga Sungai memiliki kegiatan menyenangkan, menangkap ikan bersama-sama, satu kampung. Hasilnya juga sangat berlimpah, tapi mereka tidak menangkap semuanya, anak-anak ikan dibiarkan lepas, kondisi air tetap dijaga karena dengan demikian ikan-ikan akan kembali menuju liang sungai mereka yang dalam dan lapang, itu adalah penangkaran terbaik yang alam sediakan.

Bisa dibayangkan keseruannya, saat semua warga turun ke sungai, bergotong royong memanen apa yang telah mereka usahakan bersama, tidak ada lelah yang sia-sia. Dalam kebersamaan, jerih payah itu terasa sangat nikmat. Bagi mereka, alam telah menyediakan apa yang mereka butuhkan, tidak ada hal lain yang bisa dilakukan selain menjaganya agar tetap lestari. Mereka yang sederhana dan jauh dari kata modern, mereka yang selalu bersyukur dengan apa yang telah alam sediakan. Mereka yang mengambil secukupnya, tanpa menyakiti, tanpa menghabisi.
This entry was posted in