Wednesday, September 11, 2019

Dua Hari yang Mencerahkan di Narasi Content Creator Workshop Pontianak

Narasi Content Creator Workshop

Ada yang tetap cerah dan berwarna-warni meski kabut asap di Pontianak membuat langit jadi pucat.
Belum habis rasa senang saya setelah melakukan perjalanan ke pedalaman lintas utara Kapuas Hulu, saya kembali mendapat pengalaman seru bersama orang-orang yang menginspirasi. Kali ini saya terpilih menjadi satu dari 25 peserta content creator workshop yang diadakan Narasi di Pontianak.

Pontianak jadi kota ke-9 yang didatangi Narasi dan kabarnya menjadi kota yang antusiasnya cukup tinggi. Terbukti dari jumlah pengirim karya yang menyentuh angka 330 orang, berada di urutan kedua setelah Surabaya. Dari 330 orang yang mengirimkan karya, 25 orang dipilih untuk mengikuti workshop selama dua hari di Hotel Mercure, Pontianak.

Saya senang banget dong! apalagi pematerinya wagilaseh semua. Jadi teringat waktu saya subbmit karya, di bawah pohon tengkawang yang teduh karena di sanalah spot yang bisa terkoneksi dengan internet. Maklum saya sedang melakukan tugas lapangan waktu itu. 

Workshop dihadiri oleh teman-teman dari beragam latar belakang pekerjaan dengan aktivitas karya yang luar biasa dan tidak tertebak. Ada seorang guru matematika yang jadi youtuber misalnya, atau seorang teller yang dikenal sebagai blogger, dari mereka saya semakin memahami bahwa pekerjaan tidak selalu menggambarkan identitas diri. Kamu bisa saja bolak-balik ruang sidang sebagai advokat bertampang galak tapi jadi penulis manis di balik layar, kan? hehe.

The New Wave of Creative Journalism 

credit to: Narasi 

Setelah workshop dibuka dengan pengenalan Narasi tv oleh kak Amanda, jurnalis senior, Imam Wahyudi menjadi pembicara pertama yang berbagi ilmu pada peserta. Beliau banyak memberikan pengetahuan agar peserta bisa menerapkan nilai-nilai jurnalisme dalam karyanya. 

Ada sembilan nilai jurnalisme, yaitu:
  • Pencarian kebenaran
  • Disiplin verifikasi
  • Independen
  • Loyalitas kepada warga negara
  • Memantau kekuasaan
  • Forum saling kritik dan menemukan kompromi
  • Menyampaikan hal penting secara menarik dan relevan
  • Komprehensif dan profesional
  • Mendengarkan hati nurani
"Konten baik itu  mutlak, konten bagus relatif, dan viral hanyalah bonus." - Imam Wahyudi
Dia berpesan agar content creator bertanggung jawab pada konten yang dibuatnya. Karena kita tidak bisa membendung dampak dari sebuah karya di era digital ini.

Content Creator for Social Change

credit to: Narasi 

Materi dari om Imam semakin diperkuat oleh pasangan peneliti dan dosen, Rara Sekar dan Ben Laksana dari Arkademy Project. Mereka mengajak peserta untuk tidak sekadar berkarya, tapi juga menghargai karya dan manusia itu sendiri. 

Di awal materi mereka melemparkan pertanyaan, apa tiga hal yang mendorongmu berkarya? Sebuah pertanyaan reflektif yang tepat untuk menyiapkan diri menerima ilmu dari mereka.  Rara dan Ben menyampaikan materi seputar fotografi kritis. 

Fotografi merupakan pengetahuan berbentuk visual yang sifatnya tidak netral karena medium fotografi tidak mampu merepresentasikan kebenaran secara menyeluruh. Makanya kita harus kritis terhadap sebuah karya. Bagaimana agar bisa kritis? kita harus mengubah asumsi menjadi sebuah pertanyaan.
"Seorang content creator merupakan educator bagi para penikmat karyanya." - Rara dan Ben
Tidak kalah penting adalah tanggung jawab terhadap karya yang dihasilkan karena content creator berperan pula sebagai educator. Menurut Rara dan Ben, ada tiga hal yang harus dimiliki seorang content creator sekaligus educator, yaitu:
  • Reflektif dan kritis
  • Empati dan keberpihakan
  • Kreativitas
Kadang keberpihakan jadi point penting yang sering dilupakan oleh pembuat karya. Untuk teman-teman, mulai sekarang yuk semakin tegas perlihatkan keberpihakan kita pada siapa. Jangan kayak bunglon. Heeee.

Being Authenthic, Being You

credit to: Narasi 
Pemateri selanjutnya adalah Gupta Sitorus, seorang brand specialist yang mengajari peserta workshop untuk menjadi pembuat karya yang menghasilkan karya otentik dan memiliki ciri khas.
"Brand adalah reputasi yang ada di kepala konsumen." - Gupta Sitorus
Materi ini tidak kalah pentingnya karena kita sudah hidup di masa di mana semua orang melakukan cut, copy, and paste. Semua karya terlihat sama, nyaris hambar dan membosankan. Agar karya kami tidak begitu, maka Gupta mengajari peserta untuk membentuk personal brand dengan cara menjawab tiga pertanyaan, yaitu:


  • Siapa target kontenmu?
  • Apa yang membuatnya menarik?
  • Apa yang membuatnya berbeda ?
Kelas dari Gupta Sitorus jadi kelas terakhir yang kami terima di workshop hari pertama. Sebelumnya kami telah dibagi ke dalam kelompok dan om Imam memberi kami tugas untuk membuat karya kolaborasi yang akan ditampilkan di hari kedua.


credit to: Narasi 


Creating Good Content through Collaboration and Community

credit to: Narasi
Hari kedua tidak kalah serunya. Pagi-pagi kami sudah dibuat semangat dengan kehadiran Najwa Shihab. Dia berkeliling ruangan menyalami peserta satu per satu. Ya ampun, mbak Nana, udah ngadain acara sekeren ini, eh sekarang malah dia juga yang nyalamin peserta satu per satu hahaha.

Mbak Nana sharing tentang pengalamannya membangun Narasi. Startup ini bertabur anak-anak muda kreatif yang tidak pernah lelah belajar. Semangat belajar inilah yang juga selalu dirawat oleh mbak Nana. Di posisinya yang sekarang, dia mengaku tak pernah bosan untuk mempelajari hal baru. Karena pengetahuan selalu berkembang.
"Konten yang menarik adalah konten yang orisinil dan berbeda." - Najwa Shihab
Pokoknya kalau kamu mau berkarya, kamu harus mengonsumsi lebih banyak karya orang terlebih dahulu. Jadi wajar saja konten-konten Narasi selalu segar.  Mbak Nana juga membagi tips bagaimana cara mencari ide yang orisinil. Jawabannya adalah perbanyak membaca dan berimajinasi. 

Kalau sudah dapat kontennya, gimana cara menyampaikannya pada target audiens kita? kalau mbak Nana sih menyarankan untuk menggunakan hype yang sedang terjadi dan gunakan pendekatan yang relate dengan keseharian audiens. 

Journey of a Story

Pemateri terakhir dari workshop ini adalah Agustinus Wibowo, dan saya tidak bisa kalem. Bagaimana tidak, dia adalah penulis yang karya-karyanya saya ikuti. Mulai dari Selimut Debu, Garis Batas, hingga Titik Nol. 

Melalui tulisan-tulisan Agustinus Wibowo, ungkapan dari Mason Cooley yang berbunyi "Membaca memberikan kita sebuah tempat untuk pergi ketika kita tidak bisa pergi ke mana-mana" jadi benar adanya. Senang sekali bisa diajari menulis secara langsung oleh orang yang karyanya berpengaruh terhadap diri saya. 
"Jalan-jalan bukan lagi tentang tempat, tapi keluar dari zona nyaman. Perjalanan membantu kita melihat sesuatu secara subjektif." - Agustinus Wibowo
Saya sering kagum dengan penulis yang mampu menyampaikan fakta yang enak dibaca. Dan beruntungnya, Agustinus Wibowo memberikan tips agar kami bisa menulis fakta dengan cara yang asik, yaitu menulis nonfiksi kreatif. Di mana fakta digabungkan dengan cerita. 

Tapi sebelumnya kita harus membuat peta memori yang terdiri dari lokasi, kejadian, pengamatan, dan perasaan. Setelah itu barulah membangun kerangka tulisan berdasarkan topik dan premis. Singkatnya materi yang diberikan sangat penting sebagai input bagi perkembangan menulis saya.  


credit to: Narasi

Terima Kasih Narasi

Untuk melengkapi catatan panjang ini, saya ingin mengucapkan terima kasih pada tim Narasi yang sudah membuat acara sekeren ini. Terima kasih atas kesempatan belajarnya, atas kesabarannya selama acara. Terima kasih untuk merchandisenya yang ucul-ucul hahaha. Dari acara ini saya jadi kenal lebih banyak teman-teman content creator yang menginspirasi dengan karyanya masing-masing. Selamat menginjak 2 tahun juga btw. Tetap mencerahkan, tetap bertabur anak muda. 

Dan untuk teman-teman peserta Narasi Content Creator Workshop 2019, kalian balak! Semoga selalu gembira dalam berkarya. Seperti yang mbak Nana bilang, manfaatkan kesempatan ini untuk berkolaborasi. Semoga kita bisa kerjasama dan menghasilkan konten positif yang mampu mengangkat lokalitas kita. Senang bisa bertemu kalian. Kini saatnya saya kembali ke pedalaman Kapuas Hulu, bertemu dengan beragam jenis serangga di tengah hutan heee. Akan banyak catatan yang saya bagikan di sini. Semangat selalu dalam karya hidup kita ya, teman-teman!



This entry was posted in

Thursday, May 23, 2019

Ternyata Sawit Tidak Sesuram Itu Di Tangan Para Petani-Petani Mandiri


Sudah lama tidak membagikan sesuatu di sini karena belakangan sedang sibuk keluar masuk blank spot area alias wilayah tak bersinyal. Kali ini saya ingin membagikan pengalaman saya saat mengunjungi petani sawit mandiri di Kabupaten Sintang, tepatnya di Desa Merarai Satu, Kecamatan Sungai Tebelian.


Sebuah perjalanan berkesan yang membuka lebar mata saya tentang komoditas kelapa sawit. Membuat saya tahu betapa beragamnya kondisi yang dialami petani sawit di lapangan. Baik itu dalam hal sumber daya. modal, hingga kemampuan mereka mengakses dana, jasa, dan pasar.


Sebelumnya saya hanya memiliki pemahaman sederhana bahwa sawit membawa kerugian bagi masyarakat kecil. Tapi setelah berkunjung ke Merarai dan bertemu para petani sawit mandiri, pemahaman saya tak lagi sama.


Teman-teman yang asing dengan komoditas ini mungkin belum tahu, ada dua jenis petani untuk komoditas kelapa sawit. Pertama adalah petani plasma, yaitu petani kelapa sawit yang muncul karena perusahaan melibatkan masyarakat lokal dalam perkebunan yang dibangunnya dan menerapkan pola pembagian hasil di dalamnya. Petani plasma ini muncul berdasarkan UU No 98 tahun 2013 yang mewajibkan perusahaan perkebunan kelapa sawit memfasilitasi pembangunan kebun masyarakat seluas 20% dari izin usaha yang diberikan. Jenis kedua adalah petani kelapa sawit mandiri atau swadaya, yaitu petani sawit yang tidak melibatkan pihak lain selain petani itu sendiri.


Petani-petani yang saya temui adalah jenis petani kedua. Mereka adalah petani kelapa sawit mandiri yang berkebun di tanah sendiri, tanpa komando dari perusahaan. Dengan perlakuan yang juga jauh berbeda dibanding perusahaan. Petani-petani ini membentuk kelompok tani dan bergabung dalam sebuah koperasi produksi Rimba Harapan.


Tak hanya cara berkebun mereka yang membuat saya terenyuh, tapi juga perspektif mereka terhadap lingkungan dan ilmu pengetahuan. WWF Indonesia program Kalimantan Barat memberi saya akses untuk berinteraksi langsung dengan mereka, menggali jawaban atas pertanyaan yang bersarang di kepala saya tentang komoditas ini, saya juga jalan-jalan ke kebun, menyaksikan sendiri bagaimana perlakuan mereka terhadap tanah dan tumbuhan yang mereka biarkan hidup di atasnya.

Di kebun sawit yang sudah tua, ya gak ada tumpang sarinya di sini gaes wkwk

Para petani kelapa sawit mandiri yang bergabung di Kopsi Rimba Harapan menerapkan praktik perkebunan yang baik (good agricultural practice). Biasanya petani senang menggunakan pestisida, di sini penggunaannya justru dibatasi. Menurut pak Suratno Warsito, petani sekaligus ketua koperasi, penggunaan pestisida yang berlebih justru mengurangi kualitas tanah. Mereka melakukan pembersihan lahan tanpa membakar dan menerapkan sistem Tanpa Olah Tanah (TOT). Cara kerja yang dianggap gila oleh kebanyakan orang, karena sekarang orang senang yang praktis dan cepat.


Pupuk yang mereka gunakan juga bukan 100% kimia, melainkan 60%kimia dan 40% organik. Bagaimana membuat pupuk organik? mereka memiliki banyak akal untuk membuatnya, memanfaatkan bahan-bahan dari alam di sekitar mereka. Di Rimba Harapan, seorang petani bisa jadi pelatih bagi petani lainnya. Mereka tidak malas belajar, ketika mendapat ilmu baru langsung dibagikan dan diparktikkan bersama. Makanya saya salut dengan mental mereka, meski tingkat pendidikan mereka rendah tapi mereka memiliki pengetahuan mendalam tentang bidang yang mereka geluti.


Para petani kelapa sawit swadaya ini merupakan petani yang bekerja sendiri, kelapa sawit jadi komoditas utama penopang ekonomi keluarga. Tapi belakangan kita semua tahu betapa rendahnya nilai komoditas ini. Beruntungnya petani sawit mandiri di Koperasi Rimba Harapan menerapkan sistem tumpang sari dalam berkebun sawit. Sebelum berusia 5 tahun, pohon-pohon sawit belum besar jadi di sela-selanya bisa ditanami aneka sayur dan buah-buahan. Ini menjadi keuntungan tambahan bagi mereka. 


"Anggota koperasi kita ada yang jadi pengusaha semangka dengan memanfaatkan sistem tumpang sari ini," ucap pak Suratno dengan wajah gembira saat kami mengobrol sambil melihat-lihat kebun sawit yang ditumpang sari dengan sayur-sayuran. Tata kelola kebun seperti ini menurutnya bisa membantu petani bertahan hingga masa panen tiba.


"Kuncinya adalah gigih berusaha, karena kita ini darahnya darah petani ya sehari-hari bertani. Tani sayur, buah, hasilnya kita jual," paparnya.


Saya juga salut dengan kesadaran pak Suratno untuk menjaga keseimbangan alam. Dia menghibahkan tanah seluas tiga hektar lebih miliknya untuk dijadikan rumah bagi satwa liar di sekitar desanya. Tanah tersebut tidak dikelola sama sekali hingga habitat di sana tidak terganggu. Di kawasan hutan milik pak Suratno ini ditemukan 80 jenis tumbuhan dari 50 famili dan dua jenis belum diketahui identitasnya sementara itu jumlah satwa tercatat 27 jenis dari 18 famili. 


"Saya ingin memastikan bahwa kelapa sawit juga bisa jadi perkebunan yang lestari, berkelanjutan" ujarnya. Kalimat yang saya amini karena saya menyaksikan sendiri lestarinya cara bercocok tanam mereka. Lahan mereka tidak ada yang berada di kawasan NKT (Nilai Konservasi Tinggi). Saat ada petani yang ingin bergabung di koperasi maka harus dicek dulu lokasi kebunnya, apakah berada di kawasan hutan atau tidak, karena yang boleh digarap hanyalah lahan di kawasan APL, cara pembukaan lahan juga dipastikan tidak dengan cara dibakar. 

Tentu saja tidak mudah menemukan petani-petani sawit dengan perspektif lingkungan seperti yang saya temui di Rimba Harapan. Mereka sudah melewati banyak hal. Mereka juga sudah menyerap banyak pengetahuan dan mempraktikkannya di lapangan dengan dampingan lembaga. Tahun ini target mereka adalah mendapatkan sertifikat RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) semangat mereka bisa saya lihat dari wajah-wajah sumringah yang saya temui saat itu.


"Petani sawit juga harus maju, mbak," begitu kalimat pak Suratno saat kami mengobrol tentang sertifikasi RSPO. Saya yang tidak begitu familiar dengan istilah-istilah di industri kelapa sawit jadi banyak belajar dari mereka. Di Kalimantan Barat belum ada petani sawit mandiri yang memperoleh RSPO. Saya juga baru tahu ternyata komoditi pertanian harus memiliki Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB). Kalau tidak punya para petani ini akan kesulitan mengakses permodalan karena pihak bank akan mempersulitnya. 


Seperti yang saya katakan di atas, perjumpaan saya dengan petani sawit mandiri di Rimba Harapan akhirnya membuat pemahaman saya tentang kelapa sawit tak lagi sama. Ternyata saya tidak anti-sawit, saya anti sistem penguasaan lahan yang dilakukan perusahaan. 


Lantas apakah saya mendukung perkebunan kelapa sawit? saya mendukung semua usaha mandiri yang dilakukan oleh petani, entah itu petani sawit, petani karet, kratom, sayur, atau padi. Dan ya, tentu saja saya mendukung para petani sawit mandiri di Rimba Harapan. Mereka menunjukkan pada saya bahwa petani juga memiliki strategi, mereka juga membuktikan pada saya bahwa menjadi petani itu keren cuy! contohnya saja pak Warsito, beliau bicara bagaikan expert pertanian, kuncinya adalah jangan malas belajar, upgrade skill, update pengetahuan, praktik dan praktik.

Berfoto bersama petani-petani sawit mandiri yang selalu gembira saat bekerja.


Semoga semangat pak Warsito dan petani-petani sawit mandiri di Rimba Harapan jadi semangat baik bagi petani-petani sawit lainnya (baik itu mandiri atau plasma). Cara mereka memperlakukan lingkungan dengan arif semoga jadi penyadartahuan bagi petani sawit lain agar memperaktikkan tata kelola kebun sawit yang berkelanjutan. Pemerintah dengan segala retorikanya juga bisa membuka mata lebar-lebar agar kebijakan mereka berpihak pada orang-orang mandiri seperti petani-petani ini.


Dan jadi teguran  juga bagi perusahaan-perusahaan sawit di Indonesia yang masih mempraktikkan perkebunan kelapa sawit dengan asal-asalan tanpa mempertimbangkan aspek ekologis dan budaya, barbar terhadap karyawan, apalagi sampai merampas tanah masyarakat. Petani-petani kecil ini saja bisa adil terhadap lingkungan dan sesama makhluk hidup, masa sekelas perusahaan tidak bisa. 


Ngomong-ngomong di daerah saya sendiri perkebunan kelapa sawit sama sekali tidak memiliki tempat. Tapi tentu saja alasannya cukup jelas, saya pernah menuliskannya di sini. Kamu punya pengalaman sendiri tentang petani sawit? yuk share di kolom komentar.


This entry was posted in

Tuesday, February 05, 2019

Membaca Saga no Gabai Bachan (Nenek Hebat dari Saga) Membaca Kenangan Bersama Nenek




Ulasan Buku Saga no Gabai Bachan / Nenek Hebat dari Saga

Buku ini adalah karya Yoshichi Shimada, ditulis berdasarkan kisah nyata yang dialaminya ketika masih kecil. Di buku penulisnya juga menggunakan nama kecilnyam bukan nama Yoshichi. Kamu yang tertarik dengan cerita-cerita berlatar Perang Dunia II pasti tertarik membaca buku ini. Karena cerita ini dimulai ketika Hiroshima luluh-lantak oleh bom, Yoshici Shimada yang masih kecil kemudian dipindahkan ke kampung neneknya agar aman sementara ibunya harus bekerja di Tokyo.


Jadilah Yoshici kecil hidup berdua dengan neneknya yang sangat sederhana (mau nulis miskin tapi nanti ngggak sopan). Kalau dilihat dari luar, kehidupan neneknya ini amat sangat kekurangan. Tapi di dalam dirinya dia adalah pribadi yang kaya, isi kepalanya juga kaya. Neneknya yang penganut Budha memilih cara hidup sederhana.

Dia melepas semua rasa memiliki terhadap benda, jadi orangnya jarang merasa sedih, dia selalu ceria dan bergembira karena tahu apa yang dia butuhkan. Tapi cara hidup seperti ini tentu harus dibarengi dengan akal yang banyak. Cara hidup tanpa kepastian seperti sang nenek membuatnya harus memiliki banyak strategi untuk mengatasi semua kemungkinan buruk yang akan terjadi.

Di dalam buku, cara-cara hidup sederhana sang nenek inilah yang diceritakan penulis. Kisah lainnya berupa cerita tentang kenangan berkesan bersama sahabat kecil dan beberapa guru. Cerita-cerita ringan nan sederhana yang disampaikan dengan jenaka tapi mampu membuat mata berkaca-kaca. Buku ini sangat indah menurut saya.

Yoshici kecil yang harus berpisah dengan ibunya dan menjalani hidup miskin, tumbuh dengan keterbatasan tapi selalu bisa tertawa karena sang nenek yang mampu memberikan semangat baik padanya. Tapi ketika musim dingin tiba hidup mereka jauh lebih keras, dan saya sedih membayangkannya.

Tapi karena penulis merupakan seorang komedian, kisah-kisah sedih pun bisa disampaikan dengan ringan. Seperti Etgar Keret ketika menulis The Seven Good Years, meski situasi di Israel membuat pilu dia mampu menuliskannya dengan ringan dan jenaka.

Pesan yang ingin disampaikan buku Nenek Hebat dari Saga jelas adalah menjalani hidup dengan sederhana, membuatnya berarti dan bermanfaat karena kita hanya hidup satu kali. Tapi tentu saja tidak secara gamblang dijelaskan seperti itu, pesan-pesan ini terselip di antara cerita-cerita yang ditulis dengan baik. 

Kalau kamu sedang membutuhkan bacaan ringan tapi memiliki makna yang baik untuk spiritualmu, buku ini sangat direkomendasikan. Bahkan bagus sebagai bacaan untuk anak kecil karena kisahnya menghibur serta mendidik. Font yang digunakan juga sangat tepat untuk dibaca anak-anak.

Pengalaman Membaca Buku Saga Gabai no Bachan

Pengalaman membaca yang saya dapatkan juga beragam, saya sangat tidak suka kekerasan, itu menyakitkan dan merugikan, terutama untuk anak kecil. Ketika membaca kisah ini, saya langsung bisa merasakan penderitaan anak-anak korban perang. Mereka harus berpisah dengan keluarga, hidup dengan keterbatasan, semua ini membentuk kondisi psikologis mereka bahkan membentuk peradaban di sebuah negara.

Gabai no Bachan juga mengajarkan saya untuk hidup jadi lebih sederhana, melepas keterikatan dengan benda-benda duniawi. Mencapai kebahagiaan dengan menyadari satu hal yang berarti; sesungguhnya apa tujuan saya hadir ke dunia. Saya ingin membawa kebahagiaan bagi lingkungan saya. Seperti sang nenek, meski dalam keterbatasan kita tetap bisa saling bantu. 

Cerita-cerita masa kecil penulis di desa Saga bersama sahabat dan para guru juga membuat saya jadi mengingat beberapa pengalaman di masa kecil. Saya pernah masuk asrama, sejak usia 8 tahun berpisah dengan orang tua, ada banyak orang-orang baik yang memberikan perhatian pada saya. Dan yang paling terasa ketika membaca buku ini adalah rasa rindu pada nenek.

Nenek dan saya memiliki banyak kenangan, ketika saya tinggal di asrama nyaris setiap hari minggu nenek menjenguk ke asrama. Membawa berbagai kebutuhan dasar saya, kadang dia berjalan kaki melewati tiga kampung, menempuh jarak yang lumayan jauh. Barang saya selalu lengkap dan kembali ke tempat semula bahkan jika ada senior yang memakainya, mereka tidak akan berani menghilangkan barang-barang saya karena takut diomeli nenek.

Nenek juga membantu saya membuat PR Ilmu Pengetahuan Sosial tentang nama-nama negara berkembang, dia membuatkan sarapan yang tidak begitu enak tapi selalu membuat kenyang. Dia mengantar saya ke gereja ketika saya menerima komuni pertama, dia juga mendongeng untuk saya ketika saya mencabuti ubannya, kami berpergian keluar kota bersama mengenakan motor tambang hingga bus. Banyak peristiwa penting yang saya lalui bersamanya. Jadi membaca buku Nenek Hebat dari Saga seperti membaca kenangan bersama nenek.

Quotes dari buku Nenek Hebat dari Saga

"Kebahagiaan itu bukanlah sesuatu yang ditentukan oleh uang. Kebahagiaan itu adalah sesuatu yang ditentukan oleh diri kita sendiri." - Nenek Hebat dari Saga

"Kebaikan sejati adalah kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui orang yang menerima kebaikan." - Nenek Hebat dari Saga.

Jadi siapapun kamu yang perlu bacaan ringan tapi menghibur yang sarat akan perenungan dan pesan kebaikan, buku ini bisa kamu jadikan pilihan. Kamu yang sedang belajar hidup sederhana, menyukai ajaran Budha atau sedang merindukan nenek, buku setebal 264 halaman ini bisa kamu baca.

Apalagi kalau kamu sedang terserang demam buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat karya Mark Manson, saya rasa akan semakin bagus jika kamu memperkaya bacaanmu dengan buku yang satu ini. Atau kalau kamu pembaca karya-karya Ajahn Brahm, buku ini juga menarik untuk kamu baca.


Saturday, January 26, 2019

Cheran, Potret Masyarakat Adat yang Berdaulat dan Bahagia Tanpa Negara

source: itsgoingdown.org

Ketika berbicara tentang Cheran, kamu bebas menyusun imajinasimu seliar mungkin, karena perjuangan masyarakat di sana untuk mempertahankan hutan dari penebang bersenjata dan mengusir polisi serta politisi sangat heroik. 

Di tengah kontestasi politik yang memuakkan dan perasaan nyaris putus asa terhadap para negarawan, saya menemukan sebuah film dokumenter menarik. Judulnya Cherán, tierra para soñar (Cheran, Tanah Mimpi). Film dokumenter tentang Cheran, sebuah kota kecil di negara bagian Michoacan, Meksiko yang mandiri dan berdaulat.


Cheran ditinggali oleh masyarakat adat Purepecha. Ketika saya menyebut masyarakat adat jangan membayangkan masyarakat yang primitif ya. Kota kecil ini merupakan kota otonom yang tidak tergantung  pada peraturan negara, masyarakat Purepecha memiliki instrumen hukum sendiri dan sistem pemerintahan tradisional yang mereka jalankan. Ketika tingkat kejahatan terorganisir di Meksiko sangat masif, Cheran dengan sistem pemerintahannya berhasil membuktikan bahwa kemandirian masyarakat adat dan pilihan untuk menjadi otonom bisa menghapuskan tindak kejahatan terorganisir.

Tapi kedaulatan masyarakat Purepecha di Cheran tidak didapat begitu saja. Mereka harus berjuang keras melawan kartel, para penebang bersenjata hingga mengusir polisi dan politisi dari wilayah mereka. Para penebang berasal dari luar komunitas adat mereka.

Film dokumenter berdurasi kurang dari 60 menit ini berisi obrolan bersama beberapa tokoh pergerakan di Cheran yang menceritakan bagaimana perjuangan mereka melawan penebang liar bersenjata dan mengusir aparat pemerintah serta politisi hingga proses pemerintahan tradisional dijalankan. Film ini diproduksi oleh televisi lokal dengan foto-foto dari Juan Jose Estrada Serafin yang bisa memperlihatkan dengan jelas bagaimana kekacauan terlewati dan kebangkitan terjadi. 

Film dibuka dengan rekaman para Ronda Comunitaria yang sedang bertugas memeriksa mobil. Ronda Coumunitaria merupakan sebuah milisi yang mengganti peran aparat untuk menjaga pos pemeriksaan bersenjata di 3 jalan utama menuju pemukiman. Isinya tidak hanya laki-laki, tapi juga perempuan, semua orang yang terpanggil untuk menjaga kota.

Lalu dimunculkan narasi dari seorang tokoh perempuan yang menjadi narasumber, dia mengungkapkan bahwa kedamaian tidak bisa didapatkan dengan jalan perdamaian. Hanya orang-orang yang tinggal di daerah aman dan tidak sengsara yang percaya bahwa perubahan bisa terjadi dengan jalan damai. Pernyataan yang menunjukkan bahwa kedamaian yang tercipta di Cheran tidak didapat dengan mudah dan manis. Mereka harus berjuang dalam arti yang sebenar-benarnya; mengangkat senjata.

Tahun 2011 mereka melakukan perlawanan terhadap penebang liar yang mengancam kedamaian di kota,. Perlawanan ini dipimpin oleh kelompok perempuan, perlawanan yang menyebabkan suasana kota jadi mencekam. Semua orang turun ke jalan, baik laki-laki maupun perempuan, orang dewasa atau anak-anak. Mereka membawa senjata untuk melawan. Selama tiga bulan mereka tidak bisa berkomunikasi dengan pihak luar karena akses informasi diputuskan oleh aparat.


Tapi mereka tetap memilih bersatu, tidak ada yang mau meninggalkan kota. Di tengah kemelut itu mereka mencoba membentuk dewan masyarakat, organisasi ini setiap hari mendapat dukungan dari semua pihak lalu mereka secara bersama-sama sepakat untuk mengusir politisi dari kota dan memilih untuk menerapkan pemerintahan tradisional seperti yang nenek moyang mereka ajarkan.

Cheran tidak memiliki pemimpin, mereka hanya memiliki dewan komunitas yang dipilih dari anggota masyarakat. Mulanya ada enam komunitas, sekarang menjadi delapan. Pemilihan dilakukan bersama, dengan cara yang ditentukan bersama. Dewan komunitas tidak harus memiliki latar belakang pendidikan dan karir yang bagus, karena mereka yang tidak sekolah tapi memahami keadaan di Cheran pun memiliki kesempatan untuk mencalonkan diri. Jauh berbeda saat mereka memiliki partai politik.

Setelah menentukan dewan komunitas mereka pun mulai mengeluarkan aparat pemerintah dari kota karena selama ini pemerintah tidak pernah membantu mereka meski mereka sudah berkali-kali melapor dan meminta bantuan. Mereka memblokade jalan dan mengusir politisi karena partai politik hanya membuat mereka terpecah-pecah bahkan tidak akur dalam keluarga. 

Menonton film ini memberikan banyak energi positif untuk saya, semangat juang dari masyarakat adat di Cheran sangat luar biasa. Dengan menghadirkan tokoh-tokoh pergerakan secara langsung, baik dari kalangan muda maupun tua, saya dapat menangkap banyak pesan dan tentu saja ilmu dari pengalaman mereka. Bagaimana rakyat tidak bisa dikalahkan ketika bersatu.

Cheran, kota bahagia tanpa negara / Tirto.id


Hehe bagian inilah yang sulit; bersatu. Cheran bisa karena mereka merupakan komunitas adat, ada nilai-nilai warisan leluhur yang masih dipegang teguh. Bahwa manusia dan lingkungn adalah kesatuan, jadi ketika ada orang yang ingin merusak hutan maka mereka sepakat untuk melawan dan menyingkirkannya. Sebenarnya Indonesia juga memiliki komunitas-komunitas adat yang seperti ini, tapi kondisinya jelas berbeda.

Masyarakat di Cheran paham betul dengan masalah yang mereka hadapi, kesadaran harus timbul dari akar rumput. Mereka juga memahami dengan baik bagaimana ekonomi bekerja, sistem pemerintahan saat itu dan sistem pemerintahan tradisional yang mereka pilih. Memang, sebaik-baiknya senjata adalah pengetahuan itu sendiri. Karena dari pengetahuan timbul kesadaran lalu kesadaran itulah yang membuat laki-laki dan perempuan - tua dan muda di Cheran turun ke jalan membawa senjata untuk melawan perusak hutan dan pihak-pihak yang melanggar hak mereka.

Seperti yang narasumber ungkapkan, pemerintah menggunakan berbagai cara untuk menggusur masyarakat adat dari tanah mereka dan budaya mereka sendiri. Di Indonesia kita bisa perhatikan bagaimana negara mengeluarkan istrumen hukum dan kebijakan yang represif. Perlahan-lahan komunitas adat kehilangan tanahnya, sedikit demi sedikit identitas mereka dilucuti dan diberi label hingga dampak buruknya adalah masyarakat adat jadi malu mengakui identitasnya. 

Saya sepakat dengan pernyataan dari salah satu narasumber bahwa perempuan pribumi  rentan menjadi sasaran dari target penghapusan nilai-nilai budaya di lingkungan masyarakat adat. Ketika si ibu tidak lagi peduli pada nilai-nilai kehidupan yang dipegang teguh oleh komunitasnya maka anak-anaknya tidak akan mengenali budaya itu lagi.

Masyarakat di Cheran tahu bahwa perempuan pribumi membangun fondasi budaya masyarakat karena para ibulah yang menunjukkan cara hidup dan berpikir pada anak-anak. Perempuan memiliki peran besar dalam komunitas mereka, termasuk dalam pemberontakan di tahun 2011. Kalau perempuan pribumi tidak ada maka tidak ada lagi yang menyebarkan budaya pada anak, ini penting di komunitas Cheran karena budaya mereka sangat berkaitan dengan alam. Menjaga budaya berarti menjaga alam, ketika budaya hilang maka alam pun hilang, dan sebaliknya.


Kesadaran akan nilai budaya seperti ini yang patut dimiliki oleh anggota masyarakat adat. Tapi kenyataannya di Indonesia masih sedikit orang-orang yang mampu menyadari nilai budaya mana yang bersifat membangun atau tidak. Keadaan inilah yang menyebabkan adanya komunitas-komunitas tertentu yang bangga dengan nilai-nilai budaya yang destruktif. 

Karena itu, memimpikan kedaulatan masyarakat adat layaknya di Cheran bisa terjadi di negara kita masih jadi tantangan berat menurut saya. Masih jauh dan sulit. Tapi mengetahui ada tempat seperti Cheran di belahan dunia yang luas ini, rasanya bahagia. Memberikan berlipat-lipat semangat bagi saya pribadi agar tekun dengan karya-karya dan pelayanan yang saya lakukan karena saya juga berasal dari komunitas adat.

Tapi sejujurnya saya merasa bahwa masalah yang dialami masyarakat Cheran adalah masalah yang sedang dihadapi negara kita. Oleh sebab itu, untuk kamu yang sedang putus asa atau sedang membara melihat situasi politik dan ekonomi kita saat ini, saya sangat merekomendasikan film ini untuk ditonton. untuk mengunduh film bisa klik di sini ya.

Di bagian akhir film saya sempat termenung beberapa saat ketika membaca tulisan di dinding yang artinya kurang lebih "Kami bukan dari golongan kiri atau kanan". Satu kalimat yang layak direnungkan ketika kita sudah gerah dengan keadaan yang semakin hari semakin menekan kita dan kita menginginkan perubahan. 


Oh iya di bawah ini ada beberapa artikel tambahan untuk memperkaya informasi tentang Cheran, kalau kamu memiliki referensi dan informasi lain jangan sungkan membaginya di kolom komentar ya.


Artikel berbahasa Inggris dari BBC
Artikel berbahasa Inggris dari NBC News
Artikel berbahasa Indonesia dari Tirto
Artikel berbahasa Inggris dari the Guardian

Sunday, October 21, 2018

Catatan Perjalanan Rimba Terakhir (3) ; Menanam Benih Padi, Menanam Kehidupan

Masyarakat Dayak Seberuang di Dusun Silit sedang gotong royong menugal / Tim Rimba Terakhir

Hari sudah agak sore ketika saya dan teman-teman yang tergabung dalam tim Rimba Terakhir Silit berkunjung ke ladang seorang warga yang sedang mengadakan gotong royong menugal. Ladangnya tidak terlalu jauh dari perkampungan, bisa ditempuh dengan belasan menit berjalan kaki. Kedatangan kami disambut dengan hangat, teman-teman saya dipersilakan mengambil gambar, mengobrol dengan beberapa orang yang kami temui sedang istirahat. 

Sementara saya meminta ijin untuk ikut memasukan benih ke tanah yang telah ditugal. Meski tidak ikut sampai benih habis, saya merasa cukup puas bisa larut dalam suasana kebersamaan ini.  Setelah selesai menugal, semua warga kembali ke rumah masing-masing. Ada juga yang mampir ke rumah warga yang mengadakan gotong-royong, kami juga diminta untuk bergabung.

Di sana suasana kebersamaan terasa lebih erat. Kami duduk bersila membentuk lingkaran. Dengan cekatan mereka menyajikan makanan kecil. Makanan sederhana yang terasa spesial karena saya tahu makanan ini adalah makanan terbaik yang mereka buat untuk merayakan hari ini. Dalam tradisi masyarakat Dayak, jamuan harus selalu ada setelah gotong royong di ladang dilaksanakan. Selain sebagai bentuk terima kasih pada orang-orang yang telah membantu, ini adalah wujud syukur pada pemilik semesta yang telah memberi perlindungan.

Begitulah hari pertama kedatangan kami di Silit berlalu. Silit merupakan sebuah dusun yang terletak di Desa Nanga Pari, Kecamatan Sepauk, Sintang. Kami datang ketika tengkawang sedang berbunga, sementara warga Silit yang merupakan Suku Dayak Seberuang sedang memasuki masa menugal di ladang. 

Kami beruntung karena bisa menyaksikan langsung proses berladang tradisonal ini, setidaknya kami jadi tahu bagaimana kearifan lokal masyarakat ketika mengolah lahan untuk berladang. Sangat arif, bertolak belakang dengan tudingan yang mudah ditemui jejaknya di portal-portal media daring bahwa peladang tradisional menyebabkan kebakaran lahan dan biang di balik bencana asap yang tiap tahun selalu terjadi di ibu kota provinsi.

Memang, belakangan seruan yang meminta masyarakat pedalaman di Kalbar untuk mengubah cara berladang semakin sering terdengar. Bahkan muncul stigma negatif terhadap peladang tradisional, stigma inilah yang selalu dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk menyerang mereka. Padahal, masyarakat melakukan kegiatan berladang sesuai dengan kearifan lokal yang sudah dijalankan turun temurun.

Begitulah cara berladang yang diterapkan masyarakat Dayak Seberuang di Dusun Silit. Setiap tahapan memiliki aturan yang selaras dengan kelestarian lingkungan. Ini tidak lain karena masyarakat di Silit masih memiliki hubungan yang sangat erat dengan alam.

Seperti yang diungkapkan menteri adat, Paulus Inka bahwa masyarakat Dayak Seberuang tidak pernah sembarangan ketika berladang. Semua proses memiliki adat aturannya sendiri. Mereka yakin, mustahil mampu mendapatkan hasil bumi yang baik jika perlakuan mereka terhadap bumi sendiri buruk.

Menteri Adat, Paulus Inka mengenakan baju batik, menjelaskan tentang proses berladang dalam komunitas adat Dayak Seberuang / Tim Rimba Terakhir

“Semua di bumi ini ada pemiliknya, ada yang punya. Termasuk tanah tempat berladang, makanya harus pamit dulu kalau mau menggunakan tanah, harus hati-hati saat mengolahnya dan tidak lupa berterima kasih setelah mendapatkan hasilnya,” tuturnya ketika kami mengobrol keesokan harinya.

Proses berladang diawali dengan ritual meminta tanah pada Puyang Gana. Ada beberapa persyaratan yang harus disediakan, seperti membawa sebatang tebu, sepotong kunyit, sebuah keladi dan sepotong besi kecil. Katanya semua persyaratan ini akan jadi hantaran untuk Puyang Gana. Keladi akan jadi tempayan dan kunyit menjadi emas. Sedangkan tebu akan jadi senapan yang menghantarkan permintaan padanya.

Mereka percaya jika mereka telah meminta ijin pada Puyang Gana, maka tanah tersebut akan diberkati. Tapi jika hari pelaksanaan ritual mereka mendapati ada ular di tanah tersebut, itu pertanda bahwa tanah tidak diijinkan. Mereka harus mencari tanah lain. Petunjuk alam seperti ini memang masih dipercaya. 

Setelah mendapatkan lahan, mereka mulai membersihkannya. Saat musim menebang tiba, mereka juga harus memberikan sebuah rancak berisi nasi pulut dan hati ayam. Sebagai bentuk ijin pada Puyang Gana agar melancarkan pekerjaan mereka. Kayu-kayu yang telah ditebang akan ditunggu sampai kering barulah dibakar. 

Membakar ladang tidak dilakukan begitu saja, mereka bergotong-royong agar api tidak melebar melebihi patok atau parit kecil yang sudah dibangun. Dengan cara seperti ini kebakaran lahan melebihi lahan ladang tidak pernah terjadi. Cara membakar seperti ini nyaris diterapkan semua suku Dayak yang pernah saya jumpai. Jadi helikopter yang tempo hari [atroli dan menyirami lahan ladang warga, sepertinya salah sasaran.

Setelah ladang selesai dibakar proses berikutnya adalah menugal. Ritual menugal kali ini merupakan ritual memberi makan Puyang Gana dan temannya, Aji Menteri. Makanan yang diberikan berupa sajian nasi biasa, nasi pulut. Dilengkapi hati, perut, kaki, serta kepala ayam, diletakkan di sebuah piring kecil. Persembahan ini merupakan bentuk permohonan agar Puyang Gana memberkati ladang mereka sehingga hasilnya banyak dan yang bekerja tetap sehat.

Tua muda saling membantu dalam gotong royong menugal yang dilaksanakan masyarakat Dayak Seberuang di Dusun Silit /  Tim Rimba Terakhir

Ritual-ritual yang menghubungkan mereka dengan alam masih terus berlanjut. Setelah menugal sekitar bulan November atau Desember dilakukan ritual nepah umah. Ritual yang dilakukan untuk membuang penyakit padi sehingga tidak mengalami gagal panen.

Sekitar bulan Februari atau Maret mereka memasuki masa panen. Saat panen tiba, sebelum pemilik ladang memanen semua padi di ladang, dia terlebih dahulu harus memanen satu pokok padi dan mengulasnya lalu mengikatnya dengan akar tengang. Nah, akar ini juga menarik karena sangat sering digunakan dalam ritual adat suku Dayak Seberuang di Silit. Contohnya untuk pernikahan adat, pasangan laki-laki dan perempuan harus mengenakan akar tengang supaya hubungan mereka kuat, seperti akar tengang.

Menurut penjelasan Paulus Inka, akar tengang adalah akar paling kuat, ini akan jadi kekuatan padi agar tidak mudah habis dan yang bekerja tidak mudah lelah. Setelah panen selesai barulah diadakan ritual nyelapat tahun. Ini adalah perayaan akhir panen yang selalu dilaksanakan meriah.

Setiap komunitas adat Dayak memiliki penamaan yang berbeda untuk pesta syukur sesudah panen. Ada yang menyebutnya naik dango, ada pula yang menyebutnya pamole’ beo’ masing-masing sub suku memiliki penamaan berbeda. Tapi di ibu kota provinsi pada bulan Mei selalu diadakan festival Gawai Dayak yang jadi momentum besar untuk menyatukan pesta syukur sesudah panen ini. Festival ini diadakan sepekan penuh.

Sedangkan di Silit kemeriahan juga memenuhi acara nyelapat tahun. Masyarakat akan membuat tuak, disimpan di temoayan lalu dihisap menggunakan suling dari bamboo beramai-ramai. Ternak-ternak akan dipotong, sebagai bentuk sukacita atas panen tahun ini. Tapi sebelumnya mereka telah mempersembahkan makanan dan minuman untuk Puyang Gana sebagai bentuk terima kasih atas berkat yang diberikan. 

Pesta seperti ini, menurut Paulus Inka tidak akan ada jika mereka tidak memiliki hutan “Kalau hutan habis, tidak ada tanah untuk berladang, tidak ada gawai,” katanya. Karena itulah dia dan masyarakat di Dusun Silit bertekad untuk mempertahankan hutan dan sungai yang mereka miliki. Ketika daerah lain di sekitar mereka sudah luluh oleh iming-iming lapangan pekerjaan dan kehidupan sejahtera dari perusahaan perkebunan kelapa sawit maupun perusahaan tambang, mereka memilih menolak kehadiran perusahaan-perusahaan itu.

“Kebutuhan kami sudah terpenuhi oleh hutan dan sungai di sini, kalau pihak luar mau menambahkan silakan tambah yang baik, bukan yang membuat buruk. Apalagi kalau sampai membuat hutan dan sungai jadi rusak,” ujarnya. 

Di akhir pembicaraan dia menyampaikan pesan agar masyarakat memiliki kesadaran untuk menjaga hutan yang mereka miliki. Seperti pesan-pesan yang sering disampaikan para aktivis lingkungan, Paulus Inka juga mengamini hal yang sama, bahwa bumi ini hanyalah pinjaman dari anak cucu.

“Kalau kita tidak bisa menjaga bumi, nanti anak cucu kita bagaimana hidupnya? Masa mau minum air keruh beracun kalau sudah tercemar tambang, tanah habis dipakai perusahaan sawit, tidak bisa ditanami lagi karena tanahnya jadi keras. Bagaimana?” 

Saya yakin kita semua tau apa jawabnya. Berbagai berita dan data tentang bencana ekologis akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit dan tambang jadi jawaban untuk pertanyaan ini.

Friday, October 19, 2018

Catatan Perjalanan Rimba Terakhir (2) ; Menyepi Sejenak ke Air Terjun Supit, Kiara, dan Sentarum

Tim Rimba Terakhir Silit berfoto di depan Air Terjun Sentarum / Tim Rimba Terakhir

Bicara tentang pariwisata di daerah Sintang pasti dua destinasi ini langsung terlintas, Bukit Kelam dan Air Terjun Nokan Nayan. Siapa yang tidak tahu keduanya, Bukit Kelam merupakan batu alam terbesar kedua di dunia setelah Giant Rock Anyer di Australia. Sementara Air Terjun Nokan Nayan merupakan air terjun yang dikenal dengan ketinggiannya dan disebut-sebut menyerupai bentuk air terjun Niagara.


Tapi Sintang yang luas menyimpan banyak tempat menarik yang sayang untuk dilewatkan. Seperti tiga air terjun yang sempat saya dan teman-teman tim Rimba Terakhir Silit kunjungi, Air Terjun Supit, Air Terjun Kiara, dan Air Terjun Sentarum yang terletak di Dusun Silit, Desa Nanga Pari, Kecamatan Sepauk, Sintang. Ketiganya terletak di lokasi yang tidak berjauhan.

Perjalanan ke Dusun Silit sendiri merupakan perjalanan panjang. Menghabiskan waktu berjam-jam di atas kendaraan. Siap-siap melewati jalur yang menantang dengan tanjakan dan turunan khas jalan perkampungan, serta mengorbankan komunikasi dengan dunia luar sementara waktu karena daerah ini tidak terkoneksi dengan jaringan internet. Keseruan perjalanan menuju Silit saya tuliskan di postingan sebelumnya.

Air Terjun Supit, Kiara, dan Sentarum berjarak sekitar 5 Km dari Dusun Silit. Bersama Dang, Koordintaor Pelestarian Sumber Daya Alam di Komunitas Pecinta Alam dan Lingkungan Dusun Silit (Komplids) kami menjajal keindahan ketiga air terjun ini. Dia juga mengajak beberapa temannya untuk mengantar rombongan kami. Perjalanan ditempuh menggunakan motor, jalurnya agak berbahaya untuk orang yang tidak terbiasa melewati tanjakan dan turunan di jalan tanah dengan tikungan dan tebing yang curam.


Dang, Koordinator Pelestarian Sumber Daya Alam di Komunitas Pecinta Alam dan Lingkungan Dusun Silit (Komplids) / Dok. Tim Rimba Terakhir

Sepanjang perjalanan kami melalui ladang-ladang penduduk, sebagian ladang ada yang sudah ditugal, yang lain masih menyisakan tanah-tanah hitam tanda baru saja melalui proses pembakaran, rumah-rumah warga yang terpencar berjauhan juga jadi pemandangan yang kami lalui. Kami tidak segan menyapa ketika melihat ada yang duduk di teras rumah. Sesekali motor harus dipacu kencang saat menempuh tanjakan, dan turun dengan hati-hati karena kendaraan kami beriringan. Harus bisa menjaga jarak dengan kendaraan di depan atau di belakang. 

Meski berada di daerah yang sama, ketiga air terjun ini memiliki panorama berbeda. Air terjun Supit memiliki tebing yang curam yang membuat sungai di bawahnya terlihat seperti lorong kecil. Supit dengan sungai panjang di bawahnya memiliki kisah sendiri. Sungai ini dipercaya menghubungkan Silit dengan sungai di Ketapang. Untuk kamu yang senang dengan tantangan, pasti sangat menyukai karakteristik Air Terjun Supit. 

Dang berkali-kali mengingatkan agar kami berhati-hati karena batu di Supit licin. Di Supit kami hanya duduk menikmati udara segar yang menyejukkan, sinar matahari yang tidak menyengat, deru suara air terjun, dan aroma khas hutan tropis yang berhasil menghilangkan ketegangan setelah menempuh perjalanan.

Berfoto di depan Air Terjun Supit / Dok. Tim Rimba Terakhir

Puas beristirahat di Air Terjun Supit, kami melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Kiara. Kami berjalan sebentar, menyebrangi sungai kecil dengan air yang dingin. Tidak jauh dari sungai kecil itulah Air Terjun Kiara berada. Kiara menawarkan panorama air terjun yang langsung jatuh ke sungai yang tidak begitu dalam. Dang menjelaskan nama Kiara diambil dari pohon Kiara yang tumbuh di sekitar air terjun. Pohon kiara merupakan pohon beringin.

Sungai kecil yang dilalui di perjalanan menuju Air Terjun Kiara / Dok. pribadi

Karena di Air Terjun Supit kami tidak bermain air, begitu sampai di Air Terjun Kiara dan melihat aliran sungai kecilnya, kami tidak bisa kalem lagi. Saya dan seorang teman langsung turun dan menghampiri batu-batu besar yang terpencar. Masing-masing duduk merendam kaki, sebagian mengabadikan momen dengan berfoto, ada juga yang sibuk memasang drone untuk mendokumentasikan perjalanan ini. 


Menikmati sejuknya suasana di Air Terjun Kiara / Dok. Tim Rimba Terakhir

Hari itu deru suara air terjun jadi suara yang paling sering saya dengarkan. Setelah menghabiskan banyak waktu  di Air Terjun Kiara kami pun melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Sentarum. Di sinilah puncak perjalanan kami. Air Terjun Sentarum tampak kokoh dengan bebatuan yang besar dan rapi, layaknya batu yang dipotong. Air terjunnya memiliki dua sisi yang agak berjarak, sementara di bawah airnya agak dalam dan lumayan deras.

Air Terjun Sentarum / Dok. Pribadi

Sentarum mengingatkan saya pada sebuah danau pasang surut di Kapuas Hulu, Danau Sentarum. Saya sempat menanyakan kesamaan nama ini pada Dang, tapi saya tidak mendapatkan jawaban. Sejak pertama melihat air terjun ini, Sentarum seperti menyimpan misteri dengan tebing-tebing batunya.  Dang mengajak kami menaiki tebing, di atas tebing pemandangan jauh lebih indah. Airnya mengalir deras, jatuh ke bawah, ke sungai di mana beberapa teman sedang asik berenang. Air yang mengalir sangat jernih, bahkan seorang teman tidak ragu-ragu meminumnya ketika haus.

Kekayaan seperti inilah yang dirindukan masyarakat Labuan Bajo. Jauh dari Silit ada sebuah tempat yang mashyur dengan pariwisatanya, setiap tahun ribuan turis menyambanginya. Labuan Bajo pasti masuk dalam daftar tempat yang ingin dikunjungi para traveler dunia. Tempat ini menawarkan banyak tempat wisata lengkap dengan hotel nyaman, tapi masyarakatnya sendiri selalu kekurangan air bersih. Labuan Bajo pun dijuluki Kota Seribu Jeriken.

Silit beruntung, karena mereka memiliki air yang berlimpah, termasuk wisata air terjun ini. Saya dan teman-teman yang naik ke tebing istirahat menikmati pemandangan sambil menghayal seandainya kami bisa memiliki rumah di tepi tebing air terjun Sentarum, lengkap dengan wifi dan helikopter yang bisa mengangkut kami ke kota jika persediaan makanan habis. Khayalan ini tentu saja absurd.

“Tidak jauh dari Sentarum inilah hutan Silit berada, biasa orang mencari rotan atau meramu ke sana. Ada juga yang berburu,” Dang mulai menjelaskan kondisi hutan di sekitar Air Terjun Sentarum. Pohon-pohon di sekitar Air Terjun Sentarum memiliki daun rimbun, membuat sinar matahari terhalangi. Di bebatuan tumbuh lumut, sementara di tepiannya banyak anggrek hutan. Jadi jangan heran jika menjumpa banyak kupu-kupu aneka warna berterbangan.


Bersantai di depan Air Terjun Sentarum / Dok. Tim Rimba Terakhir

Kalau saja air terjun ini mudah dijangkau, mungkin pemandangannya tidak seindah ini. Ketika kami berkunjung saja kami mendapati tumpukan bekas makanan ringan dari pengujung, botol minuman plastik termasuk pembungkus rokok. Selalu sedih ketika mendapati kenyataan bahwa masih banyak orang yang tidak bertanggung jawab. Memang, seringkali orang-orang sibuk memikirkan negara tapi tidak memikirkan pembungkus makanannya sendiri. Seorang teman kemudian memungut sampah-sampah ini dan membawanya turun. 

Menurut Dang pengujung yang menyambangi Air Terjun Sentarum memang beragam, sebagian dari mereka mungkin masih memiliki pemahaman yang buruk tentang lingkungan. Apalagi jumlah pengujung semakin bertambah, tidak hanya masyarakat Silit tapi pengujung dari daerah Sintang dan Sekadau. Bahkan baru-baru ini ada turis mancanegara yang berkunjung.

“Selain untuk memperkenalkan adat istiadat, budaya, maupun potensi pariwisata di Silit, alasan kami mendirikan Komunitas Pecinta Alam dan Lingkungan Dusun Silit (Komplids) ya untuk menjaga lingkungan agar tetap bersih dan lestari,” tuturnya. Karena itulah mereka selalu mengimbau agar pengunjung tidak melakukan tindakan tidak bertanggung-jawab seperti ini. Komplids jadi wadah pemuda-pemudi Silit untuk memperkenalkan potensi pariwisata sambil menyuarakan pesan pelestarian lingkungan.

Pemandangan Air Terjun Sentarum / Dok. Tim Rimba Terakhir
Seperti yang Dang ceritakan, mereka tidak hanya memperkenalkan pariwisata, budaya serta adat istiadat di Silit, sekarang mereka juga mulai mempelajari isu-isu lingkungan. Terutama yang berhubungan dengan hutan mereka. 

“Tapi yang jadi tantangan adalah keterbatasan informasi. Karena akses menuju Silit tidak mudah, selain itu tidak ada jaringan internet. Kami sering ketinggalan berita, termasuk keterbatasan pemahaman terhadap isu yang mengancam keberadaan hutan kami,” ungkap Dang.

Apa yang Dang ungkapkan sedikit menyentil saya, pekerjaan membuat saya harus terhubung dengan dunia luar setiap hari. Jaringan internet dan informasi baru adalah napas untuk pekerjaan saya. Jadi selama ada internet saya tidak punya alasan untuk tidak bekerja, bisa menyepi ke tempat yang tidak terhubung dengan jaringan internet  seperti ini adalah sebuah nikmat yang saya syukuri. Sementara itu di hadapan saya, seorang teman yang usianya tidak terpaut jauh menginginkan kemudahan akses informasi seperti yang sedang saya hindari. 

Saya dan teman-teman mengobrolkan banyak hal bersama Dang, pemuda 20 tahun yang banyak membantu kami selama berada di Silit. Dia menyampaikan harapannya agar pemerintah setempat bisa memperhatikan infrastuktur jalan menuju Silit, terutama menuju air terjun.

“Kita di sini selalu siap menerima orang-orang yang berkunjung, karena itu kami sangat berharap pemerintah mau memperbaiki jalan menuju Silit dan air terjun. Karena kalau musim hujan jalannya agak susah dilewati,” katanya. 

Setelah puas mengobrol kami turun ke bawah, saatnya mandi. Kami menyelam sepuasnya. Teman yang tidak bisa berenang harus puas mandi di tepi sungai, mengapungkan badan sementara yang lain berenang ke bagian tengah. Lelah berenang kami pun menepi, mengeringkan rambut lalu pulang dengan kondisi basah kuyup.

Kalau kalian sedang jenuh dengan rutinitas dan keramaian, melakukan perjalanan ke air terjun Supit, Kiara, dan Sentarum bisa jadi pilihan. Jika sehari saja tidak cukup, kalian bisa menginap di rumah kepala dusun. Ambil beberapa hari di sana, menyepi sambil menyatu bersama masyarakat yang masih sangat terhubung dengan alam. 

Senang rasanya bisa melihat ketiga air terjun ini. Perjalanan di Silit komplit. Setelah menempuh perjalanan panjang yang melelahkan kami mendapat sambutan hangat dari masyarakat Silit, kami diajak mengenali seni dan budaya mereka, kami juga mendengar kegelisahan mereka tentang korporasi yang mengincar hutan di Silit, dan mereka juga mengajak kami melihat air terjun yang jadi primadona di dusun ini.

Keesokan harinya kami pamit, perjalanan ke Silit sudah berakhir, kami harus pulang. Saya berjanji akan mengirim buku untuk Dang, setidaknya dia bisa mendapat informasi dari sana meski tidak sekaya infromasi dari internet. Perlahan mobil yang membawa kami semakin meninggalkan Silit, sebuah dusun di pedalaman Sintang yang masih memiliki rimba dan kaya akan air. Mereka memiliki air yang jernih, berlimpah, dan menyimpan banyak ikan yang bisa mereka ambil kapan saja. Air ini tidak hanya mengaliri sungai untuk mereka mandi dan minum, tapi juga memberikan penerangan ketika malam tiba.