Thursday, February 22, 2018

10 Quotes Raditya Dika dalam Buku Ubur-Ubur Lembur

Ubur-Ubur Lembur adalah buku baru Raditya Dika yang terbit tahun 2018, buku ini berisi 14 cerita pendek dengan teman beragam. Dikemas apik dan jika khas seorang Raditya Dika, lucu dan berkesan.

Buku yang memiliki  tebal 232 halaman ini memiliki ilustrasi juga di dalamnya, masing-masing cerita memiliki ilustrasi berbeda.

Saya menuliskan beberapa kalimat berkesan yang Raditya Dika tuliskan di Ubur-Ubur Lembur, siapa tau ada yang bisa memotivasimu.

"Ada masanya, dua orang yang berpacaran perlahan tumbuh dengan cara yang berbeda, lalu mereka jadi nggak cocok lagi."

"Cowok dan cewek memang memiliki cara yang berbeda. Nggak hanya ketika menghadapi kawan yang tengah patah hati, tetapi juga ketika mereka sendiri berurusan dengan cinta; sedang jatuh cinta ataupun patah hati. Meskipun cara mereka berbeda, keduanya ternyata punya kesamaan. Sama-sama bisa buta."

"Lalu, sama seperti perpisahan pada umumnya: awalnya susah untuk dilupakan, lama-lama hilang begitu saja."

"Entah berapa kali gue berpikir ingin kembali ke masa kecil dulu. Ketika kecil, tanggung jawab kita terbatas."

"Jangan-jangan inti dari menjadi dewasa: untuk lupa rasanya senang dengan sepenuh tenaga."

"Gue percaya kalau kita hidup dari apa yang kita cintai, maka kita akan mencintai hidup kita."

"Sakitilah hati mantan dengan cara-cara cerdas."

"Kita terobsesi pada kesuksesan seseorang tanpa tahu perjuangannya seperti apa. Seolah yang terjadi, kesuksesan orang bisa datang tiba-tiba."

"Gue percaya kalau kita hidup dari apa yang kita cintai, maka kita akan mencintai hidup kita."

"Menjadi penulis berarti kamu punya kebebasan penuh terhadap hidupmu. Kamu akan merasakan nikmatnya berkarya, menulis sebuah naskah dan melihat naskah itu di toko buku. Kamu akan tersenyum setiap kali ada pembaca yang mengirimkan twit bahwa dia sangat menyukai buku kamu, atau kamu malah menginspirasi dia untuk melakukan sesuatu dalam hidupnya yang dia selalu takut untuk lakukan."

Itu dia beberapa kalimat yang menurut saya berkesan, kalau kalian baca tulisan Rakhmad Hidayatulloh berjudul Generasi Tanpa Kantor yang menyebutkan bahwa generasi tanpa kantor (generasi millenials) mulai berhenti membaca buku-buku genre motivasi. Buku-buku motivasi perlahan akan tergusur dari rak-rak berlabel best seller toko buku. Genre buku motivasi akan digantikan oleh genre buku bernama life enthusiast. Jika buku motivasi melulu bicara tentang kesuksesan untuk meraih kegemilangan materi, buku life enthusiast justru membahas tentang kebermaknaan hidup dan cara mengelola keseimbangan hidup.

Nah, menurut saya buku ini termasuk buku life enthusiast ala Raditya Dika.

Saturday, February 10, 2018

Ulasan Ubur-Ubur Lembur Karya Raditya Dika

Ubur-ubur Lembur, buku terbaru Raditya Dika akhirnya keluar, ada rasa haru biru yang membuncah waktu membacanya. Perubahan sangat terasa, biasanya Raditya Dika menulis tentang kesotoyannya dalam berpacaran, mulai dari Kambing Jantan sampai Koala Kumal itu banyak cerita tentang kegagalan menjalin hubungan. Di buku ini dia banyak membagikan semangat untuk berproses. 

Bab terakhir yang menjadi judul buku ini adalah bagian yang paling saya suka. Saya membaca buku ini tiga hari setelah memasukkan surat resign. 

Cerita yang ditulisnya di Ubur-ubur Lembur membuat saya merasa tidak sendirian. Karena jujur saja, pikiran ini berkali-kali muncul di benak saya. Bagaimana jika saya menyesal meninggalkan pekerjaan saya, bagaimana jika saya tidak memiliki kesempatan yang sama lagi, bagaimana jika pilihan saya justru mengantarkan saya pada kegagalan, dan banyak ketakutan lainnya. 

Buku ini membuat saya–setidaknya– merasa lebih berani. Jaman ini mayoritas buku yang dikonsumsi publik adalah buku-buku motivasi tentang life enthusiast, dan menurut saya ini adalah buku life enthusiast ala Raditya Dika.

Jadi buku ini bukan hanya novel, buku ini memotivasi pembaca untuk menjalani hidup dan pekerjaan dengan bahagia, memilih kehidupan yang memang ingin dijalani. Untuk teman-teman millennials, buku Raditya Dika lebih saya sarankan ketimbang membaca deretan buku Tere Liye, lebih berisi.

Pada suatu bagian di bab Ubur-ubur Lembur, Raditya Dika menulis kalimat ini "Gue pengen jadi pencerita, karena apa yang gue lakukan adalah bercerita dalam berbagai macam format." Kalimat ini yang saya tandai, someday I will. I will. 

Jadi, buku Ubur-ubur Lembur ini berisi 14 cerita dengan tebal 232 halaman, penerbitnya masih Gagas Media, dan buku ini memiliki ilustrasi yang berbeda di tiap cerita. 

Dari semua buku Raditya Dika, menurut saya buku ini yang paling kompleks. Suka dukanya tertuang di sini, patah hati, persahabatan, keluarga bahkan pekerjaan dikemas dalam cerita yang khas seorang Raditya Dika, lucu dan berkesan. 

Di bawah mendung yang sama dan Raja di Sekolah merupakan kisah tentang persahabatan serta keniscayaan bahwa sejauh apapun melangkah, selama apapun tidak bersua, pasti ada satu hal yang tidak berubah dari orang-orang yang pernah kita kenal. 

Kisah tentang patah hati juga tertulis di cerita berjudul Pada Sebuah Kebun Binatang. Inilah mengapa Raditya Dika selalu jadi penulis kesayangan saya, dia bisa menceritakan kisah sedih dengan jenaka. 

Suka duka menjadi seorang artis juga dituangkannya dalam cerita berjudul Percakapan Dengan Seorang Artis, dan kepopulerannya diselipkan dalam kisah Korban Tak Sampai. 

Dalam sebuah kalimat di cerita Percakapan Dengan Seorang Artis, dia menyampaikan rasa sepi yang kerap dialami para public figure, termasuk yang dialaminya. 

Kesotoyannya juga tidak tertinggal, ini bisa dibaca di cerita Mata Ketemu Mata dan Balada Minta Foto. 

Paket komplit ini dilengkapi dengan kisah haru berjudul Rumah yang Terlewat dan cerita tegang yang dialaminya saat shooting. 

Buku ini saya rekomendasikan untuk siapa saja yang sedang ingin resign dari kantor hahaha. 

Agar tak merasa sendiri. Agar selalu berusaha mengejar kehidupan yang memang ingin kita jalani. 

Kalimat penutup ini merupakan kutipan dari buku ini. Raditya Dika, terima kasih untuk karya-karya yang menemani saya dari masa ke masa. 

Dari saya masih mengenakan seragam SMA, hingga saya patah hati dan menangis sesengukan sambil membaca Koala Kumal ketika kuliah, sampai hari ini, saat sedang menjalani hari-hari terakhir sebagai seorang karyawan, saya sangat menikmati karya Raditya Dika. 

"Gue percaya kalau kita hidup dari apa yang kita cintai, maka kita akan mencintai hidup kita." – Raditya Dika. 

Wednesday, January 31, 2018

Review Buku Brave New World

Buku kedua yang selesai tahun 2018
Brave new world karya Aldous Huxley. Penulis sendiri adalah guru dari George Orwell. Kalau George Orwell dalam 1884 memiliki propaganda"Perang ialah damai. Kebebasan ialah perbudakan. Kebodohan ialah ketakutan, maka buku ini memiliki moto negara dunia, Komunitas, Identitas, Stabilitas.
Menyandingkan dua buku ini sudah dilakukan banyak orang, entah karena apa, padahal keduanya jelas berbeda.

Buku ini menghantarkan pembaca pada kekacauan sosial akibat pesatnya teknologi yang berkembang di bawah kendali segelintir orang yang menjadi penguasa dengan tujuan stabilitas. Konsumerisme adalah sesuatu yang lumrah, justru aneh kalau tidak. Kebahagiaan adalah seks dan obat-obatan.

Bernard Marx dan si Liar akan memandu perjalanan pembaca di Brave New World. Untuk yang menyukai fantasi, buku ini keren sekali. Tapi terjemahan dan gaya penulisan Aldous Huxley membuat saya harus membaca pelan. Ini karya pertamanya yang saya baca.

Setelah membaca pasti ada pesan yang ditangkap, saya merasa buku ini tidak hanya menakjubkan karena fantasinya yang gila, tapi pertentangan yang dihadirkan penulis. Buku ini sangat tajam dan bernyali menurut saya, luar biasa karena penulis mampu menghadirkan kisah kemanusiaan dengan cara yang cool tanpa banyak kalimat sabda di sana sini.

Bernard Marx adalah tokoh pemberontak yang semua sisi dirinya bahkan pikirannya berbeda dengan orang-orang di sekitarnya sehingga dia dianggap aneh. Aneh dalam arti membahayakan stabilitas.

Sebagian orang menganggap buku ini adalah sebuah ramalan, menakjubkan sekali di masa itu penulis mampu memikirkan sebuah kehidupan utopia seperti yang ditulisnya di buku ini. Novel ini dibuat tahun 1931 dan terbit setahun setelahnya tapi materi di dalamnya sangat jauh melampaui jaman di masa itu. Namun meski latar belakangnya masa depan, sebenarnya isu yang diangkat tidak jauh dari keadaan industri di abad 20.

Buku ini kemudian menjadi satu dari 100 buku terbaik sepanjang masa menurut The Observer dan FYI penulisnya sendiri sampai saat ini disebut-sebut sebagai penulis dan intelektual paling masyhur pada abad ke-20.

Saturday, January 27, 2018

Terima Kasih


#TulisanAkhirPekan
Catatan ke 2.

Terima kasih, semesta.
Untuk semua makna yang saya dapati, di jalanan, di ruang tunggu, di bangku warung-warung kopi, di semua tempat yang saya singgahi. Terima kasih telah membuat segalanya begitu asik dan menyenangkan. 

Sabtu lalu saya diberi kesempatan menjadi narasumber dalan workshop menulis yang diselenggarakan sebuah organisasi kepemudaan di kota tempat saya bekerja, ini sangat berkesan bagi saya karena saya bersanding dengan seorang pimred media lokal yang pengalaman menulisnya sudah mumpuni.

Dia banyak bercerita mengenai pencapaiannya, magang di beberapa media internasional di luar negeri, mendapatkan banyak teman dan uang dari menulis. Sementara saya tidak banyak berbasa-basi mengenai diri saya, karena kenyataannya saya memang tidak ada apa-apanya.

Saya banyak menjelaskan teori-teori menulis berita dan pengalaman mengolahnya, berbagi semangat agar mereka juga mulai mencoba menulis sesuai dengan kaidah menulis berita karena sesungguhnya banyak humas organisasi maupun instansi yang menulis rilis untuk media dengan asal-asalan. Mereka pun mengungkapkan kesulitannya dan saya yang pernah merasakannya pun tidak perlu waktu lama untuk memahami maksud mereka.

Hari itu saya merasa sangat penuh, energi yang saya punya seperti dua kali lipat dari biasanya. Lalu saya ingat ucapan teman terbaik yang saya punya, Bandi, bahwa semua orang akan tiba pada saat itu, saat di mana dia berkontribusi untuk orang banyak. Dan saya yang jaringan pertemanannya tidak luas ini, hari itu merasa bahagia bisa membagikan pengalaman saya yang belum ada apa-apanya itu.

Sekitar tiga hari sebelumnya saya meliput sebuah aksi unjuk rasa yang dilakukan serikat pekerja, mereka menuntut status kepegawaian di sebuah instansi tempat mereka mengabdi puluhan tahun. Liputan itu juga sangat membekas di ingatan saya, bagaimana ratusan massa menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mars serikat pekerja di dalam ruangan tempat mereka melakukan audiensi.

Semua yang Karl Marx katakan tentang kelas sosial nyaris sempurna.

Melompati dua peristiwa di atas, saya ingin mengenang peristiwa penangkapan 4 orang yang diduga merupakan bagian dari sindikat narkoba internasional beberapa hari yang lalu oleh BNNP Kabar. Kemarin saya meliput press release-nya dan melihat dengan jarak dekat ke-4 pelaku yang masih muda itu. Usia mereka masih 19 tahun.

Ketika orang-orang menghakimi perbuatan mereka, saya justru gelisah memikirkan alasan mengapa mereka melakukan hal ini. Keputus-asaan seperti apa yang mereka rasakan pada kehidupan? Bagaimana ayah atau ibunya yang menunggu di rumah, atau masih kucing peliharaan mereka seandainya mereka punya.

Pikiran-pikiran tersebut berputar di kepala saya saat melihat mereka yang berdiri dengan tangan terborgol dan pandangan nanar menatap lantai.

Dari sekian banyak kejadian yang saya tuliskan ini, saya ingin menyampaikan terima kasih pada semesta yang mengatur semua kejadian yang saya hadapi selama ini. Pekerjaan yang menyenangkan.

Terima kasih, semesta. Ada banyak nilai dan makna yang saya tangkap. Semuanya memperkaya pemahaman saya mengenai kehidupan ini.

This entry was posted in

Sunday, January 14, 2018

Keterlibatan Perempuan Dalam Konser Politik Pilgub Kalbar 2018

Karolin saat meresmikan sebuah gereja di Pontianak
(Catatan Akhir Pekan 1)

Beberapa tahun yang lalu saya pernah menulis catatan untuk presiden Jokowi yang baru terpilih, saat itu saya masih seorang mahasiswa, menakjubkan saat membacanya kembali ketika saya sudah bekerja.

Kali ini tulisan saya ditujukan untuk seorang petarung di Pilgub Kalbar, Karolin Margret Natasa. Bukan apa-apa, tulisan ini semata-mata saya buat karena saya dan dia sama-sama perempuan.
-----
2018 menjadi tahun yang asik bagi Kalimantan Barat, pasalnya Kalbar turut meramaikan tarung politik yang sedang dihelat di negeri ini. Asik karena Kalbar merupakan satu dari daerah rawan konflik seperti yang disampaikan Karo Ops Polda Kalbar, Kombes Pol Jayadi bahwa Kalbar mendapat atensi dari Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian. Namun lebih asik lagi karena pada Pilkada kali ini satu dari petarung adalah seorang perempuan.

Dia adalah Karolin Margret Natasa, tokoh yang dijagokan PDI Perjuangan. Tidak kalah menarik karena dia adalah Bupati Landak saat ini dan juga putri dari Gubernur Kalbar dua periode yang akan diganti, Cornelis.

Kak Olin, sapaan akrabnya, berpasangan dengan Suryadman Gidot, pasangan ini diusung oleh tiga parpol, yakni, PDI Perjuangan, Demokrat dan PKPI. Koalisi tiga partai ini memiliki 27 kursi di DPRD sehingga Karolin-Gidot dapat melaju.

Rabu lalu (10/1) Karolin dan pasangannya melakukan deklarasi di Rumah Radakng, deklarasi ini dirangkaikan dengan perayaan ulang tahun ke-45 Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Merah dan biru mendominasi jalanan Pontianak hari itu.

Ibaratkan sebuah konser, Karolin, memberikan kata sambutannya dengan lantang di hadapan para pendukungnya yang hadir menggunakan tanggui, topi khas para petani di daerah hulu.

"Saya memang perempuan, tapi jangan ragukan kejantanan saya," kira-kira begitu kalimat yang dicetuskannya, disambut sorak sorai para pendukung.

Keterlibatannya dalam pilkada ini memberi warna berbeda, merah, seperti partainya, meski diterpa isu primordial dia tetap yakin untuk melangkah.
Tidak sedikit yang mencibirnya, menganggap dia terlalu muda untuk turun bertarung, tapi tanggapan yang diberikan cukup membuktikan tekadnya. Wanita 35 tahun ini pernah menjadi anggota DPR RI dua periode sebelum menjadi Bupati Kabupaten Landak.

"Kami memang muda, tapi kami memilih untuk turun tangan. Apa yang kurang dan belum lengkap dari diri saya tentu akan dilengkapi oleh calon wakil gubernur saya," ucapnya.

Ini merupakan catatan baru bagi sejarah perpolitikan Kalbar, di mana seorang perempuan muda menjadi satu dari petarung memperebutkan kursi nomor satu di Kalbar.

Ibaratkan konser, Pilkada kali ini sangat berkesan bagi saya. Konser politik kali ini sangat menarik.




This entry was posted in

Saturday, January 13, 2018

Review buku PUTIH Wama Kulit, Ras, dan Kecantikan di Indonesia Transnasional

Buku pertama yang selesai tahun 2018. 
Judul: PUTIH Warna Kulit, Ras, dan Kecantikan di Indonesia Transnasional
Penulis: L. Ayu Saraswati
Penerbit: Marjin Kiri

Kaum perempuanlah yang banyak diberitahu untuk berhati-hati agar jangan sampai hitam supaya dapat menarik laki-laki kulit putih yang berkedudukan bagus.” – Bab 2, Putih di Indonesia Kolonial (Halaman 86).

Buku 254 halaman ini sangat menarik bagi saya yang seorang perempuan dan tengah jadi serangan saran teman-teman untuk mengenakan sarung tangan atau krim pemutih jenis apa karena leher dan tangan yang belang akibat membawa motor tanpa sarung tangan dan jaket. 

Secara keseluruhan buku ini adalah penelitian dari sang penulis yang merupakan dosen di University of Hawai, penelitian yang mendalam mengenai putih itu sendiri dan bagaimana sebenarnya globalisasi berpengaruh pada pemaknaan putih, termasuk pengaruh kolonial terhadap pemaknaan putih di negara kita. Buku ini diganjar sebagai pemenang penghargaan buku Gloria Anzaldua tahun 2013.

Saya merasa bahwa buku ini ditulis untuk jadi bahan diskusi atau refleksi diri, saya tidak perlu krim pemutih untuk menjadikan diri saya seperti Pevita Pearce karena saya adalah seorang gadis Dayak dan memiliki putih yang sudah seperti ini, ya begitulah akhirnya keputusan saya setelah membaca buku ini (hahaha).

Hampir di semua negara standar kecantikan seseorang adalah kulit putih, di buku ini bahkan disajikan catatan mengenai praktik-praktik pemutihan kulit yang dilakukan sejak dulu hingga masa sekarang. Putih menjadi sebuah standar yang berpengaruh pada eksistensi seseorang di kedudukan sosial, bahkan memiliki tempat khusus.

Buku yang pertama kali diterbitkan dengan judul Seeing Beauty, Sensing Race in Transnational Indonesia ini disajikan dalam enam bab dengan pembahasan yang berbeda, sehingga bisa dibaca acak per bab. Analis historis dan diskrusif mengenai iklan-iklan kecantikan yang terbit di majalah-majalah perempuan sejak tahun 1938 ditampilkan secara khusus di sebuah bab.

Buku ini memberi banyak pengetahuan baru dan pemaknaan mendalam, melalui konsep teoritis emotionscape yang digunakan penulis, ketika saya membaca buku ini saya jadi tahu bagaimana saya harus menyikapi emosi-emosi yang dilekatkan pada objek tertentu seperti ras saya, tempat tinggal saya, dan warna kulit saya. Begitu pula ketika melihat ada seorang teman yang mati-matian ingin jadi putih, saya akhirnya bisa maklum. Tidak bisa dipungkiri, sebagai seorang gadis Dayak yang datang dari daerah 3T, ada banyak emosi yang dilekatkan pada saya, terlepas dari warna kulit. 

Secara umum buku ini merupakan buku yang saya rekomendasikan untuk teman-teman yang sedang mencari bacaan serius untuk memberi asupan berkualitas pada diri sendiri. Buku yang cukup feminis, bagaimana menakjubkannya melihat data dan sejarah dikemas dengan cerdas dalam sebuah narasi. Saya sarankan untuk menyediakan banyak penanda karena  buku ini dipenuhi fakta penting dan data menarik di tiap halamannya.

Semua bagian di buku ini sangat berkesan bagi saya, terima kasih, Ninus D. Andarnuswari karena sudah menterjemahkan buku ini.

Daftar Tiap Bab

Bab 1: Rasa, Ras, dan Ramayana: Mengindra dan Menyensor Sejarah Warna di Jawa Prakolonial

Bab 2: Putih di Indonesia Kolonial: Dari Putih Belanda ke Putih Jepang

Bab 3:Cantik Putih Indonesia: Meruangkan Ras dan Merasialkan Kiasan Ruang

Bab 4: Putih Kosmopolitan: Efek dan Afek Iklan Pemutih Kulit dalam Majalah Perempuan Transnasional

Bab 5: Malu dan Warna Kulit: Membaca Pengakuan Perempuan Tentang Praktik Pemutih Kulit

Bab 6: Simpulan: Emosi dalam Konteks Transnasional

Tuesday, January 02, 2018

Pelajaran Penting dari Kasus Pembunuhan Siswi SMK oleh Mantan Kekasihnya yang Cemburu

Image: Pinterest
Tepat di hari pertama tahun 2018 duka itu kembali datang. Seorang gadis berusia 17 tahun, VL yang merupakan siswi di sebuah SMK di Pontianak harus meregang nyawa di tangan mantan kekasihnya, Bun Jun Tjoi alias Achoi (29) yang terbakar api cemburu karena mendengar kabar dari temannya bahwa VL memiliki kekasih baru. 

Setelah kasus ini diangkat media dan menjadi perbincangan publik, banyak yang menganggap ini akibat pergaulan negatif remaja. Bahkan ada yang merasa pacaran hanya membawa dampak negatif. 

Padahal menurut saya, poin penting yang harus ditilik adalah bagaimana pendampingan kita sebagai orang dewasa terhadap mereka yang masih remaja, yang disebut kids zaman now itu. 

Dalam kasus ini, pelaku merupakan orang yang telah dewasa, yaitu 29 tahun. Tapi benarlah bahwa dewasa bukan soal angka, tapi pikiran. 

Sebagai seorang perempuan dan seorang kakak bagi adik-adik perempuan saya, peristiwa yang dialami VL ini menjadi sebuah renungan mendalam di awal tahun. Bagaimana mengedukasi adik-adik kita agar menjalani hubungan yang sehat. 

Ketika menghubungi seorang psikolog untuk meminta analisis mengenai  kasus ini, saya menghubungi Maria Nafaolla, dia menekankan peran keluarga terutama orang tua untuk menangkal peristiwa seperti ini terulang. 

menurutnya, dalam hubungan pacaran, remaja tidak boleh luput dari perhatian keluarga.  

"Orang tua harus menjadi sahabat bagi anak, sehingga si anak nyaman untuk bercerita, terbuka dengan orang tuanya terutama ketika dia mendapatkan satu tindakan yang tidak nyaman entah itu kata-kata atau berupa fisik, artinya mungkin dia dilecehkan atau ada kekerasan kata-kata, ancaman, maupun kalimat-kalimat yang tidak menyenangkan," ungkapnya. 

Lantas bijaksana kah jika melarang adik-adik kita berpacaran karena khawatir kasus seperti ini terjadi pada mereka?

Menurut saya tidak. Kita hanya harus lebih peduli, mengarahkan mereka, membuat mereka memahami mana yang hitam dan putih, apa yang aman dan berbahaya bagi mereka, apa perbuatan yang sehat dan buruk bagi mereka. Mereka hanya perlu bimbingan, arahan.

Bagi saya pribadi, kasus ini menjadi peringatan, sebagai orang dewasa, kebanyakan dari kita memilih menjadi polisi moral yang hanya menangkap mereka ketika mereka berbuat salah. Padahal yang mereka butuhkan adalah bimbingan dan arahan. Ketika mendapati hubungan remaja yang tidak wajar, orang dewasa sering bereaksi negatif, memberi label dan judge pada pelaku yang masih belia. Alih-alih memberi arahan, orang dewasa justru menjatuhkan mental adik-adiknya. 

Itulah sudut pandang saya dalam peristiwa ini, dan awal tahun ini saya telah diliputi resah. Haruskah kasus seperti ini terulang dan kita hanya membacanya, kemudian hanya dikenang selintas saat kasus yang sama kembali terjadi, lalu sama seperti yang sudah-sudah, kejadian ini cukup diingat, lantas mengendap di beranda portal berita online, atau di riwayat pencarian google. 

Kita tidak tau siapa lagi yang akan jadi korban. Bisa saja adik perempuan kita, atau kita sendiri. Saya ingat beberapa tahun lalu sebuah kasus kejahatan dalam berpacaran yang menimpa seorang siswi SMA Santun Untan, PW (16), dia tewas dibunuh kekasihnya yang satu sekolah dengannya karena pelaku jengkel terhadap korban yang cemburu. 

Kali ini kasus yang sama menimpa VL, gadis manis yang harusnya menjalani libur semesternya dengan riang, namun nahas dia kini menyepi dalam liang.

Entah berapa banyak lagi berita pilu yang akan kita baca, lihat, atau bahkan alami. Semoga kasus ini bisa jadi peringatan  di awal tahun. Hentikan kekerasan dalam berpacaran, hentikan tindakan apa pun yang menciderai kemanusiaan. 

Tuesday, December 05, 2017

Sebuah Pengalaman Pribadi; Batasan Bercanda dan Pelecehan Verbal



Image: smartwomeninspiredlives.com

Bercanda adalah ketika kita sama-sama menikmati candaan itu. Ketika satu di antara kita sudah mengungkapkan ketidaknyamanannya dan kita masih menggunakan hal itu untuk bercanda, maka kita tidak sedang bercanda, kita sedang melecehkan.

Ini berawal ketika saya menangis pada sebuah liputan malam di akhir Oktober, waktu itu saya merasa benar-benar lelah, tidak tahan lagi, saya merasa sendirian dan asing di tengah keramaian, ditambah PMS yang membuat mood saya rusak sejak pagi, benar-benar hari yang buruk.

Saya menangis di pojokan sementara ruangan itu sangat ramai. Ketika itu saya bertemu seorang teman dari media lain (oke setidaknya saat itu saya menganggapnya teman) dan dia melihat saya menangis, kemudian dia mengambil foto padahal saya sudah melarangnya. Tapi ya sudahlah, saya rasa tidak akan ada hal buruk yang terjadi hanya karena orang-orang tahu saya menangis, bagi saya menangis itu normal. Palingan saya dibercandain di grup, pikiran saya seperti itu.

Fyi saya belum genap dua bulan bekerja waktu itu, masih baru-barunya. 

Sejak peristiwa itu terjadi saya jadi sering bahan bercanda bagi teman-teman jurnalis lain ketika bertemu saat liputan maupun mengetik berita di warung kopi. Itu tidak masalah sama sekali, saya menganggap itu biasa dan saya sering tertawa bersama mereka ketika candaan itu dilempar. 

Tapi semakin hari arah dari candaan itu sepertinya membuat saya merasa dipojokkan, awalnya mereka bercanda tapi lama-kelamaan itu seperti sebuah ejekan. lambat-laun saya merasa seperti sedang dibully. Candaan mereka mulai tidak lucu bagi saya, apalagi ketika mereka membawa-bawa nama seorang teman yang memang saya akui sering saya ajak berdiskusi. Di antara teman-teman jurnalis yang saya kenal, dia yang banyak membaca buku, sehingga saya lebih sering mengobrol dengannya. Teman saya ini sudah bertunangan. Of course dia cowok.

Oleh teman-teman lainnya, kami sering diseret pada humor mereka. Walaupun saya sudah diam dan berusaha untuk tidak terlibat obrolan panjang. Sudah berkali-kali saya mengatakan langsung di depan mereka bahwa saya tidak suka gurauan itu, saya merasa tidak nyaman. Tapi tetap saja, hal itu terjadi berulang-ulang bahkan ketika saya sudah menunjukkan ekspresi tidak senang.

Sampai pada suatu malam, mereka bercanda di sebuah grup yang diisi jurnalis dari berbagai media dan didominasi laki-laki. Gurauan mereka melukai harga diri saya. Bukan hanya perasaan.

Seperti ini.

"Bang di mana? aku takut. Takut kedinginan bang, mau gak hangatin aku?"
"Bang temani aku yaaaa,"
"Aku takut, jembut bang ***** lebat, kayak brewok bang ****
"Tapi ***** bang ***** jangan ngaceng ya,"

Saya menangis ketika membacanya. Itu bukan bercanda, itu pelecehan, pelecehan verbal. Seketika saya merasa marah, malu, sedih, merasa rendah, sebuah perasaan yang tidak bisa saya tuangkan di sini. Saya orangnya humoris, saya biasa bercanda, teman-teman saya juga, tapi kami tahu batas bercanda adalah ketika orang tersebut telah mengungkapkan ketidaksukaannya maka candaan itu harus dihentikan, kalau masih dilanjutkan itu bukan lagi bercanda tapi melecehkan.

Saya sudah sering menerima berbagai candaan,  mulai dari yang rasis hingga body shaming, dan saya tidak marah. Berbeda dengan candaan ini, saya sudah berkali-kali mengungkapkan ketidaksukaan saya tapi mereka tetap melakukannya. Saya merasa harga diri saya sebagai perempuan tidak dipertimbangkan sama sekali, dan saya berhak marah.

Saya menangis karena merasa itulah satu-satunya yang bisa saya lakukan. Tangisan saya semakin menjadi waktu pacar saya menelpon. Saya tahu dia juga merasa sedih, saya jadi merasa tidak bisa menjaga diri di hadapan mereka, seakan selama ini saya bersikap sebagai perempuan murahan yang bisa mereka gunakan sebagai alat untuk memuaskan hasrat mereka melalui kalimat-kalimat itu, saya merasa selama ini kekurangan saya digunakan mereka untuk menciptakan humor-humor seksis, dan saya merasa semakin rendah diri karena di grup itu ada beberapa orang yang saya anggap teman tapi mereka membiarkan pelecehan itu berlanjut seakan mereka juga menikmatinya.

Perasaan sedih meliputi saya hingga keesokan harinya.

Saya bangun dengan keadaan yang sangat buruk. Seperti biasa mamak menelpon, saya tidak bicara sama sekali hingga beberapa menit sampai akhirnya dia tahu ada yang tidak beres. Saya menangis lagi, lebih dalam karena kekhawatiran keluarga akhirnya terjadi. Bapak mengambilalih pembicaraan setelah mamak mengungkapkan semua pendapatnya.

"Nak, tidak ada yang tidak bisa dikomunikasikan, kita selesaikan urusan dengan mereka. Kamu jangan bekerja di bidang ini lagi, bapak tidak mau kamu mendapat masalah," kalimat itu keluar dari mulutnya, terdengar berat, saya tahu dia khawatir.

Bapak memintaku berhenti menangis, berhenti bekerja dan pulang, saya tahu dia tidak pernah membiarkan saya menangis lama-lama.

Satu dari pelaku bullying bekerja di sebuah media yang dipimpin oleh teman baik paman, pembicaraan mengenai kejadian yang saya alami langsung merebak di keluarga. Semua menyarankan untuk keluar dari pekerjaan ini, dan paman akan bicara dengan temannya.

Akhirnya surat resign saya diketikkan kakak, keesokan harinya surat itu saya bawa ke kantor.

Sebelum saya serahkan, saya bertemu koordinator liputan, kami mengobrol banyak hingga saya mengungkapkan tujuan saya untuk mengantar surat pengunduran diri. Singkatnya saya mengungkapkan rentetan kejadian yang saya alami, mental saya belum siap.

Dia langsung mengambil tindakan, memanggil salah satu teman di kantor yang juga ada di grup itu. Selang beberapa menit kemudian sebuah pesan masuk, berisi permintaan maaf, pengirimnya adalah salah satu pelaku bullying.

Saya tidak ingin membalasnya, kalimat yang mereka tulis terlintas lagi. Suara mereka terngiang, seakan mereka mengungkapkannya langsung dan saya dapat melihat bagaimana mereka tertawa, menikmati pelecehan itu. Apalagi pelakunya adalah orang-orang yang rentang usianya jauh di atas saya, bahkan ada yang telah berkeluarga dan memiliki anak. Ya, memang, dewasa itu pilihan.

Korlip menahan saya, dia tidak menganjurkan untuk resign, dia mencoba membangun harga diri saya, membuat saya merasa lebih baik. Surat resign masih aman di map merah.

Setelah sharing itu, kejadian yang saya alami tersebar ke teman-teman kantor lainnya, satu per satu mengirimi saya pesan. Ada yang bertanya, ada yang memberi motivasi, ada juga yang menyarankan untuk bertindak serius. Hari itu kesedihan saya berubah jadi kegalauan, bagaimana mungkin saya meninggalkan tempat bekerja yang diisi orang-orang peduli seperti mereka.

Sore harinya salah satu redaktur di kantor sekaligus ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Pontianak, Dian Lestari mengajak saya bertemu untuk membicarakan ini.

Dia membagikan pengalamannya, membagikan keberaniannya pada saya. Darinya saya akhirnya sadar, korban bullying harus melawan.

Mungkin saya akan dianggap seorang pengadu, tapi saya sarankan pada siapa saja yang mengalami bullying, baik itu pelecehan verbal maupun fisik, jangan sembunyikan kejadian yang kalian alami. Speak up, karena itu membantu diri kita untuk pulih dari rasa rendah diri.

Dengan berani menceritakan apa yang kita alami, kita akan mendapat banyak keberanian, dan itulah yang saya dapatkan.

Setelah merasa rendah diri, mengutuk diri sendiri mengapa saya harus jadi perempuan penakut sehingga jadi korban bullying, merasa malu karena mereka menganggap saya ini murahan, saya akhirnya sadar,bullying itu tidak bisa dihindari, bullying harus dihadapi.

Kak Dian mengajak saya untuk berani.

Banyak yang memberi support supaya saya tidak terus-terusan menyalahkan diri sendiri dan merasa malu. Hingga hari ini saya masih bekerja, dan keluarga bisa menerima keputusan saya. Saya juga meminta supaya paman tidak memperpanjang masalah ini. Saya bisa menghadapi mereka.

Saya menulis ini untuk berbagi pengalaman, sebelumnya saya juga diskusikan ini dengan beberapa teman. Saya harus menuliskan ini supaya orang-orang yang mengalami hal serupa tidak memilih bungkam karena merasa malu menceritakan pelecehan yang mereka alami. Meski sampai saat ini saya masih menyalahkan diri saya mengapa saya harus menangis malam itu.

Kalau kalian menganggap ini hal biasa, ya tidak masalah. Tapi kalau ada yang mengatakan saya berlebihan, saya marah. Apa yang saya alami adalah pelecehan verbal, pelecehan melalui gurauan, menggoda secara terus menerus dengan kata-kata yang berkaitan dengan seks dan saya berhak untuk marah karena saya adalah korban. Saya tidak nyaman bahkan ini membebani psikis saya.

Terlebih pelakunya adalah orang-orang yang selama ini saya anggap bisa membimbing saya, membantu saya berproses karena saya masih baru di pekerjaan ini. Ternyata saya keliru.

Apa yang mereka lakukan membuat saya merasa rendah diri, menyalahkan diri sendiri, merasa dianggap perempuan murahan dan ini benar-benar menyiksa saya.

Mengapa ini terjadi? mengapa mereka bisa menikmati kalimat-kalimat seperti itu? karena mereka hanya menganggap perempuan sebagai objek. Perempuan bisa di-apakan saja, tidak perlu dipikirkan bagaimana perasaannya. Laki-laki merasa memegang kendali.

Mengapa pelecehan verbal terus terjadi? karena tidak banyak yang berani marah ketika menjadi korban sehingga pelaku merasa hal ini biasa-biasa saja, hal ini tidak melukai harga diri seseorang. Padahal dampak dari kalimat-kalimat itu sangat menyiksa korban.

Pelecehan verbal melalui candaan bisa jadi awal untuk melakukan pelecehan yang lebih serius. Karena itu perempuan harus berani bicara mengenai apa yang dialaminya. Dengan berani bicara dan membahas pelecehan yang dialami, perempuan lain bisa belajar dan tahu cara mengantisipasinya, ini seperti gerakan Hollaback di Jakarta. Sebuah gerakan melawan pelecehan verbal.

Pelecehan verbal itu selalu dilakukan beramai-ramai, kita tidak bisa menghindarinya, karena itu kita harus berani untuk melawannya.

Jangan diam ketika menjadi korban. Bicaralah supaya perempuan tidak hanya dijadikan objek, supaya lebih banyak yang memahami permasalahan gender dan mengerti perihal consent.

Bicaralah supaya batas antara candaan dan pelecehan jadi jelas, supaya mereka tidak melakukan hal itu lagi, membuat harga diri kita diinjak-injak karena mereka merasa memiliki kuasa untuk mengendalikan keadaan di lingkungan sosial. 

Thursday, November 23, 2017

Ilegal Logging dan Ingatan-Ingatan di Masa Kecil

Ratusan kubik kayu disita tim Mabes Polri di sebuah gudang penyimpanan kayu milik tersangka A di Jalan Trans Kalimantan, Desa Korek, Kecamatan Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Jumat (17/11/2017).
Empat hari sebelum peringatan hari pohon sedunia, kasus ilegal logging kembali terungkap di Kalbar. Saat itu yang turun langsung menangani kasus ini adalah Tim Mabes Polri, mereka mengamankan ratusan kubik kayu di sebuah gudang penyimpanan kayu di Ambawang, tepatnya di Jalan Trans Kalimantan, Desa Korek, Kecamatan Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Jumat (17/11).

Kasubit 3 Direktorat Tindak Pidana Tertentu, Kombes Pol Irsan S.H mengatakan kayu-kayu ini berasal dari Sandai, sebuah kecamatan di Kabupaten Ketapang. Kayu-kayu ini dianggap hasil pembalakan liar karena pelaku usaha atas nama A menggunakan IPK yang tidak sesuai peruntukkan. Kayu-kayu didapat dari berbagai sumber, mulai dari masyarakat lokal, pembalakan di hutan hak, bahkan hutan lindung. 
“Ilegal logging dengan modus dokumen palsu sebenarnya bukan hal baru,” ujarnya saat memberi press release dua hari setelah kejadian, Minggu (19/11).
Kasus pembalakan liar terus terjadi dengan berbagai motif, seperti drama panjang Setya Novanto yang tidak kunjung selesai. Ini memberikan perspektif tersendiri bagi saya. 
Saya menghabiskan masa kecil selama tiga belas tahun di daerah berhutan di Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu. Waktu saya SD bapak jarang pulang, saya ingat dia hanya pulang pada bulan-bulan tertentu, Desember ketika Natal, bulan Februari saat kakak ulang tahun, dan akhir Mei untuk merayakan ulangtahun saya. Yang saya tahu bapak menghabiskan banyak waktu di sawmil, jauh, di dekat perbatasan Sarawak, Malaysia. Saya tidak tahu sawmil itu apa, sampai pastor Stef sering bercerita tentang banjir dan tanah longsor, pokoknya dulu dia yang memberitahu sawmil itu apa.Ya biasalah, anak kecil mana tau sawmil apa. hehehe.

Fyi, waktu saya SD transportasi utama di Kapuas Hulu harus ditempuh melalui jalur sungai, jalan darat baru di bangun ketika saya SMP itu juga masih ala kadarnya, jadi mobilisasi sangat sulit dilakukan makanya banyak kepala keluarga yang meninggalkan rumah untuk bekerja. Saat itu saya tidak tahu kalau pekerjaan mereka adalah menjarah hutan.
Saya tumbuh dengan ingatan tentang Hengking dan Apeng yang sering disebut dalam obrolan kakek dan bapak. Bertahun-tahun setelah saya tamat SD dan ilegal logging benar-benar dilarang, saya baru tahu Hengking dan Apeng ini adalah dua cukong yang berperan besar dalam penjarahan kayu di Kapuas Hulu. Mereka dekat dengan pemerintah sehingga berkali-kali lolos dari jerat hukum. 
Menjelang SMP, sebelum saya tamat SD bapak sudah tidak bekerja di sawmil. Tapi saya tidak pernah melupakan itu, sampai sekarang saya masih sering menuntut jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan waktu saya masih kecil. Mengapa nama Hengking dan Apeng sering disebut? Mengapa bapak jarang di rumah? Mengapa selalu wanti-wanti tiap ada polisi datang ke rumah? Dan itu tidak pernah terjawab, tapi saya tahu bapak menyadari kesalahannya pada bumi.
Ketika saya SMA berbagai tawaran untuk bapak dan kakek datang dari perusahaan yang bergerak di industri perkebunan kelapa sawit, mereka meminta belasan ribu hektar tanah untuk dijadikan lahan perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Embaloh Hulu, kakek yang seorang temenggung dinilai memiliki peran khusus untuk menentukan apakah industri ini boleh masuk atau tidak. Sementara bapak yang merupakan cucu dari Reang - temenggung pertama Tamambaloh - berperan sebagai penentu apakah belasan ribu tanah yang dilirik perusahaan tersebut diserahkan atau tidak karena wilayah yang mereka inginkan berada di wilayah kekuasaan Reang. Syukurlah hingga hari ini tidak sejengkal tanah Tamambaloh dimasuki industri perkebunan kelapa sawit.
Semua kejadian ini menunjukkan bahwa kejahatan terhadap lingkungan terus terjadi dan saya melihatnya secara langsung. Saya tumbuh dengan ingatan-ingatan ini, bahwa orang-orang terdekat saya pernah menjarah hutan, meski kini mereka menyadari bagaimana mereka dimanfaatkan saat itu, pertanyaan saya masih belum terjawab. 
Kini hutan telah bergeser nilainya di mata mereka. Hutan kini identitas, kehilangan hutan berarti kehilangan identitas sebagai orang Dayak Tamambaloh. 
Tahun 2012 perjuangan panjang kakek dan orang-orang Tamambaloh dimulai, mereka mempertahankan tanah dari korporasi yang telah mendapat izin dari Bupati Kapuas Hulu. Perjuangan yang tidak mudah karena masih banyak masyarakat yang tergiur dengan iming-iming perusahaan, dan tiap saya pulang kemudian menikmati sejuknya udara dan segarnya air Tamambaloh, saya mengingat perjuangan itu, terima kasih.
Ketika mendapat kesempatan langsung untuk melihat gudang kayu milik A di Ambawang beberapa hari lalu, kejadian-kejadian yang terekam di ingatan saya kembali muncul. Saya akhirnya menyimpulkan bahwa manusia memang egois dan tidak pernah merasa cukup. Saya cukup baper, tapi itulah kenyataanya. 
Seperti korupsi dan isu SARA, kejahatan lingkungan juga tidak pernah tuntas. Untuk kejahatan ilegal logging, jumlah kayu kini terbatas, dan inilah yang menyebabkan ilegal logging tidak lagi jadi fokus yang utama di Kalbar.
“Ilegal logging tidak lagi menjadi yang utama di kita bukan karena kemampuan melakukan penegakan hukum, bukan karena kemampuan melakukan pengawasan dan penjagaan tapi karena memang faktanya kayu-kayu itu sudah habis,” kata Direktur Eksekutif WALHI Kalimantan Barat, Anton P Widjaya.
Hutan di Kalbar kini hanya tersisa di wilayah konservasi, itu juga penuh polemik di dalamnya, ada hak-hak masyarakat lokal yang harus dibatasi atas nama pelestarian lingkungan, penyelamatan bumi, atau apalah istilahnya yang memang tujuannya baik, saya pun mendukung walau tetap menyertakan tapi. 
Ilegal logging yang saya saksikan sejak kecil sampai sekarang setelah saya bekerja telah mengajarkan saya untuk memahami siapa saya di tengah semesta yang luas ini. Ya elah nulis panjang-panjang Cuma buat bilang ini. Hahaha.
Kita ini adalah bagian dari alam, bukan penguasa alam. Kita adalah satu kesatuan yang tinggal di satu planet bernama bumi. Kalau bumi rusak lantas anak cucu kita tinggal di mana? Bumi inilah satu-satunya tempat kita hidup, seperti kata Apai Janggut, "kalau ada yang jual bibit bumi, saya mau beli," sayangnya tidak ada yang menjual bibit bumi. Inilah satu-satunya tempat kita tinggal.

Ah membicarakan kejahatan lingkungan seperti ilegal logging mungkin tidak asique dan menarique, ya? ya sudah sih hehe.

Intinya kejahatan lingkungan ini harus dihentikan, kejahatan lingkungan yang bagaimanapun bentuknya, kita harus mencegahnya.

Mencegah dengan hal sederhana seperti mencegah adik kecil kalian untuk buang sampah sembarangan misalnya, atau mencegah diri kalian didekati cowok yang tiap hari memikirkan cara memajukan Provinsi tapi puntung rokoknya tidak diurus. ehehehe -__-

Memahami siapa diri kita di tengah semesta ini, kita yang hanya satu titik kecil di planet bernama bumi. Alam dan manusia adalah satu kesatuan, kita satu bagian, kita bukan penguasa.
This entry was posted in

Wednesday, November 08, 2017

Catatan Panjang untuk Lagu Berjudul Goblok Milik Puck Mude


Puck Mude ketika tampil dalam Konser Buku Kalbar Book Fair 2017 di Rumah Radakng, Jumat (3/11/2017).
Pertemuan pertama saya dengan Puck Mude, seorang musisi lokal beraliran musik rock and roll di Pontianak terjadi di sebuah acara Konser Buku, yang menjadi rangkaian acara Kalbar Book Fair 2017 yang dilaksanakan di Rumah Radakng sejak tanggal 1-7 November. Malam itu saya datang untuk meliput,  dan dia menjadi penyanyi yang mengisi acara tersebut. Satu di antara lagu yang dibawakannya berjudul Goblok. Sebuah lagu yang menurut saya cukup menggambarkan bagaimana peran perempuan ditentukan oleh konstruksi sosial.

Perempuan tidak bisa memasak goblok. Begitu kalimat yang terdapat dalam lirik lagunya. Agus Ramdani, nama asli dari Puck Mude mangatakan lagu itu merupakan bentuk kritik terhadap perempuan-prempuan masa kini yang telah melupakan kodratnya.

“Cewek nda bisa masak agak goblok, masa cewek ndak bisa masak, kan lucu, masa laki-laki yang masak? Pesan dari lagu ini ingin menyampaikan kodrat seorang cewek harus bisa masak. Kalau zaman dulu anak cewek harus bisa masak, tapi sekarang sudah dilupakan. Cewek sekarang  shopping, clubbing, pacaran jago. Disuruh masak masa nda mau. Macam mana cerita?,” katanya saat saya temui seusai acara malam itu.

Lirik lagu Goblok terngiang-ngiang di telinga saya sampai berhari-hari setelahnya. Tadi pagi saya membuat survey kecil-kecilan, melalui poling Instagram saya bertanya setujukah dengan anggapan yang mengatakan cewek yang tidak bisa memasak goblok, hasilnya dari 221 responden, 81 % mengatakan tidak setuju sedangkan 19 % memilih setuju.

Hasil poling menunjukkan mayoritas teman-teman di instagram saya bukanlah orang-orang yang berpikiran purba. ehe. Mungkin kalau pertanyaan ini saya lempar ke ruang lingkup yang lebih kecil dan khusus, hasilnya akan berbeda, mengingat pertemanan di Instagram tidak terbatas dari kalangan dan daerah tertentu.

Menyoal tentang lirik lagu Goblok yang mengatakan cewek tidak bisa memasak goblok yang kemudian ditegaskannya dengan pernyataan memasak adalah kodrat perempuan, saya ingin meluruskan apa yang dimaksud kodrat.

Kodrat merupakan sesuatu yang datang dari Tuhan, yang sifatnya tidak bisa ditukar-tukar. Kodrat membedakan jenis kelamin. Berbeda dengan gender yang merupakan peran sosial yang diberikan untuk perempuan dan laki-laki. Gender antara laki-laki dan perempuan bisa ditukar, bisa saling melengkapi. Perempuan sering dilekatkan dengan pekerjaan domestik sementara laki-laki dengan pekerjaan produktif. Perempuan dan laki-laki bisa saling melengkapi dalam gender, bisa bertukar posisi, tetap tidak dengan kodrat.

Kodrat adalah sesuatu yang tidak bisa diubah, kodrat perempuan tidak bisa diubah oleh kodrat laki-laki, dan sebaliknya. Kodrat perempuan ada tiga, yaitu mengandung, melahirkan, dan menyusui. Ini adalah kodrat perempuan karena hal ini tidak bisa digantikan laki-laki.

Jadi, apakah memasak itu kodrat perempuan? 
Tentu saja bukan. Kodrat perempuan hanya tiga.

Memasak bukanlah kodrat. Memasak merupakan keahlian. Anggapan yang mengatakan perempuan tidak bisa memasak goblok harusnya tidak didengar, sama seperti anggapan laki-laki yang tidak bisa mengendarai motor bego, tidak harus didengar.

Memasak adalah keahlian, sama seperti menjahit, menyetir, memasang aliran listrik, atau bertukang. Keahlian akan terus terasah seiring dengan pembiasaan. Lantas mengatakan goblok para wanita yang tidak terbiasa memasak? 

Saya kenal banyak teman-teman wanita cerdas yang masa depannya cerah dan mereka sangat lemah ketika berada di dapur. Kehadiran pembantu dan rumah makan siap saji yang selalu terbuka lebar pintunya menjadi satu di antara alasan mengapa orang-orang tidak biasa memasak, sehingga tidak bisa mengolah sayuran atau daging.

Satu dari musisi indie asal Bandung sekaligus penulis yang sering membagi bahan diskusi pada saya, Fiersa Besari saya mintai pendapat juga. Dia yang baru saja menyelesaikan perjalanan dari Gunug Patah bersama Ramon Yusuf Tungka yang tergabung dalam Eiger Adventure menjawab pertanyaan saya dengan berkelakar.

"Entah cewek atau cowok, kalau enggak bisa masak bukan berarti bodoh. Kalau bisa masak, jadi nilai plus. Kenapa? karena aku ngerasain itu pas di hutan kemarin. Bisa masak atau mengenali makanan adalah syarat wajib untuk bertahan hidup. Enggak bisa masak itu kayak enggak bisa nyetir. Enggak bodoh, tapi akan lebih baik kalau bisa," katanya melalui kotak pesan hijau, Line. 

Tidak hanya Bung, sapaan akrab Fiersa Besari, teman saya yang merupakan pendiri Liga Filsafat, Sebastianus Lukito mengungkapkan hal senada. Dia menyampaikan memasak bukanlah kodrat, memasak adalah keahlian di suatu bidang yang siapa saja boleh mempelajarinya, dan jika tidak berhasil bukan berarti dia goblok.

"Mau dia perempuan, laki-laki, transgender, biseksual, dll, aku memandang mereka sama rata. Mau menggapai bidang fisika, astronot, atau mau masak, itu kehendak bebas manusia untuk saling melengkapi," ujarnya. 

Hal yang sama saya tanyakan pada teman sesama Komunitas Pecandu Buku Jabodetabek, Nunu. Dia yang memang concern menyuarakan kesetaraan hak perempuan dan laki-laki mengatakan memasak bukanlah kodrat. Memasak adalah keahlian, dan pilihan. 

Saya pribadi menentang pernyataan Puck Mude, karena kodrat perempuan adalah mengandung, melahirkan, dan menyusui. Dapur, sumur, dan kasur bukanlah kodrat tapi tugas yang bisa dikerjakan bersama oleh laki-laki dan perempuan. Mungkin orang-orang yang stereotip belum membaca jika pekerjaan domestik  rumah tangga kini sudah mulai banyak dikerjakan laki-laki, sehingga muncul istilah Bapak Rumah Tangga (BRT), dan berdasarkan catatan Pew Research Center jumlah laki-laki di Amerika Serikat yang memutuskan menjadi BRT semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Saya banyak merenung setelah wawancara itu. Apalagi jika membahas pernyataannya yang mengatakan perempuan masa kini lebih jago shopping, clubbing, dan pacaran (dia menekankan tidak semua perempuan masa kini seperti itu). Terlepas dari peran ganda perempuan, kita juga harus membahas kecacatan eksistensialis terhadap kaum wanita seperti yang dipaparkan Simon de Beauvoir. Lain kali akan saya tulis.

Saya senang menuangkan gagasan saya dalam bentuk tulisan, saya tetap kagum pada bang Agus Ramdani. Beliau merupakan satu dari musisi lokal Pontianak yang kiprahnya sudah tidak diragukan lagi. Lagu-lagunya memang kerap mengangkat isu di lingkungan sehari-hari. Seperti musik adalah kebebasan, begitu pula dengan menulis. Jika Puck Mude bebas menuangkan ide melalui musik, maka saya melalui tulisan. 

Tabik dari Clau, cewek berusia 21 tahun, seorang pekerja teks komersil, lulus dari Fakultas Hukum yang memiliki akreditasi A dengan IPK 3.72 dan tidak bisa memasak. Lantas saya goblok?

Bagi saya, siapa saja yang perlu makan, maka harus memasak, mau dia cewek atau cowok. Tidak bisa memasak berarti bodoh? tidak, itu hanya soal pembiasaan. Memasak itu hanyalah satu dari peran ganda seorang wanita, intinya saya menulis ini agar teman-teman atau adik-adik saya tau apa itu kodrat dan gender. Tidak ada labeling lagi kalau anak cewek harus bisa masak, anak cewek harus bisa mengurus rumah, dan labeling lainnya yang jika tidak bisa dipenuhi oleh wanita maka wanita dianggap menyalahi kodratnya, sementara kodratnya adalah mengandung, melahirkan, dan menyusui. Kodrat adalah yang kita bawa sejak lahir, kalau memasak itu kodrat maka tidak perlu dibuka kelas-kelas memasak karena kalau kodrat maka wanita sudah bisa melakukannya tanpa harus belajar. 
This entry was posted in

Friday, November 03, 2017

Review Buku Pelacur itu Datang Terlambat


Pelacur Itu Datang Terlambat

Penulis: D. Purnama
Penerbit: Enggang Media

"Kematian mana lagi yang lebih menyakitkan selain kematian jiwa dalam raga yang masih terikat kehidupan." — Hari Matinya Bapak, Halaman 47.

Setelah melewatkan beberapa kali diskusi mengenai Pelacur Itu Datang Terlambat, akhirnya saya tuntas juga degan buku ini.

Buku setebal 113 halaman ini memuat 12 cerita pendek yang diangkat dari kehidupan sosial sehari-hari, diceritakan oleh D. Purnama dengan sangat berani. Dia menguraikan cerita dengan rangkaian diksi yang indah, menjadi nyawa dari tulisannya.

Cerpen yang menjadi pembuka buku ini adalah Sedap Malam yang Cemburu, sebuah cerpen yang tidak bisa ditebak dan sangat berkesan bagi saya. Mengangkat fenomena krisis gender, cerita ini dikemas dengan penuh kejutan.

Ada juga cerita pendek berjudul Hari Matinya Bapak. Sebuah cerita yang membuat saya banyak merenung dan memikirkan bapak. Sangat dalam, terlepas dari pengalaman pribadi yang pernah saya alami, D. Purnama berhasil mengajak pembaca larut dalam kematian seorang ayah ketika melihat harapan yang dia gantungkankan di pundak puterinya diturunkan dengan cara yang tidak dia anggap layak.

Kisah lainnya membuat haru karena tersirat kritik sosial terhadap berbagai permasalahan yang kita hadapi sehari-hari. Berbicara tentang kemiskinan, hegemoni, dibingkai dengan budaya.

Untuk cerpen yang dipilih menjadi judul buku ini, saya menilai D. Purnama adalah seorang feminis. Di beberapa bagian dia berhasil menunjukkan keberpihakannya pada upaya perempuan untuk melepaskan diri dari konstruksi sosial yang selama ini disematkan pada kaum hawa.

Buku ini berhasil membawa saya berimajinasi liar, melewati batas rasional seperti saat membaca kisah Meow dan Buaya Dalam Waduk. Sebuah pengalaman membaca yang jarang saya nikmati.

Buku ini tidak akan mencuri banyak waktumu. Kecuali kamu membacanya berulang-ulang karena suka. Btw, ini adalah buku pertama dari penulis lokal yang berhasil saya tuntaskan. Diksinya bagus, idenya juga bagus, kecuali covernya yang membosankan.

Jadi tertarik untuk membaca karya D. Purnama yang lain.