Tuesday, September 18, 2018

Sabung Patana; Proses Pencarian Kebenaran dengan Cara Tradisional dalam Komunitas Adat Tamambaloh


Sabungpatana, hakim terakhir yang dipercaya suku Tamambaloh ketika menyelesaikan sengketa dengan cara tradisional/ National Geographic Indonesia


Lelah menyaksikan perang tagar jelang pemilihan presiden tahun depan, mari kita berkunjung ke Kapuas Hulu. Melihat kearifan lokal masyarakat adat Tamambaloh yang disebut sabung patana. Sebuah cara tradisional untuk mengetahui kebenaran melalui adu ayam.

Mungkin terdengar aneh karena biasanya adu ayam hanya jadi hiburan atau agenda berjudi, oleh para aktivis pencinta hewan jadi bahan kritikan. Tapi masyarakat Tamambaloh percaya sabungpatana bisa jadi penunjuk kebenaran ketika manusia sudah tidak bisa membuktikan kebenaran tersebut. 

Seperti yang dijelaskan oleh Tamanggung Tamambaloh, Pius Onyang ST bahwa sabung patana merupakan proses penyelesaian konflik dengan cara tradisional karena konflik tersebut tidak bisa diselesaikan secara hukum negara akibat tidak adanya bukti. Misalnya kasus saling tuduh mencuri tanpa ada saksi atau bukti, atau kasus memperebutkan tanah warisan yang tidak ada surat wasiatnya.

Ketika manusia tidak mampu membuktikan kebenaran, orang Tamambaloh percaya roh-roh baik akan membantu. Inilah yang dimaksud kosmologi sebagai etika semesta dalam komunitas adat Tamambaloh, kosmologi yang mengatur cara-cara manusia berinteraksi dengan lingkungan sosial maupun dengan lingkungan alam. Sabung patana merupakan hasil kerja nyata roh-roh leluhur dan sampulo padari dalam menunjukkan kebenaran melalui menangnya ayam jago yang disabung. 

Sampulo padari sendiri merupakan pencipta dan penguasa semesta dalam kepercayaan tradisional orang-orang Tamambaloh sebelum misionaris dari Belanda masuk ke komunitas ini pada abad ke-19. Komunitas adat Tamambaloh memelihara tradisi-tradisi yang berkaitan erat dengan konsep yang memandang bahwa alam dihuni oleh roh-roh, sehingga melahirkan aturan, nilai-nilai, dan moralitas yang baik. 

Cara ini sudah dipercaya sejak turun temurun, sudah terbukti dan tidak terbantahkan. Karena itulah masih diakui dan dilaksanakan hingga saat ini. Tahun lalu saya berkesempatan menyaksikan langsung proses pencarian kebenaran dengan cara tradisional ini.

Sabung patana diadakan di desa Ukit-Ukit, kecamatan Batang Lupar, Kapuas Hulu karena kasus pencurian emas dan uang salah seorang warga, muncul banyak spekulasi siapa yang mencuri hingga ada dua orang yang dicurigai, tapi keduanya ngotot tidak mau mengaku hingga sabung patana dipilih sebagai proses pembuktian.

Setelah lebih dari 40 tahun tidak pernah diadakan sabung patana, tahun 2017 desa Ukit-Ukit kembali melaksanakannya. Saya masih ingat bagaimana suasana yang sangat ramai waktu itu. Saya yang baru saja menyelesaikan pendidikan hukum sangat antusias menyaksikannya. Bahkan saya nekat masuk ke arena adu ayam. Tidak banyak perempuan yang diperbolehkan masuk arena, kecuali keluarga pihak bersengketa. Saya sempat diminta keluar tapi kakek meminta saya tetap masuk (ternyata ada gunanya juga jadi cucu tamanggung, wkwk peace kakek). 

Arena sabungpatana kasus pencurian di desa Ukit-Ukit tahun 2017. Arena dijaga oleh para pengurus adat dan pihak kepolisian yang membantu agar proses sabungpatana berjalan aman/ Dokumen Pribadi.

Dari jarak yang sangat dekat saya menyaksikan proses sabung patana. Meski arena dipadati banyak kepala, tapi ketika pemanggil roh mulai membaca mantranya semua orang hening. Hanya ada suara pemanggil roh membacakan mantra dengan bahasa Tamambaloh kuno dan suara kokok sepasang ayam yang sebentar lagi akan diadu. 

Masing-masing pihak yang akan berlawanan membawa perlengkapan adu ayam. Jika adu ayam biasa hanya perlu membawa ayam beserta tajinya, beda halnya dengan sabung patana. Layaknya ritual adat pada umumnya, ada proses yang dijalani, ada syarat yang harus dilengkapi.

Suasana di luar arena, pihak keliarga tertuduh sedang memanggil roh keluarga agar turut membantu/ Dokumen Pribadi.

Pihak yang berlawanan harus menyediakan dolang berisi sesajian untuk pangalongang (pemanggil roh-roh leluhur). Dolang berisi uang taruhan, ikat tangan (panjarati), pulut delapan potong, satu buah kalame, satu kepal nasi dan harus dibawa oleh orang yang sudah ditunjuk sebelumnya, bisa keluarga atau orang kepercayaan masing-masing pihak.

Sabung patana paling cepat diadakan sekitar pukul 9 atau 10.00 siang, sebelum matahari terbenam harus sudah dilaksanakan. Aturannya cukup sederhana, ayam siapa yang lari dari arena dan melewati garis yang dibuat maka dinyatakan kalah. Meski ayam adu mati jika dia tidak keluar dari arena sementara ayam satunya masih bernyawa tapi dia lari meninggalkan arena maka ayam yang keluar tetap dinyatakan kalah. 

Suasana dalam arena. Pihak bersengketa menunggu di dalam arena, didampingi keluarga./ Dokumen Pribadi.

Tidak ada aturan harus menggunakan ayam adu yang seperti apa, karena orang tamambaloh percaya begitu selesai memanggil roh leluhur maka yang beradu bukan lagi ayam, tapi roh yang telah dipanggil. Orang yang bertugas memanggil roh leluhur juga bukan sembarangan orang, mereka haruslah berasal dari keturunan pemanggil roh yang sudah ditunjuk oleh para pemangku adat untuk menjalankan ritual ini. Begitulah syarat-syarat untuk melaksanakan sabungpatana.

Begitu semua pihak memasuki arena, pemanggil roh akan membacakan mantra, semua roh yang dipercaya orang Tamambaloh sebagai penguasa semesta dipanggil. Dimintai campur tangannya untuk menunjukkan kebenaran. Suasana agak berbeda. Meski di kiri kanan saya dikelilingi ponsel pintar dari masyarakat yang penasaran ingin mengabadikan momen langka ini, suasana tradisional tetap terasa. Ada dimensi lain yang entah mengapa membuat saya tidak nyaman. Saya terlalu gengsi untuk mengakui bahwa saya merinding waktu itu, padahal di sana ramai, cuaca cerah, arena sabung persis di samping rumah korban pencurian. Tempat ini telah disepakati bersama sebelumnya. 

Saat itu adu ayam tidak membutuhkan waktu lama, tidak sampai tujuh menit sudah ada ayam yang meninggalkan arena. Ayam tersebut merupakan ayam dari pihak yang dituduh sebagai pelaku. Saya sempat meragukan proses ini, tapi tidak lama setelah diketahui ayam siapa yang menang, pihak tertuduh mengakui bahwa dia memang mencuri perhiasan dan uang tersebut. Suasana jadi gaduh, tapi tidak ada keributan karena para pemangku adat dengan sigap memberi pengumuman bahwa penentuan hukuman untuk pelaku akan dilakukan sesuai dengan hukum adat Tamambaloh dan dilaksanakan di balai adat.


Untuk orang-orang yang skeptis hal seperti ini pasti tidak memuaskan rasa ingin tahu kalian. Terlepas benar atau tidaknya roh leluhur masih terhubung dengan dunia fana, saya menghormati kearifan lokal masyarakat Tamambaloh. Menurut pak Pius Onyang ST, dulu selain sabungpatana ada juga alternatif lain untuk membuktikan kebenaran. Yaitu dengan cara selam air atau mencelupkan tangan ke air panas.  Tapi kedua cara ini terlalu beresiko karena pernah terjadi insiden yang memakan nyawa para pihak bersengketa.

Ketika orang-orang memelihara hewan untuk hiburan, sumber uang, atau untuk konsumsi, ada orang-orang yang akhirnya menemukan kebenaran melalui ayam piaraannya. Ketika manusia tidak bisa membuktikan kebenaran, harapan digantungkan di kaki ayam. Aneh, tapi begitulah kosmos bekerja. Sebuah pengalaman berkesan yang sangat sayang jika tidak saya bagikan di sini. Karena sebagai seorang Tamambaloh dan sarjana hukum, ada banyak pertanyaan yang bersarang di kepala saya ketika menyaksikan sabung patana. 

Saturday, August 25, 2018

If You Can Dream It, You Can Do It



Tulisan ini untuk teman-teman yang sedang memperjuangkan impiannya, meski orang lain menganggap impian itu remeh, sepele, tidak penting, bahkan dianggap tidak layak untuk diperjuangkan. 

If you can dream it, you can do it.

Kalimat dari Walt Disney ini yang menyelamatkanku dari keputus-asaan. Hahaha. Serius, dulu aku penuhi sampul buku catatan semasa SMA-ku dengan kutipan ini. Karena aku yakin, kalau aku bisa memimpikan sesuatu aku pasti bisa meraihnya. 

Mari kita mulai dengan cita-cita di masa kecil.

Sejak kecil aku ingin jadi wartawan. Dari sekian banyak profesi yang aku kenali saat itu, wartawan adalah yang paling aku inginkan. Walaupun sebenarnya waktu SD aku sempat berpikiran untuk jadi pelukis. Oke, maksa banget. Aku bahkan tidak bisa menggambar sampai sekarang. 

FYI, aku menghabiskan masa kecil di sebuah tempat terpencil. Di sebuah kabupaten yang merupakan daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar). Tempat di mana impian teman-teman seusiaku sangat konvensional. Ingin jadi dokter, pramugari, pilot, guru, bekerja di bank, jadi perawat, bidan. Profesi yang tidak membuatku tertarik sama sekali. 

Aku tumbuh dengan ingatan masa kecil yang menyenangkan. Dengan impian suatu hari aku bisa mengobrol langsung dengan presiden, menanyakan semua yang ingin aku tanyakan padanya. Dulu tidak terpikirkan bahwa di masa depan, sebuah twit di Twitter saja sudah bisa membuat kita berinteraksi dengan presiden hahaha.

Begitulah hari-hari berlalu. Waktu sekolah aku mengurusi Mading. Satu-satunya penyesalan tumbuh di daerah 3T adalah ketika menyadari betapa sedikitnya informasi yang aku terima di banding kawan-kawan di daerah maju. Kalau teman-teman mungkin di masa SMA sudah ikut lomba karya tulis ilmiah atau bahkan magang di media-media lokal. Aku boro-boro. Makanya ketika aku meninggalkan tempatku dan bertemu peradaban, aku harus belajar banyak hal. Mengejar ketertinggalanku. heheu.

Setelah aku menyelesaikan kuliah hukum aku berencana melanjutkan pendidikan. Aku bahkan sampai menghabiskan beberapa bulan untuk belajar bahasa Inggris di Kampung Inggris, Kediri. Tapi pertengahan tahun aku berubah pikiran. Sekembalinya dari Kampung Inggris aku mengirim lamaran ke sebuah media lokal di tempatku. Aku diterima setelah melewati beberapa tahapan tes. Itu adalah tahapan tes yang membuatku takut.

Benaran, aku takut dengan tes psikologis karena aku seorang diskalkulia. Soal-soal hitungan membuatku merasa benar-benar tidak berguna di hadapan kertas. Jadi waktu menunggu hasil psikotes, aku sangat khawatir. Aku sangat tidak percaya diri kalau bicara tentang ini. Tapi untunglah aku lulus dan akhirnya aku menjadi wartawan.

Media tempatku bekerja merupakan anak perusahaan sebuah media yang memproduksi beberapa majalah favoritku, seperti Bobo dan KaWanku. Bapak adalah orang yang paling senang, karena ketika teman-temannya sibuk melobi kenalan agar anaknya diterima bekerja, dia justru menunggu dan melihat anaknya menentukan masa depannya. Waktu aku selesai sidang skripsi dan pengujiku bertanya aku mau menjadi apa di masa depan, dengan yakin aku jawab bahwa aku ingin jadi wartawan. Meski aku tau, banyak yang meragukannya hahaha karena dulu sebelum ke Kampung Inggris aku sangat pemalu, bahkan pemilih ketika bicara :’)

Hari pertama ke kantor aku benar-benar kacau. Aku bangun kesiangan, aku tidak keramas, aku bahkan tidak memakai lipstick. Aku datang ke kantor pertamaku dengan tidak percaya diri :’)

Masih jelas terbayang bagaimana mulasnya perutku karena grogi. Tidak ada yang aku kenal di sana, karena jujur saja selama kuliah aku tidak  gabung di organisasi manapun, berbeda dengan beberapa teman yang gabung di Lembaga Pers Mahasiswa. Aku justru memulai semua kebiasaan menulisku di blog. Aku menulis otodidak di blog ini. Waktu wawancara tahap pertama, blog ini juga jadi salah satu portofolioku. 

Tapi seperti kata Walt Disney, if you can dream it you can do it. Aku akhirnya bekerja dengan profesi masa kecilku. Jadi wartawan untuk sebuah media lokal. Aku merasakan bagaimana menjadi seorang pewarta berita, bertemu banyak orang baru, mengobrol, melempar pertanyaan meski lidahku kadang kelu dan seolah ada kupu-kupu menari di perutku. Untuk orang sepemalu aku, ini tidak pernah mudah.

Walaupun belum sempat wawancara presiden hahaha karena aku memilih resign setelah menyadari bahwa jadi wartawan tidak cukup hanya bisa menulis. Jadi wartawan harus bisa berkomunikasi dengan sabar. Ya sabar, sebuah sifat yang hanya ada sedikit di diriku. Setelah tidak jadi wartawan aku masih tetap menulis. Sekarang aku jadi content writer di sebuah perusahaan yang membuatku semakin yakin, bahwa aku akan survive dengan menulis. 

Meski jenis pekerjaan ini masih sangat asing di lingkunganku, meski beberapa keluarga masih membanding-bandingkan penghasilanku dengan sepupu-sepupu yang lain karena mereka tidak yakin seseorang bisa hidup dari menulis. 

Tapi syukur, aku punya orangtua yang mendukung semua keputusanku. Waktu aku dinyatakan diterima sebagai wartawan, bapak mengirim pesan yang isinya panjang banget. Mengucapkan selamat karena anak bungsunya yang cengeng ini akhirnya mendapat apa yang diinginkannya. Padahal aku tahu dia kecewa karena aku tidak jadi melanjutkan pendidikan. Waktu aku resign juga bapak dan mama mendukungku.

“Kalau capek, nda apa-apa istirahat dulu,” dari jaman kuliah sampai kerja, kalimat ini yang selalu mama ucapkan tiap kali aku mengeluh, bahkan menyerah.

Aku menulis ini karena aku ingin berbagi semangat untuk siapa saja yang impiannya dianggap tidak penting dan dianggap tidak layak untuk diperjuangkan. Tentu saja pengalamanku ini belum apa-apa, atau tidak ada apa-apanya dibanding pengalaman kalian. Tapi seperti yang aku katakan di awal, mari berbagi semangat.

Waktu aku jadi wartawan, beberapa anggota keluarga menganggap ini pilihan yang keliru. Bahkan ada yang bilang, ngapain kamu capek-capek kuliah hukum, belajar bahasa Inggris, kalau cuma jadi wartawan. Masih sedikit orang-orang yang menganggap wartawan sebagai profesi. Padahal jadi wartawan sangat menyenangkan, kamu bisa bertemu siapa saja. Mulai dari orang-orang menginspirasi sampai pembunuh, mulai dari pemulung sampai pejabat.

Kamu bisa memasuki gedung-gedung yang selama ini tidak tersentuh olehmu, berhadapan langsung dengan pembuat kebijakan, dan mendapatkan jawaban atas semua rasa ingin tahumu. Kamu tidak perlu ke kantor setiap hari, kamu bebas mengenakan pakaian apa saja dan kamu tidak pernah membenci hari Senin karena pekerjaan ini sangat menyenangkan.

Dan yang paling nikmat adalah ketika berita yang kamu tulis ternyata membantu nyawa seseorang. Aku bakal share cerita tentang seorang bapak yang mendatangi kantor karena berita tentang ASI eksklusif yang aku tulis. Sebuah kejadian yang membuatku lebih menghargai kehidupan :’)

Baiklah, teman-temanku. Selamat memperjuangkan kehidupan yang kalian inginkan ya. Meski dianggap remeh, sepele, atau tidak layak, kalau kalian bisa memimpikannya maka kalian bisa melakukannya. Selamat memelihara impian-impian masa kecil, selamat memperjuangkan pilihan hidup. Seperti kata seorang teman, jadilah apa saja yang kalian inginkan, yang penting sehat dan tidak jahat.

Jadi, apa impian masa kecil yang sedang kamu perjuangkan atau jalani saat ini? bagi ceritamu di kolom komentar ya. Mari saling menyemangati :)


Foto: Bonnie Kitle

Friday, August 17, 2018

Menyelami Romantisme Sepasang Anarkis dalam Film Anarchist from Colony


Film yang membuat bulu kuduk merinding, bukan karena sadisme yang ditampilkan. Tapi keberanian sepasang anarkis melawan penindasan dan pemerintahan yang otoriter ketika Jepang menjajah Korea.

Seperti janji saya di postingan sebelumnya untuk mengulas film sejarah dari Korea Selatan, kali ini saya akan menulis film Anarchist from Colony. Sebuah film yang harus ditonton oleh para anarkis, karena film ini merupakan film tentang aktivis gerakan anarkis asal Korea Selatan, Park Yeol dan kekasihnya, anarkis pemberontak asal Jepang, Kaneko Fumiko yang menentang penindasan Jepang terhadap Korea.

Aktor yang memerankan tokoh Park Yeol adalah Lee Je- Hoon. Dia ini memang aktor besar negeri ginseng, aktingnya tidak diragukan lagi. Film yang dirilis tahun 2017 ini menjadi film yang banyak dibicarakan oleh teman-teman penikmat film biografi. Sedangkan Kaneko Fumiko diperankan oleh Choi- Hee- Seo. 

Anarchist from Colony menceritakan perjalanan sepasang anarkis untuk melakukan revolusi. Meski porsinya lebih banyak menceritakan Park Yeol karena film ini memang didedikasikan untuk mengenangnya, tapi Kaneko Fumiko tidak bisa dikesampingkan. Makanya saya lebih senang menyebut Anarchist from Colony sebagai drama biografi.

Park Yeol adalah pemuda penuh semangat yang membenci penindasan dan keotoriteran. Dia lahir di Mungyeong, Provinsi Gyongsang, Korea pada 3 Februari 1902. Dia melanjutkan sekolah  menengah di Seoul. Tapi dikeluarkan karena terlibat sebuah gerakan. Dia lalu pergi ke Tokyo dan melanjutkan sekolah di sana. Di Tokyolah dia bertemu teman-teman yang memiliki tujuan sama dengannya. Mereka lalu membentuk kelompok anarkis yang dinamai Futeisha, Fumiko Kaneko merupakan perempuan Jepang yang tergabung di dalamnya. 

Usia Park Yeol masih 22 tahun saat dia ditangkap dan dipaksa untuk mengakui sebuah kejahatan yang tidak dilakukannya. Dia dan teman-temannya ditangkap, tapi akhirnya teman-temannya yang lain bebas. Hingga dia yang tersisa, namun Fumiko tidak mau meninggalkannya dan memaksa untuk ikut dipenjara. Mereka berdua menyusun strategi perlawanan dari balik jeruji, saling berkirim surat dan tetap mempertahankan kewarasan dengan menulis. Meski itu semua dilakukan secara diam-diam.




Film ini berhasil membuat saya envy, saya terkesima dengan cinta Fumiko yang besar pada kekasihnya. Mereka benar-benar memiliki pikiran yang merdeka, rasa kemanusiaan yang tinggi dan perjuangan tanpa takut. 

Bahkan saat sidang dilaksanakan, mereka berdua sama sekali tidak gentar. Park Yeol merupakan pemuda yang cerdas, mungkin teman-teman harus belajar dari sosoknya hehe. Pokoknya tipikal cowok pintar yang membuat meleleh. Dia juga senang menulis, puisinya yang berjudul Anjing Liar adalah puisi yang banyak dibaca pemuda-pemuda Korea. Bahkan Kaneko Fumiko mengenalnya lewat puisi ini. Sidang mereka diliput media asing, bahkan setelah dijatuhi hukuman penjara sosok Park Yeol tetap jadi panutan banyak mahasiswa karena keberaniannya.

Meski akhirnya dia dan kekasihnya harus berpisah karena Kaneko Fumiko meninggal duluan, film ini tetap menggemaskan karena berhasil menampilkan kesetia-kawanan dan cinta yang tulus. Bahkan dalam keadaan sulit. Tidak ada adegan romantis sama sekali sepanjang film, tapi sikap mereka yang saling melindungi membuat iri.

Film ini sangat saya rekomendasikan untuk teman-teman anarkis atau yang sedang ingin tahu tentang gerakan anarkis. Selain belajar sejarah Korea Selatan kita juga bisa mengambil pesan-pesan kemanusiaan dari film ini. Sebagai orang yang mengutuk paham feodal, emosi saya tercampur aduk. Penuh haru juga karena persaudaraan para aktivis selama Park Yeol dipenjara tetap kuat, perlawanan dilakukan dari balik penjara.

Adegan yang paling saya suka adalah ketika Park Yeol menyanyikan lagu The Internationale. Rasa geram dan haru bercampur, menggebu-gebu. Terkutuklah orang-orang bermental feodal di seluruh dunia, entah apapun bentuknya. Tegaklah kemanusiaan, keadilan dan kebahagian bagi semua orang.


Image: Google

Thursday, August 16, 2018

Lima Alasan Mengapa Harus Menonton Film 1987: When The Day Comes



Selain melalui bacaan, film juga bisa jadi media transformasi sejarah yang menyenangkan. Minggu lalu saya menonton beberapa film sejarah dari Korea. Salah satunya adalah film 1987: When The Day Comes. Sebuah film yang berhasil mengaduk-aduk emosi saya dan sumpah mati saya mengutuk pemimpin yang diktator.

Untuk teman-teman yang sedang mencari referensi film untuk ditonton, film ini sangat saya rekomendasikan. Saya juga telah merangkum lima alasan mengapa film 1987: When The Day Comes layak untuk ditonton.


google

1. Melihat Sejarah Kelam Korea Selatan

Kalau kalian taunya Korsel identik dengan cowok manis dan cewek cantik, serta hingar bingar k-pop yang membuat mata segar. Film ini menyajikan Korsel yang lain. Korea Selatan yang pernah dikuasai sebuah rezim yang dipimpin seorang diktator. Film garapan sutradara Jang Joon Hwan ini berkisah tentang kematian seorang aktivis mahasiswa pro-demokrasi, Park Jong Chul ketika sedang dalam proses introgasi. Kematiannya membuat rakyat bertanya-tanya, mereka meminta kebenaran tentang penyebab kematiannya. Tapi pemerintah menutupinya, ini menyebabkan rakyat marah. Gejolak mahasiswa pun tak terbendung lagi. Mereka menuntut agar pemerintah transparan, tidak ada kediktatoran lagi.  

2. Mengingatkan Tragedi Mei 1998 di Indonesia

Perjuangan para mahasiswa di Korsel untuk menggulingkan kediktatoran sama seperti perjuangan mahasiswa Indonesia ketika menuntut agar Soeharto. Jika 1987 menampilkan Park Jong Chul sebagai martir, Indonesia mencatat beberapa nama mahasiswa yang jadi korban tragedi Mei 1998. Makanya saya sangat rekomendasikan film ini untuk teman-teman yang masih kuliah. Supaya bisa melihat bahwa peran mahasiswa sangat besar, tidak hanya kuliah untuk mendapatkan IPK tinggi dan bekerja di perusahaan besar atau berlomba-lomba jadi PNS. Pada masanya mahasiswa pernah mencatat sejarah, jadi penggerak perubahan.

3. Menikmati Film Sejarah yang Digarap dengan Totalitas

Penggarap film sejarah Indonesia harus berkaca pada film 1987. Film ini benar-benar digarap dengan totalitas. Menampilkan suasana yang mencekam, menguras emosi. Kita seperti memasuki dimensi lain ketika Korsel sedang kacau. Kerusuhan terjadi di mana-mana. Melibatkan banyak pihak mulai dari pemerintah, kejaksaan, kepolisian, wartawan serta media massa, gereja, penjara, dan geliat demonstrasi mahasiswa hingga ketakutan rakyat. Semuanya ditampilkan utuh, mata saya berkaca-kaca sepanjang film ini. Kualitas film 1987 sangat jauh di atas film-film sejarah yang pernah dibuat di Indonesia. Apalagi deretan aktor yang main di film ini adalah aktor-aktor ternama. Dibanding film A Taxi Driver, film ini masih lebih menantang. 

4. Berhenti Mendukung Pemimpin Diktator yang Fasis

Kita bisa berkaca dari film sejarah ini, seorang pemimoin yang diktator dan fasis hanya akan membawa kesengsaraan pada rakyatnya. Kekerasan bisa dilegalkan dengan alasan melindungi negara, bahkan kemanusiaan jadi tidak memiliki nilai apa-apa. Para preman dibayar untuk menghentikan perlawanan rakyat, pembunuhan jadi hal yang biasa. 1987 juga mengambarkan dengan gamblang bagaimana aparat mengintimidasi rakyat, mengancam bahkan merampas hak mereka untuk hidup. Mungkin seperti inilah Indonesia ketika sedang bergejolak menuntut turunnya Soeharto. 

5. Peran Gereja Membela Kemanusiaan

Oke, untuk poin ke-lima ini saya tidak mau berpanjang lebar. Nanti saya dikira relijius. Hehe. Intinya gereja mengambil peran dalam penegakan konstitusi dan penggulingan kediktatoran di Korsel. Tonton film ini untuk mengetahui kisah selengkapnya. Siap-siap emosinya terkuras. 

Sunday, July 15, 2018

Yuk Berbagi Buku dengan Adik-Adik di Nanga Sungai



Kamu pasti punya banyak buku bekas di rumah kan? bagi kita buku bekas mungkin tidak menarik lagi. Tapi bagi orang-orang yang tinggal di daerah pelosok, buku bekas sangat berarti. Sulitnya akses ke luar daerah membuat informasi dan pengetahuan yang mereka miliki jadi terbatas. Ketersediaan buku ibaratkan sebuah oase karena mereka bisa mengetahui berbagai informasi mengenai daerah lain melalui buku.

Seperti sebuah kampung bernama Nanga Sungai di Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan  Barat. Di sini belum ada listrik, padahal jaraknya tidak begitu jauh dari pusat kecamatan. Anak-anak kecil di sana harus melalui masa  kecil dengan banyak ketertinggalan dibanding anak-anak di derah lain.

Mulai dari cara belajar hingga permainan. Waktu anak-anak lainnya belajar di bawah pencahayaan yang cukup, anak-anak di Nanga Sungai belajar di bawah temaram pelita minyak.

Karena belum ada listrik hiburan mereka bukan televisi atau gawai. Sepulang sekolah mereka terbiasa ikut ke ladang, bermain di sana atau di kebun-kebun karet membawa ketapel, kadang menghabiskan waktu meyusuri tepian parit mencari ikan. Memuaskan hasrat memancing di usia belia padahal kadang seharian nggak dapat apa-apa.

Bangunan di belakang itu rumah sekolah mereka, gaes. Cuma ada Sekolah Dasar. Muridnya juga tidak banyak. Kalau sudah tamat SD mereka harus melanjutkan pendidikan ke kecamatan.


Tahun lalu aku menemui anak-anak di sana. Aku datang membawa majalah bekas Bobo dan berbagai buku cerita anak milik adik sepupuku. Menumpang di rumah seorang warga aku mengumpulkan mereka lalu kami membaca bersama. 


Yang baju hitam itu sepupuku ya bukan adek-adek wkwk. Dia yang nemenin aku main bareng adik-adik di sana.


Antusias mereka sangat tinggi. Kalau kalian kecewa dengan riset yang mengatakan minat baca di negara kita rendah, aku juga kecewa, tapi aku tidak putus asa. Wajah-wajah ceria yang aku temui waktu itu membuat aku selalu semangat untuk menyebarkan kecintaan terhadap buku, kecintaan terhadap membaca dan menulis.


Ini aku lagi bacain cerita, aku belum mandi waktu itu tapi tetap saja sepertinya tida bau ehehehe.


Di daerah pelosok ada banyak orang yang senang membaca, tapi akses mereka terhadap buku sangat terbatas. Apalagi harga buku mahal. Contohnya saja adik-adik yang semangat mengerumuniku waktu aku ajak membaca. Mereka ini jauh dari kota, tapi rasa ingin tahu mereka sangat tinggi. Ketika ada satu anak bertanya dan aku menjelaskan, yang lainnya akan mendengarkan lalu menanyakan hal baru yang tidak mereka pahami. 

Satu per satu baca cerita di depan, kalau dia capek nanti minta ganti teman yang lain dan begitu seterusnya. Mereka gada capeknya.


Ada rasa hangat yang memenuhi hatiku waktu memandang wajah mereka satu per satu. Buku cerita menjadi barang mewah bagi mereka karena keterbatasan ekonomi keluarga. Adik-adik ini jarang menyentuh buku cerita anak. Kalau ada buku yang mereka baca itu adalah buku tematik yang cara penulisannya sangat kaku. 


Wajar saja mereka semangat ketika aku datang membawakan buku, meski yang aku bawa buku bekas. Karena buku bacaan jadi hal yang sangat berarti di sana, tidak peduli seusang apa sebuah buku mereka akan tetap membacanya dengan bahagia. Waktu aku pamit pulang mereka bertanya kapan aku datang lagi dan membawakan buku.

Aku lupa nama adik ini. Dia semangat banget bolak-balik halaman Bobo padahal belum bisa baca. Btw kata temannya rambutnya ini ketumpahan pewarna rambut abangnya, jadi lucu gini hahaha.


Karena melalui buku langkah mereka bisa lebih jauh, melewati batas kampung, menembus kota-kota besar di Indonesia bahkan dunia. Karena melalui buku pikiran mereka bisa lebih luas, imajinasi mereka lebih tinggi. Kalau kamu masih berpikir buku bekasmu tidak ada gunanya, kamu keliru. Buku-buku itu berarti bagi mereka yang haus informasi. Kalau kamu punya buku cerita anak yang masih layak baca dan buku itu sudah tidak kamu pakai, mungkin kamu berkenan membagikan kebahagiaan untuk adik-adik di Nanga Sungai. Hubungi aku ya. Mereka perlu bacaan anak supaya imajinasi mereka berkembang. Mereka butuh majalah-majalah seperti Bobo dan sejenisnya supaya pengetahuan mereka bertambah.


Mereka berhak untuk bahagia, dan buku membuat bahagia.

Kamu bisa menyumbangkan buku-buku bekasmu untuk mereka yang membutuhkan. Berbagi kebahagiaan dengan hal sederhana. Ketika kita memberi mereka buku, kita tidak hanya memberi kertas berisi tulisan dan gambar, kita sedang memberi kehiduan baru bagi mereka. Karena melalui buku yang mereka baca mereka bisa menjadi siapa saja, mereka bisa pergi ke mana saja. 
This entry was posted in

Saturday, July 07, 2018

Bagaimana kamu ingin mati?



Mungkin kita bisa memesan takdir kita.
Kamu ingin mati seperti apa?
Aku ingin mati dengan manis. Mengenakan pakaian terbaik yang pernah dikenakan tubuhku. Mati dengan rasa cukup akan kehidupan. Mati dengan memilih kematian itu sendiri, ketika 30.

Monday, June 25, 2018

Ketika Pecandu Buku Bertemu Penikmat Musik Underground di Silahturockmi


Malam itu galeri Canopy Centre sesak, musik keras memenuhi ruangan yang letaknya tepat di belakang cafe, menenggelamkan suara penonton yang hadir dalam acara Silahturockmi, ajang silaturahmi band underground di Pontianak. Saya tidak pernah nyaman berada di keramaian seperti itu, saya tidak begitu menyukai gigs, tidak ada kesenangan yang saya temui di tengah lautan manusia dengan suara bising yang memekakkan telinga, dengan wajah-wajah asing yang tidak saya kenali. Seringkali kehadiran saya di acara-acara seperti itu karena kepentingan pekerjaan.

Tapi malam itu saya datang dengan sukarela karena kami (saya dan dua teman lainnya dari Komunitas Pecandu Buku) membuka lapak baca gratis di acara itu. Beberapa buku kami bawa, kami susun di atas meja panjang tidak jauh dari pintu masuk. Mulai dari Tan Malaka, Michael Bakunin, Fidel Castro, Ema Goldman hingga Carl Sagan dan Stephen Hawking berjejeran menunggu pengunjung menyapa mereka, pengunjung yang mungkin saja lelah berteriak atau moshing di dalam. Buku-buku sastra juga disusun rapi, siapa tahu ada yang berkontemplasi sepanjang jalan pulang sesudah singgah di lapakan.

Kami ada untuk mengisi kebosanan atau kelelahan teman-teman setelah atau sebelum menonton. Bisa jadi ada yang sedang menunggu dan tidak tahu mau ngapain, membaca buku jauh lebih baik ketimbang berdiri bengong sendirian atau sok asik memainkan gawai, syukur-syukur kalau baterai atau kuotanya masih ada hehehe.

Awalnya saya pesimis akan ada yang membaca, berdasarkan pengalaman melapak di beberapa acara, yang tertarik membaca bisa dihitung pakai jari selama acara berlangsung. Kebanyakan dari mereka cuma melihat-lihat buku lalu bertanya apakah buku ini dijual atau tidak, padahal di depan sudah ditulis "Lapak Baca Gratis". Kalau sudah begini saya nyengir dan nyinyir di dalam hati, cakep-cakep tapi bego wkwk. 

Tapi malam itu dugaan saya salah, ternyata yang tertarik membaca lebih banyak dari biasanya. Beberapa wajah sudah saya kenal karena pernah saya temui ketika meliput acara Voice of Borneo (makasih om Den, w ga kuper-kuper amat akhirnya hahaha). Saya juga dapat beberapa kenalan baru yang suka membaca dan menulis. 

Sebenarnya menurut saya kegiatan membaca itu adalah kegiatan personal. Saya pribadi tidak bisa membaca buru-buru, jadi mustahil bisa membaca buku dari lapakan orang, ujung-ujungnya saya pasti pinjam buku itu karena buku itu candu, sama seperti drama korea. Sekali kamu buka halaman pertama, bakal sulit berhenti sampai halaman terakhir. Tapi kami rasa membuka lapak baca gratis seperti ini bisa jadi salah satu cara untuk meningkatkan minat baca di lingkungan kami.

Minimal jejaring akan bertambah, mereka yang membaca buku di lapakan biasanya tertarik dengan informasi yang ada di buku. Mereka lalu meminta kontak kami dan buku tersebut dipinjam. Minimal kami sudah berusaha, daripada misuh-misuh karena tingkat literasi yang rendah tapi tidak berbuat apa-apa.

Lapak baca gratis yang dibuka di ruang-ruang publik memungkinkan kita untuk saling menemukan. Saya yakin sebenarnya banyak yang senang membaca buku tapi buku yang ingin dibaca tidak ada. Untuk ukuran Pontianak yang toko bukunya terbatas, menemukan buku yang menarik dan sesuai kebutuhan tidaklah mudah. Lebih banyak buku-buku yang memuaskan emosi ketimbang mencerdaskan pembaca. Malam itu kami berusaha menghadirkan buku-buku alternatif, dan respon yang kami dapat sangat positif. Obrolan-obrolan panjang bersama pengunjung mengenai beberapa buku pun bergulir hangat meski harus setengah teriak supaya tidak tenggelam oleh musik. 

Meski tidak berharap terlalu banyak pada tingkat literasi di Kalbar, setidaknya respon yang kami dapat kemarin memperlihatkan banyak yang ingin membaca buku tapi belum menemukan buku tersebut. Yang harus kita lakukan adalah bersama-sama menyediakan bacaan yang memang bisa memuaskan keingintahuan masyarakat. Negara sebenarnya mengakomodir kebutuhan ini, tapi ada tetek bengek yang harus dilengkapi untuk menikmati buku-buku di sana. Rumit, shay :)

Dari perjumpaan dengan beberapa teman baru malam itu saya berharap semakin banyak orang-orang yang saling menemukan sehingga kita bisa saling bertukar pikiran, saling dukung untuk membuat diri kita berarti bagi sesama. Dengan saling menemukan, informasi yang didapat semakin banyak, landasan berpikir kita semakin kuat dan tujuan kita semakin jelas. Saya berharap suatu hari nanti forum-forum diskusi tentang masa depan tempat ini tidak hanya milik kalangan-kalangan tertentu, milik mereka yang konservatif sementara yang lainnya hanya jadi penurut karena minimnya informasi dan ketidakpahaman masyarakat membaca kebijakan yang dikeluarkan pemerintah.

Semoga semakin banyak orang yang saling menemukan dan membuat tempat ini semakin menyenangkan. Semakin menyenangkan dengan cowok-cowok cerdas yang tidak hanya cakep dan tajir tapi juga berwawasan luas. Karena kubosan dengan cowok-cowok yang obrolannya garing. Seharian nanyain "lagi ngapain, udah makan belum, hari ini mau jalan ke mana, nonton yuk, makan ke sini yuk." Kenapa gak ngomongin sesuatu yang informatif dan mencerdaskan. dududu :p

Jadi, sampai ketemu di lapak-lapak buku berikutnya. Kalau tertarik saling pinjam buku bacaan bisa menghubungi akun @bukuselanjutnya yaa. 

This entry was posted in

Friday, June 22, 2018

Membentuk Pustaka, Berbagi Kesenangan dengan Meminjamkan Buku


Selalu ada rasa senang tiap kali seseorang mengembalikan buku karena pembicaraan jadi lebih panjang dari biasanya.

Tahun ini saya mulai memberanikan diri untuk melepas buku-buku saya, saya pinjamkan pada orang lain. Saya dan pacar membuat akun Instagram khusus untuk pinjam meminjam buku di area Pontianak namanya @bukuselanjutnya buku-buku kami diunggah di sini, kalau ada yang ingin meminjam bisa langsung menghubungi kontak yang tercantum.

Tidak ada syarat khusus untuk meminjam buku di sini, kami meminjamkan dengan sukarela. Dengan niat tulus untuk berbagi kesenangan membaca. Tujuannya tentu saja untuk berbagi kebahagiaan dan menambah jejaring pertemanan. Sementara ini yang meminjam kebanyakan adalah teman-teman dekat kami, tapi ada juga beberapa teman baru, dan ada calon-calon peminjam yang terpaksa tidak kami pinjami buku karena yang bersangkutan tidak sopan ketika ingin meminjam.

Berbagi kesenangan dengan cara ini dianggap tindakan bodoh oleh sebagian orang. Apalagi Gus Dur pernah mengucapkan kalimat yang bunyinya "Hanya orang bodoh yang mau meminjamkan bukunya dan hanya orang gila yang mau mengembalikan buku yang sudah dia pinjam." Dulu saya juga setuju dengan kalimat ini, buku-buku saya jarang saya pinjamkan pada orang lain, kalau saya berani meminjamkan itu karena saya tahu orangnya pasti bisa menjaga buku saya, atau karena saya juga meminjam buku darinya. 

Semakin bertambahnya usia, semakin banyak saya membaca buku dan bertemu orang, semakin sering diskusi dan kontemplasi akhirnya saya sampai pada titik ini. Buku-buku saya boleh dipinjam siapa saja. Untuk kalian yang memiliki kecintaan terhadap buku dan kegiatan membaca, kalian pasti mengerti bagaimana sulitnya melepas keterikatan kita dengan buku, rasa memiliki yang teramat dalam sampai kita takut kehilangan. Apalagi buku-buku yang didapat dengan susah payah. 

Tapi sekarang rasa memiliki yang berlebihan seperti itu sudah saya tinggalkan. Saya selalu ingin bermanfaat bagi orang lain, kalau dengan buku-buku yang saya punya seseorang bisa merasa bahagia maka saya tidak keberatan untuk berbagi bacaan. Lagipula semesta bekerja dengan cara yang adil. Ketika kita berbuat baik maka kebaikan pasti terjadi juga pada kita, selalu ada balasan.

Saya tidak merasa bodoh ketika meminjamkan buku-buku saya pada orang lain karena saya tahu saya baru saja membuat orang lain bahagia tiap kali saya menyerahkan buku tersebut. Saya tidak merasa bodoh karena saya mungkin baru saja membantu seseorang mendapat pengalaman baru dalam hidupnya setelah membaca buku yang dia pinjam dari saya. Mungkin saja buku yang saya pinjamkan mengubah hidup seseorang, atau menyelamatkannya dari keputus-asaan. 

Saya yakin buku-buku yang dibaca lebih berarti ketimbang buku-buku yang disimpan rapi di rak buku. Kalau saya sudah membaca buku kemudian menyimpan buku tersebut dengan rapi, menjadikannya koleksian pribadi, itu sama saja saya menghilangkan nilai buku tersebut padahal di luar sana seseorang sedang kebingungan mencari buku tersebut atau berusaha keras menyisihkan gajinya yang tidak seberapa untuk membeli buku yang saya simpan rapi di rak buku, sesekali dikeluarkan untuk dibersihkan dan difoto lalu dipamerkan di media sosial. Betapa egoisnya saya.

Apalagi saya termasuk orang yang sering misuh-misuh karena rendahnya tingkat membaca dan menulis di lingkungan saya, tanpa sedikit pun saya peduli keadaan mereka yang mungkin tidak punya kemampuan untuk membeli buku yang ingin mereka baca. Kalau kamu memiliki banyak buku lantas marah-marah karena rendahnya tingkat literasi masyarakat tapi tidak berbuat apa-apa, sebenarnya kamu tidak layak marah-marah. Yang harus kita lakukan adalah berbagi buku yang kita punya, biarkan mereka meminjam dan membacanya.

Bukankah berbagi adalah hal yang menyenangkan? meski kecil dan sederhana seperti berbagi bacaan. Dulu saya sering marah-marah pada pacar saya kalau buku saya dipinjamkannya pada orang lain, sekarang sudah enggak dong. Kami berdua senang sekali kalau ada nomor baru menghubungi dan ingin meminjam buku, itu artinya kami akan membuat orang lain senang dan teman kami jadi bertambah. 

Seperti kata Tan Malaka, selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi. Dan bagi kami selama ada orang yang mau saling pinjam-meminjamkan buku, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, tidak hanya bertukar buku tapi juga berdiskusi dan membuat gerakan bersama.

Jadi kawan-kawan yang mau pinjam-pinjaman buku, yuk kita saling tukar pinjam. Jangan biarkan buku-buku yang kita beli memenuhi rak buku tanpa dibaca. Jangan sampai kita kesal pada kondisi literasi di sekitar kita tapi kita tidak berbuat apa-apa. Satu buku yang kita pinjamkan pada seseorang bisa saja mengubah kehidupannya atau menyelamatakannya dari kebingungan, bahkan kesepian. 
This entry was posted in

Saturday, June 02, 2018

[Review] Melihat Kritik Terhadap Lembaga Pendidikan Formal Melalui Buku Sekolah itu Candu Karya Roem Topatimasang


Candu Karya Roem Topatimasang
Judul: Sekolah itu Candu
Penulis: Roem Topatimasang
Tebal: 178 halaman
Penerbit: Insist Press

 “…Sekolah kini menjadi milik dan alat dari satu kekuatan yang –atas nama dan dengan label-label ‘demi pembangunan, industralisasi, modernisasi, globalisasi’—bukan Cuma mengajarkan bagaimana caranya merampok habis sumberdaya kebendaan komunal yang dimiliki dan sudah berabad dilestarikan oleh para wong cilik setempat: hutan dan tanah ulayat, hasil bumi, dan sebagainya; tetapi juga mengajarkan bagaimana caranya menjarah sumberdaya kerohanian priadi maupun kolektif dari orang-orang ugahari itu…”

9/30.

Setelah membaca buku ini bisa dipastikan banyak yang mengutuk diri sendiri karena menyadari bahwa sekolah di negeri ini sudah sangat bertolak belakang dengan makna sekolah itu sendiri.
Buku Sekolah itu Candu bisa dikatakan sebagai buku saku bagi siapa saja yang merasa janggal dengan sekolah namun belum memiliki keberanian untuk memastikan bahwa memang ada yang salah dan harus dikritik.

Buku ini memperlihatkan banyaknya kekeliruan di sebuah lembaga yang dianggap bisa mencerdaskan seseorang. Berisi 14 bagian dan dikemas dengan bahasa yang mudah dipahami.  Meski ditulis puluhan tahun lalu, keadaan saat itu masih sangat relevan dengan keadaan sekarang.

Penulisannya santai namun berisi sehingga enak dibaca meski pemilihan fontnya tidak tepat menurut saya. Begitu pula dengan pengaturan marginnya, untuk buku sebagus ini sayang sekali jika dikemas dengan kesan asal-asalan, beberapa orang memiliki selera membaca yang menyebalkan, misalnya hanya mau membaca buku-buku yang pengemasannya (pemilihan font dan pengaturan margin) baik, untung saya bukan termasuk golongan pembaca seperti itu.

Pada bab 1 penulis memperkenalkan sejarah sekolah, mulai dari arti kata sekolah yang berasal dari bahasa Latin yaitu shole, scola, scolae atau chola yang artinya waktu luang atau waktu senggang. Orang Yunani kuno menggunakan waktu luang mereka untuk mengunjungi suatu tempat atau seseorang yang pandai tertentu untuk mempertanyakan dan mempelajari hal-hal yang mereka rasa perlu diketahui. Lambat laun seiring perkembangan jaman sekolah menjelma menjadi sebuah lembaga pendidikan yang menyita banyak waktu, tidak ada lagi makna waktu luang untuk belajar, yang ada murid dipaksa belajar seharian di sekolah. Ini menarik untuk didiskusikan, dan membaca buku ini seolah-olah kita berdiskusi langsung dengan penulisnya.

Bab 2 penulis mengajak pembaca untuk membandingkan beragam sekolah, mulai dari sekolah formal hingga sekolah kehidupan yang digelar di bawah-bawah jembatan sekitar daerah kumuh maupun tepian rel kereta api. 

Bab selanjutnya berbicara tentang aturan-aturan yang diterapkan di sekolah, aturan yang menurut penulis justru mematikan kehadiran sekolah sebagai rumah belajar dan laboratorum pengetahuan anak-anak manusia.

Ada juga bagian di mana penulis memperlihatkan realitas bahwa sekolah bagi para pemodal adalah sebuah bisnis besar, ibaratkan perusahaan. Pengusaha kini bisa menjadikan sekolah sebagai alternatif bisnis yang sangat menjanjikan. 

Realitas tentang sekolah di daerah pedalaman juga dituliskan di buku ini, bagaimana mereka semangat ke sekolah, menamatkan jenjang Sekolah Dasar hingga SMA namun tidak pernah mendapat ilmu yang bisa mereka implementasikan di kehidupan sehari-hari, mereka akhirnya hanya jadi petani padi meski telah mengantongi ijazah SMA. Apakah lembaga pendidikan bernama sekolah mampu memberi pengetahuan untuk kehidupan kita? 

Berbagai kenyataan pahit tentang sekolah dituturkan dengan manis oleh penulis. Dan seketika ada rasa berontak yang bergejolak di dada saya, apalagi kalau mengingat biaya sekolah yang makin mencekik leher, mengingat para ibu di kampung yang berjalan gontai ke kantor-kantor koperasi simpan pinjam untuk meminjam uang agar anaknya bisa mendaftar kuliah tahun ini, atau para ayah di kota yang harus bekerja belasan jam dalam sehari agar gajinya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup membayar tagihan kredit dan membiayai anak yang sekolah di sekolah favorit.

Sekolah di satu sisi membuat para orang tua gila, ya, gila dalam bekerja. Mereka bahkan melupakan lapar, lelah, dan keinginan pribadi mereka agar anak-anaknya bisa pergi ke sekolah. Sementara itu lembaga pendidikan bernama sekolah ini semakin hari semakin tidak masuk akal, bahkan sering dianggap tidak berhasil mencetak manusia-manusia berskill, ini terbukti dengan tingginya angka pengangguran. Kalau mengingat sejarah sekolah, maka sekolah sekarang semakin tidak layak disebut sekolah. 

Sebagian orang tua yang menyadari ini memilih untuk memberikan pendidikan dengan cara berbeda, sekolah formal tidak lagi jadi pilihan. Mereka membantu anak belajar dengan cara yang menyenangkan, memasukkan mereka ke sekolah informal, contohnya seperti Sekolah Canopy di Pontianak, Kalimantan Barat. Di sini anak-anak bisa belajar apa saja dari pengajar-pengajar berkompeten, tanpa sekat, mereka bisa bertanya apa saja, metode pengajaran seperti ini dianggap tepat oleh orangtua yang memasukkan anaknya di sini. Tapi sayang tidak semua orang tua memiliki kesadaran seperti mereka, atau bahkan kemampuan untuk memberikan pendidikan yang seperti ini pada anak-anaknya.

Buku ini sangat layak dibaca dan didiskusikan, tidak hanya oleh para pelajar tapi juga oleh para akademisi, pemerintah, orang tua, mahasiswa gondrong yang doyan foto dengan hashtag save gondrong, siapa saja yang peduli pada pendidikan.

Bayangkan kita menghabiskan waktu berbelas-belas tahun untuk belajar dan menghabiskan uang di sekolah, kita pergi ke perguruan tinggi dan dikuras oleh sistem pambayaran yang semakin hari semakin tidak manusiawi, kita wisuda, jadi sarjana dan menganggur, sebagian lainnya jadi budak korporasi dan kerja bagai sapi perah, kita memberikan sebagian hidup kita untuk sekolah dan apa yang sekolah berikan pada kita? Masihkan sekolah jadi satu-satunya tempat untuk mencerdasakan kita?

Mari kita jawab sendiri sambil menyaksikan berita-berita tentang demonstrasi mahasiswa yang menentang tingginya biaya sekolah dari hari ke hari. Mari jawab sendiri sambil membaca narasi berisi argumentasi tentang metode pendidikan apa yang tepat diterapkan di negeri ini sementara para pengusaha, politisi, dan akademisi menjalin kerjasama membuka sekolah-sekolah baru, perguruan tinggi baru, sekolah akhirnya jadi bisnis baru, investasi masa tua yang menjanjikan. Dan kita masih dipaksa untuk pergi ke sekolah demi sebuah ijazah, agar kelak bisa diterima oleh sistem yang berlaku saat ini, kita bekerja dan mengabdi untuk sebuah lembaga, memelihara sistem ini agar langgeng sembari tetap menjaga harapan untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Padahal, menurut saya, sekolah harusnya membuat kita cerdas dan sadar. 

Wednesday, May 30, 2018

22

image:pixabay

.....We're happy free confused and lonely at the same time. It's miserable and magical. Tonight's the night when we forget about deadlines, its time... 
Hari ini lagu 22 milik Taylor Swift berkali-kali saya dengarkan. I turned 22 today, finally I can sing this song! hahaha. Setelah sekian lama menanti saat ini tiba, akhirnya saya bisa teriak-teriak nyanyiin lagu ini.
Ya ampun 22 tahun, oh my god. Rasanya excited, dengan pola hidup yang tidak sehat dan cara berkendara yang ugal-ugalan sebenarnya saya bisa saja meninggal di usia 21, tapi ternyata masih hidup hahaha. Ini artinya delapan tahun menuju kematian. Saya benar-benar senang hari ini, tidak banyak bicara di kantor karena ingin memaknai semua hal, meresapi semua moment. Mencoba mengahayati pertambahan usia ini, hal apa yang telah saya lakukan selama 22 tahun. Bersyukur untuk semua kesempatan yang bisa saya dapat, untuk semua kebaikan yang kadang saya rasa tidak seharusnya saya terima.
Seperti yang saya tulis setahun yang lalu, usia 21 menjadi tahun di mana saya mulai melangkahkan kaki. Iya, usia 21 saya mulai terjun ke dunia kerja, menjamah industri yang selama ini saya impikan. Saya ingin hidup dari menulis, dan hari ini, saat saya mengetik ini di usia 22 saya sedang menjalani hidup tepat seperti yang saya inginkan setahun lalu.
Semesta maha adil. Saya yakin kalau kita mendekatkan diri dengan sesuatu yang kita inginkan, semesta akan merestuinya. Selama ini saya berusaha mewujudkan keinginan saya untuk hidup dari menulis, walau gajinya masih ala kadarnya setidaknya saya sudah mandiri, tidak merepotkan orangtua lagi (dan saya membayar pajak pada negara).
Kalau diingat-ingat ada banyak hal yang berkesan di usia 21 tahun. Itu kali pertama saya bisa mentraktir keluarga dari uang hasil keringat sendiri, bekerja sebagai penulis, dan saya akhirnya terjun ke lembaga. Semua itu sebenarnya saya rencanakan untuk terjadi di usia 23 tahun. Tapi nyatanya saya bukan Tuhan, serapi apapun rencana yang saya susun dan persiapan yang saya lakukan, keadaan bisa berubah kapan saja. Saya gagal berangkat ke Taipei tahun lalu :')

Belum lagi segala drama dalam hubungan percintaan dan pertemanan, segala kesalahan yang dilakukan. 
Dan di usia 22 tahun ini saya ingin melangkah lebih jauh, menyentuh hal-hal yang cukup lama saya perhatikan dari jauh. Sebagai orang yang memulai semuanya dengan buru-buru, saya harus lebih berhati-hati sekarang. Usia 22 tahun saya berharap bisa semakin bermanfaat bagi komunitas saya dan memiliki kontribusi nyata di tengah masyarakat.
22 tahun saya harus lebih berani, seperti seorang Liberani yang seharusnya (ini kata bapak), dan belajar lebih banyak serta memberi lebih ikhlas. Rasanya saya sangat tua, apalagi melihat foto-foto perayaan ulang tahun dari tahun ke tahun tanpa mamak dan bapak, rasanya saya sudah sangat jauh dari rumah. Tapi menjadi dewasa bukannya memang harus begitu ya? harus berdiri dengan kaki sendiri dan meninggalkan segala zona nyaman.
Well, happy birthday to me.
Selamat hari lahir juga untuk Mikhail Bakunin.

This entry was posted in

Wednesday, May 23, 2018

[Cerpen] Gadis Flannel Merah

Dia adalah gadis flannel merah yang kutemui di sebuah toko buku di suatu hari, ketika hujan sedang deras di luar sana dan aku memilih berlama-lama mencari buku Pengantar Hukum Indonesia sambil menunggunya reda. Jarak kami sangat dekat waktu itu, tidak lebih dari lima langkah. Dia sedang asik membaca sebuah buku tentang hukum pidana di Indonesia, aku yang sibuk mencari buku di sampingnya seolah tak ada.

Dia sangat samar, sampai akhirnya aku melihatnya di koridor kampus berbulan-bulan sejak pertemuan kami di toko buku. Dia mengenakan flannel merah seperti hari itu, menenteng sebuah buku tebal dan tersenyum simpul pada orang-orang yang menyapanya. Jarak kami sangat jauh, aku di ujung koridor dan tak mampu melanjutkan langkahku karena aku merasa menemukan sesuatu dan aku tak ingin melwatkan momen itu, kupandangi sosoknya lekat.

Pada suatu waktu dia adalah mawar, indah dan berduri. Siapa saja bisa memetiknya, tapi durinya akan melukai mereka yang tidak hati-hati.

Tak pernah kubayangkan aku akan jatuh cinta pada teman kampusku. Entah ke mana saja aku selama ini sampai tak pernah menyadari kehadirannya. Dia dan warna merah, dengan senyum manis dan buku yang selalu ditentengnya.

Berkali-kali aku mencuri pandang padanya, dia duduk tenang di pojok kelas, selalu sendirian, dia tak sibuk menunduk; memandang gawai atau mengobrol cekikikan bersama teman-teman hawanya, dia hanya serius memandangi halaman-halaman buku, dia selalu sendiri, dunianya tidak tersentuh oleh siapa pun.

Dia adalah gadis yang hidup dalam khayalanku selama ini. Kuhabiskan waktuku bertahun-tahun untuk menyendiri, tak kupikirkan barang sedikitpun perihal kaum hawa, sampai akhirnya aku melihatnya, gadis Flannel merah itu. Gadis yang hidup di imajinasiku lalu menjelma menjadi nyata, obrolan pertama kami adalah novel Metamorfosis karya Franz Kafka, aku mendapat pinjaman novel itu darinya. Berbincang dengannya tak cukup hanya di depan kelas di waktu istirahat, kami lalu bertukar kontak dan obrolan berlanjut di dunia virtual. Ratusan hari setelah itu barulah aku yakin bahwa dia yang aku cari.

Dia adalah teka-teki yang selalu membuatku penasaran, dia adalah salah satu alasanku untuk terus bergerak. Dia adalah duniaku, lalu menjadi sumber kegelisahanku. Aku lalu dengan sadar menjatuhkan hati kepadanya.

Bagiku kamu adalah sebuah sementara yang abadi. 

Kamu tidak pernah menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan perasaan. Rumit katamu, padahal lebih rumit menerka-nerka sesuatu yang tak pasti. Karena itulah, bagiku kamu adalah sebuah pertanyaan yang tidak akan terjawab; sebuah buku yang tidak akan selesai kubaca. Kata orang hakim terbaik adalah waktu, karena hanya waktu yang bisa menilai kesungguhan seseorang. Tapi jika selama ini waktu yang telah kuberikan padamu tak pernah cukup, mungkin kau bukan orang yang sanggup untuk dihakimi, tidak seorangpun mampu, bahkan oleh waktu.
Sementara waktu kamu adalah kekasihku, di lain waktu kamu sahabatku. Kita berjalan seperti ini, melewati tahun-tahun tanpa menyandang status yang jelas. Tak masalah, karena bagiku kamu adalah sebuah sementara (kekasih) yang abadi. 

Dia adalah ambigu. Sebuah pertanyaan yang tak akan terjawab olehku, dia adalah ketidakpastian yang selalu kusemogakan. 

Kamu duduk di sampingku, film Theory of Everything baru saja berakhir. Kamu masih berdecak kagum, memuji akting Eddie Redmayne yang terlihat sempurna memerankan tokoh Stephen Hawking, kamu berandai-andai jika di masa depan sesuatu yang buruk terjadi apakah kamu akan memiliki pasangan yang setia mendampingimu seperti yang dilakukan Jane Wilde ketika pasangannya menderita motor neuron disease. Kamu tak tahu, di dalam hatiku aku mengucapkan janji untuk setia di sampingmu, tidak hanya untuk hari ini tapi untuk beratus-ratus hari yang akan kita lalui. 
Bagiku dia adalah candu. 
Disandarkannya kepalanya di bahuku yang tidak tegap. Sesekali dia meringis dan menertawaiku. Katanya bahuku membuat kepalanya sakit. Aku balas mengejeknya, banyak bahu yang bisa kau jadikan sandaran tapi kenapa kau memilih bersandar di bahuku yang kurus ini? dia tentu saja tidak menjawabku, dikerucutkannya bibirnya yang mungil lalu ditutupnya telinganya. Lirik lagu Ordinary yang dilantunkan Copeland membisukan kami dalam hening, dalam diam yang dibalut riuhnya rintik hujan di luar sana. Sebuah kecupan lembut di keningnya, ini untuk cinta yang kadang tak berlogika. Lalu bibir kami bertautan, lembut dan basah; menghangatkan. Ini bukan kali pertamanya. 

...And when I returned, I found you just like I always do, waiting for me like you always are. Since you came along my days are ordinary. We laugh just like yesterday, and I kiss you like the day before, and I hold you just like ordinary... (Ordinary- Copeland) 

Untukmu yang entah harus kusebut apa, kutulis ini saat hujan sedang deras, saat kita tenggelam dalam rasa yang tak mampu lagi kita terjemahkan dengan kata-kata. Hujan dan flannel merah, dua hal yang selalu mengingatkanku padamu, dua hal yang tidak pernah biasa bagiku.


Pontianak, 2016.
This entry was posted in