Friday, October 12, 2018

Catatan Perjalanan Rimba Terakhir; Silit, Dusun Berdaulat di Pedalaman Sintang


Air Terjun Sentarum di Silit / Dok. Tim Rimba Terakhir Silit


Setelah melakukan pagelaran seni di Sendi, Mojokerto, mengunjungi hutan Dayak Tomunt di Lamandau, Kalimantan Tengah, menyambangi dataran tinggi Tokalekaju di Sulawesi Selatan, dan menyapa Sikerei yang menjaga hutan di Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai. Rimba Terakhir dari WALHI akhirnya tiba di Silit, sebuah dusun yang terletak di Desa Nanga Pari, Kecamatan Sepauk, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Saya menjadi bagian dari perjalanan ini, empat hari saya dan beberapa teman seniman mengeksplorasi keindahan alam dan budaya Silit. Menyepi sejenak dari rutinitas harian yang mulai membosankan jelang akhir tahun. 


Menggunakan dua mobil, rombongan kami bertolak dari Pontianak menuju Silit. Kami harus menempuh perjalanan panjang, menahan penat karena berjam-jam duduk di mobil dari Pontianak sampai Simpang Kayu Lapis, sebuah simpang yang berada di perbatasan Bumi Senentang dan Bumi Lawang Kuari. Dari simpang ini kami harus melanjutkan perjalanan menuju pusat desa Nanga Pari. Melewati jalan berkerikil dengan tanjakan dan turunan yang lumayan memacu adrenalin. Kadang harus melalui jalanan berlubang, namun karena hari sudah menjelang malam saat kami menuju pusat desa maka pemandangan tidak begitu jelas. Jalan yang rusak tidak begitu nampak.


Dari cahaya mobil yang terbatas saya bisa menyaksikan deretan kebun sawit di kiri kanan jalan yang kami lewati, tanah-tanah gersang, pemukiman warga yang belum begitu padat di tepi jalan. Malam sudah tinggi saat kami tiba di pusat desa Nanga Pari. Rumah kepala desa menjadi tujuan kami, di sanalah kami beristirahat karena perjalanan menuju Silit dilanjutkkan keesokan harinya.


Jalan menuju Silit masih berupa tanah kuning, jaraknya sekitar 3 km dari pusat desa sangat beresiko jika dilewati menggunakan mobil. Berkali-kali mobil saling tarik karena jalan yang tidak memungkinkan untuk dilalui. Kadang kami juga harus turun dan jalan kaki sampai tiba di jalan yang agak mendingan, atau mobil yang satu berhasil ditarik. Maklum, Oktober adalah musim hujan, jalan susah dilalui ketika basah. Semakin menuju daerah tujuan, jalan semakin tidak memungkinkan untuk dilalui menggunakan mobil. Akhirnya satu mobil ditinggal di depan pondok warga, sebagian dari rombongan memutuskan berjalan kaki. Lumayan melelahkan. 


Tapi semua rasa lelah jadi luruh saat kami tiba di rumah kadus yang jadi tempat tinggal kami selama berada di Silit. Tepat di depan rumah ini terbentang Sungai Silit yang jernih dan sejuk. Sungai yang langsung kami serbu begitu selesai mengobrol dengan kepala dusun yang menyambut kedatangan kami dengan ramah.  Silit merupakan wilayah yang didiami masyarakat Dayak Seberuang, bahasa yang mereka gunakan tidak jauh berbeda dengan bahasa Iban. Bahasa yang tidak begitu asing bagi saya, meski tidak lancar berbicara dengan bahasa ini, saya bisa mengerti artinya.


Silit, dusun kecil yang terletak di Desa Nanga Pari, Kecamatan Sepauk, Sintang / Dok. Tim Rimba Terakhir Silit

6 km dari kampung ini terdapat hutan yang dijaga turun temurun oleh masyarakat Silit. Dari hutan inilah mereka mendapatkan tumbuh-tumbuhan yang digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk untuk berburu dan meramu. Sejak dulu sudah ada kawasan tertentu yang hanya dapat diambil kayunya, yaitu di kawasan Tinting Ban dan Tinting Jenang.


Selain wilayah tersebut tidak diperbolehkan mengambil kayu. Kayu yang diambil juga tidak untuk diperjual-belikan, tapi lebih pada penggunaan pribadi seperti memenuhi kebutuhan untuk membuat rumah atau peti mati. Searah dengan kawasan rimba Silit, terdapat tiga air terjun yang sering dijadikan objek wisata oleh masyarakat sekitar, yaitu air terjun Supit, Kiara, dan Sentarum.


Jelang sore hari kami menyempatkan diri untuk berkunjung ke ladang salah satu warga. Kebetulan hari itu sedang dilaksanakan gotong royong untuk menugal. Saya bahkan berkesempatan untuk ikut memasukkan benih padi bersama warga. Berada di tengah masyarakat seperti ini selalu menyenangkan, kutipan dari Pram “Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri.” terasa nyata adanya. Tua dan muda bekerja sama dengan sukacita, gelak tawa mengiringi proses menugal hingga selesai.

Silit Mandiri, Silit Berdaulat

Masyarakat di Silit melakukan gotong royong menugal di ladang salah satu warga. / Dok. Tim Rimba Terakhir

Sebelum pulang, kami diajak singgah ke rumah warga. Di sana kami disuguhi makanan khas yang hampir ditemui di semua komunitas Dayak, pulut atau lemang. Tidak hanya itu kami juga sempat menikmati olahan daging yang dimasak menggunakan penyedap rasa alami. Ternyata di Silit masyarakat jarang menggunakan micin ketika memasak.

Mereka lebih memilih menggunakan penyedap alami dari daun tumbuhan sengkubak. Selain tanpa bahan kimia, daun sengkubak juga bisa didapatkan dengan cuma-cuma tanpa harus membeli. Sebuah kemewahan yang semakin jarang ditemui. Sore itu, di depan rumah warga kami melepas penat. Menyantap makanan kecil yang mereka suguhkan sambil menikmati suara serangga yang riang menyambut malam.

Ketika malam tiba listrik pun menyala. Saya kira perjalanan kali ini akan memberikan pengalaman menghabiskan malam di bawah temaram pelita. Ternyata saya salah, Silit yang terpencil nyatanya bisa mengupayakan penerangan di malam hari. Menarik karena penerangan ini menggunakan PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro) yang bersumber dari Sungai Silit. Berdasarkan obrolan dengan Kepala Dusun, Pak Inus. Masyarakat membangun PLTMH secara swadaya, tanpa campur tangan pemerintah. PLTMH tersebut menyinari 63 rumah yang ada di Dusun Silit.


Dengan sumber informasi dan dana yang terbatas, masyarakat jelas melalui banyak tantangan. Pembangunan PLTMH melalui proses panjang. Tahun 2010 perencanaan telah dibuat, semangat yang diusung adalah semangat gotong royong dan kemandirian. Tahun 2011 pengerjaan mulai dilaksanakan, teknisi asal Bandung membantu mayarakat Silit untuk menyelesaikan misi ini.


Berbagai kendala sempat dialami, tahun 2012 pengerjaan sempat terhenti, tapi tahun berikutnya lanjut lagi. Bendungan sudah selesai dibuat tapi turbin tetap tidak berfungsi. Tahun 2015 masyarakat Silit membangun kemitraan dengan CU (Credit Union) untuk membeli alat seharga 669 juta. Pak Inus menuturkan masing-masing kepala keluarga mengambil kredit sebesar 14 juta. Dari kredit itu terkumpul dana 553 juta rupiah, sisanya kembali digenapi dengan swadaya.


Masyarakat Silit menunjukkan bahwa mereka mampu mandiri dan berdaulat di atas tanah mereka sendiri. Malam itu, di Silit, di sebuah dusun kecil yang jauh dari ingar bingar kendaraan, tanpa jaringan internet dan jauh dari kesan kemajuan jaman. Saya justru melihat betapa pikiran orang-orang ini lebih maju, menembus keterbatasan yang membelenggu mereka.

Sayup-sayup lagu Power To The People dari John Lennon yang tempo hari saya dengarkan sepulang kerja menari-nari di kepala saya. “Say you want a revolution, we better get on right away. Well you get on your feet, and out on the street. Singing power to the people.. power to the people.”

Mendengar Ruding, Mendengar Pantun dari Silit

Anak-anak menyeberangi Sungai Silit menuju ke sekolah. / Dok. Tim Rimba Terakhir Silit

Seperti daerah dataran tinggi umumnya, udara pagi di Silit sangat dingin. Kami menyeruput kopi sambil menikmati suasana pagi. Beberapa anak terlihat menyeberang sungai menuju sekolah, yang lainnya melewati depan rumah dengan senyum malu-malu. Sekolah di sini hanya tersedia sampai tingkat SD. Kalau ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya berarti harus ke pusat desa. Jam belajar dimulai pukul 08.00 WIB, sebelum masuk kelas anak-anak boleh bermain di lingkungan sekolah. Termasuk di tepi sungai karena sekolah mereka tidak jauh dari sungai.


Hari itu kami melakukan eksplorasi seni dan budaya melalui alat musik tradisional di Silit. Kami berkesempatan menyaksikan permainan ruding yang dibawakan oleh Nek Mina. Ruding adalah alat musik tradisional di Silit. Terbuat dari bambu dan dimainkan dengan ditiup sambil menarik senar yang terbuat dari tali.


Dulu alat musik ini sering dimainkan ketika orang-orang sedang dalam perjalanan menuju ke ladang, atau dimainkan di malam hari sambil menunggu kantuk datang. Tapi seiring berlalunya waktu, suara ruding semakin jarang terdengar. Bahkan di Silit sudah sedikit orang yang bisa memainkan alat musik ini. Beruntung kami bertemu Nek Mina, dia tidak hanya mengajari kami memainkan ruding, tapi juga menghadiahi alat musik ini untuk beberapa teman saya.

Nek Mina memainkan ruding, alat musik tradisional dari Silit yang sudah jarang dimainkan. / Dok. Tim Rimba Terakhir Silit

Selain ruding, kami juga berkesempatan mengenal instrument musik daerah di Silit. Tidak jauh berbeda dengan komunitas Dayak pada umumnya, di Silit gong juga digunakan sebagai alat musik untuk mengiringi tari-tarian. Tapi irama yang dihasilkan ternyata tidak hanya bisa dihasilkan dari gong, dengan menggunakan bambu kita juga bisa menghasilkan suara yang sama. Beberapa perempuan datang dengan bambu yang baru diambil dari hutan.

Tiga orang perempuan menabung bambu yang menghasilkan suara layaknya gong. / Dok. Tim Rimba Terakhir Silit
Lalu dengan cekatan mereka memotong bambu-bambu dengan berbagai ukuran tersebut, membuat lubang pada sisinya. Setelah dirasa pas, tangan mereka dengan cepat memukul gong tersebut secara bergantian, teratur dan tenang hingga terbentuklah sebuah irama. Siang itu sangat syahdu, di bawah pohon tengkawang yang mulai berbunga di samping rumah kadus, melalui bambu yang ditabuh oleh kelompok musik perempuan, kami menikmati irama musik etnik yang unik dari Silit.


Tidak cukup sampai di situ, saat malam tiba kami kembali dihibur dengan sastra lisan yang berkembang di Silit. Yaitu bemain, ini adalah sastra lisan yang berbentuk pantun. Permainannya sederhana saja, seseorang akan bertanya sambil berpantun, pertanyaannya bebas, sesuai dengan apa yang ingin diketahui penanya. pertanyaan ini kemudian harus dijawab kembali menggunakan pantun. Tapi jawaban harus berkaitan dengan bait pertama dan kedua dari pantun pertanyaan. Pantun dilantunkan dengan nada khas dan bahasa daerah.


Suasana sangat ramai, apalagi di penghujung malam menteri adat, Paulus Inka melantunkan pantun 30. Konon pantun ini merupakan senjata pamungkas untuk memikat pujaan hati. Pantun tersebut dilantunkan dengan lantang di antara derai tawa para pendengar. Ditemani bercangkir-cangkir kopi dan minuman khas Silit, suasana terasa hangat. Sesekali teman saya memetik senar gitar untuk membuat suasana semakin hidup. Gelak tawa semakin keras mengiringi malam yang sepi di dusun Silit. Memang, bahagia sesederhana itu. 

Mengunjungi Air Terjun Supit, Kiara, dan Sentarum

Perjalanan menuju air terjun Supit, Kiara, dan Sentarum / Dok. pribadi.
 Hari ketiga merupakan puncak dari perjalanan kami di Silit, hari itu kami diajak mengunjungi objek wisata air terjun yang berjarak sekitar 5 km dari Silit. Ada tiga air terjun di sini, yaitu air terjun Supit, Kiara, dan Sentarum. Ketiganya merupakan objek wisata yang sudah tidak asing bagi orang-orang di Sintang. Dengan letak yang tidak berjauhan, ketiga air terjun ini bisa dijangkau dengan perjalanan satu arah. Perjalanan bisa ditempuh menggunakan motor. Untuk saya yang jarang melakukan perjalanan seperti ini, kondisi jalan menuju air terjun cukup membuat khawatir. Berkali-kali saya memejamkan mata ketika kami melewati jalan terjal yang berada tepat di tepi tebing. 


Setelah mendekati objek wisata, motor harus diparkir di tempat yang telah tersedia. Kami harus berjalan kaki sebentar untuk sampai di air terjun Supit. Melewati beberapa tanjakan yang lumayan membuat napas saya ngos-ngosan. Silit adalah wilayah dataran tinggi tropis, kondisi jalannya memang banyak tanjakan dan turunan. Di kiri-kanan jalan terdapat banyak tanaman hias liar khas hutan tropis. Saya sering berhenti untuk mengamati tanaman liar yang memiliki daun atau bunga menarik. 

Air Terjun Supit / Dok. Tim Rimba Terakhir Silit. 

Sampai di air terjun Supit rasa lelah langsung hilang melihat panorama yang ditawarkan. Air terjun Supit memiliki tebing yang curam yang membuat sungai di bawahnya terlihat seperti lorong kecil. Konon jika seseorang terseret arus sungai itu maka akan tembus ke sebuah sungai di daerah Ketapang. Untuk orang yang senang dengan tantangan, menjajaki air terjun Supit dan menapaki bebatuan di sekitarnya pasti sangat menyenangkan. Karena takut ketinggian saya hanya menikmati pemandangan dari tepi tebing. Itu juga dengan kaki yang kadang gemetar karena takut terpeleset.


Setelah puas menikmati air terjun Supit kami melanjutkan perjalanan ke air terjun Kiara. Dalam bahasa Silit Kiara berarti pohon beringin. Nama ini digunakan untuk penamaan air terjun karena di sekitar air terjun terdapat pohon Kiara. Di banding Supit, air terjun Kiara jauh lebih bersahabat bagi saya. Tanpa rasa takut saya langsung mencuci muka di airnya yang jernih dan sejuk, teman-teman melakukan hal yang sama.

Air Terjun Kiara / Dok. Tim Rimba Terakhir Silit.

Kiara memiliki bebatuan besar yang terpencar-pencar, tapi tidak begitu luas sehingga spot untuk mengambil foto terbatas. Kami beristirahat beberapa saat di sana, menikmati udara segar yang bebas polusi. Suara air terjun yang jatuh membuat suara harus dikeraskan ketika bicara. Saya menghirup napas dalam-dalam, aroma hutan di air terjun Kiara pasti akan selalu saya rindukan.


Perjalanan kami pun dilanjutkan karena sebelum tengah hari kami harus sudah sampai di air terjun Sentarum. Dengan langkah kaki yang tergesa-gesa karena semangat, saya berjalan mengikuti rombongan. Jarak Sentarum tidak begitu jauh dari Kiara. Begitu sampai di air terjun ini kami langsung berhamburan, masing-masing mencari tempat yang nyaman untuk duduk. Batu di Sentarum seperti sengaja dihamparkan, seakan-akan memang diperuntukkan bagi orang-orang untuk bersantai sambil menikmati pemandangan air terjun.

Bersantai di atas tebing Air Terjun Sentarum / Dok. Tim Rimba Terakhir Silit

Sungai Sentarum juga luas, tapi arusnya deras. Harus waspada kalau tidak bisa berenang. Airnya sangat segar, berendam di sini menjadi sebuah kemewahan tersendiri. Sentarum dengan batu-batunya yang kokoh menyimpan banyak pertanyaan di kepala saya. Bagaimana panorama ini terbentuk, batu-batu kokoh yang menyambut kedatangan kami. Mandi saja tidak cukup, kami juga mencoba untuk naik ke puncak tebing. Ternyata pemandangan di sini jauh lebih indah. Melihat langsung air-air ini meloncat ke bawah. Tapi tetap waspada karena ada bagian batuan yang ditutupi lumut sehingga jadi licin.

Tim Rimba Terakhir Silit berfoto di depan Air Terjun Sentarum / Dok. Tim Rimba Terakhir

Menyelamatkan Sungai dan Hutan Silit, Menyelamatkan Kehidupan di Silit


Silit dan hutannya yang masih terjaga / Dok. Tim Rimba Terakhir Silit

Saya dan beberapa teman memilih istirahat berlama-lama di atas tebing. Berbaring di atas batu, di bawah teduhnya pepohonan dari rimba silit. Berdasarkan obrolan dengan kepala dusun dan menteri adat, pak Inus dan Paulus Inka, masyarakat Silit memang sepakat untuk menjaga hutan yang mereka miliki. Di masa orde baru ketika Soeharto berkuasa, hutan di Silit pernah dijajal perusahaan kayu lapis. Tapi sejak illegal logging diberantas, perusahaan itu pun lenyap.


Puluhan tahun setelah itu incaran dari perusahaan lain datang. Menurut penuturan pak Kadus belakangan banyak perusahaan kelapa sawit yang mencoba masuk ke wilayah Silit. Tidak hanya itu, perusahaan tambang juga jadi ancaman bagi Sungai Silit. Sungai ini memiliki kandungan emas yang tinggi, sangat seksi bagi korporasi. Tapi masyarakat tidak mau menyerahkan hutan dan sungai yang mereka miliki karena menurut kepala dusun di sanalah semua kebutuhan terpenuhi.


Ketika mereka membutuhkan air dan ikan, Sungai Silit menyediakan air jernih dan ikan segar. Ikan semah merupakan jenis ikan yang banyak ditemui di perairan Silit. Air Sungai Silit tidak hanya jadi tempat untuk minum dan mandi, tapi mampu memberikan pencahayaan bagi puluhan rumah yang ada di dusun kecil ini. Keanekaragaman hayati di Sungai Silit juga tetap terjaga karena di sini ada larangan untuk mengambil ikan dengan tuba.

Hutan jadi tempat di mana semua kebutuhan pangan maupun papan tersedia, dan semuanya bisa didapatkan secara gratis. Tanpa perlu membayar, tanpa harus dikuasai oleh satu golongan. Hutan juga jadi rumah bagi satwa yang memiliki hubungan dekat dengan masyarakat Silit. Terutama suara burung, dalam hal-hal tertentu masyarakat Silit masih mempertimbangkan tanda dari alam ketika hendak melakukan sesuatu. Suara burung dipercaya sebagai peringatan untuk nasib baik atau sebaliknya.


“Sudah sering kampung kami didatangi orang perusahaan, tapi kami selalu menolak. Selama saya jadi kepala dusun saya akan melawan habis-habisan untuk menolak semua jenis perusahaan yang masuk ke sini. Baik itu perusahaan sawit maupun tambang,” ujar kepala dusun Silit waktu kami mengobrol tentang hal ini. Sebuah pernyataan keras yang cukup jelas. Pernyataan yang tidak jauh berbeda dengan pernyataan menteri adat, Paulus Inka.


“Kalau hutan habis, nasib kami bagaimana. Sementara kami sampai saat ini masih bergantung pada hutan. Keperluan sehari-hari kami masih didapatkan di hutan. Ambil rotan, daging, dari sana. Kalau perusahaan datang, habis sudah,” tuturnya.


Mereka berharap semangat untuk mempertahankan hutan dan kekayaan alam yang ada di Silit bisa didukung oleh semua pihak. Tidak hanya masyarakat Silit tapi juga para pemerintah dan para penggiat konservasi. Menyelamatkan hutan Silit sama dengan menyelamatkan kehidupan masyarakat di Silit. 

Gawai Ngemaik Anak ke Sungai, Perkenalan Pertama Bayi dengan Alam


Gawai ngemaik anak ke sungai, perkenalan pertama bayi dengan alam. / Dok. Tim Rimba Terakhir Silit

Ketika matahari sudah semakin tinggi kami memutuskan untuk kembali ke perkampungan. Saya ingin secepatnya tiba di rumah karena kedinginan. Sepanjang perjalanan pulang saya tidak khawatir panas matahari akan membakar kulit karena suasana tetap sejuk, pohon-pohon tropis membentuk kanopi, menghalau sengatan sinar matahari.


Sesampainya di rumah kami beristirahat sebentar, kepala saya pusing karena telinga saya kemasukan air. Saya memutuskan untuk tidur siang sementara teman-teman yang lain mengikuti gawai ngemaik anak ke sungai, sebuah ritual pemberian nama bayi yang dilaksanakan oleh kepala dusun untuk anak bungsunya yang baru lahir dua bulan lalu.


Masyarakat di Silit yakin alam dan manusia memiliki hubungan yang sangat erat. Karena itu alam harus mengenali bayi-bayi yang baru lahir. Seperti yang dijelaskan menteri adat, Paulus Inka, gawai ngemaik anak ke sungai bertujuan untuk mengenalkan sang anak dengan alam sekitarnya. Sungai merupakan lingkungan yang sering didatangi sang anak kelak karena di sanalah dia mandi. Karena itu gana sungai (penunggu sungai) harus mengenalinya. 


Ritual ini berlaku untuk semua anak yang lahir di Silit. Sebelum anak berusia lebih dari setahun mereka harus sudah dikenalkan pada alam. Ritual ini dimulai dengan mantra yang dibaca oleh pemimpin ritual. Anak kemudian dibawa turun ke sungai beserta sesajian sebagai persembahan pada puyang gana dan gana sungai, serta buah kelapa yang sudah bertunas yang jadi simbol pelampung bagi sang anak.


Layaknya upacara pembaptisan, kepala sang anak akan diusap dengan air dari sungai. Setelah mantra diucapkan anak bisa dibawa pulang ke rumah, sementara kelapa bertunas yang tadinya digunakan sebagai pelampung harus ditanam oleh orang yang telah ditunjuk. Kelapa ini tidak boleh ditebang kecuali oleh anak itu sendiri. 


Kelapa ibaratkan pelampung yang membantu anak mengapung ketika sang anak berada di sungai. Kelapa juga jadi simbol pengharapan agar kehidupan sang anak kelak lurus ibaratkan pohon kelapa, tidak menghadapi banyak persimpangan. Harapan baik ini tidak hanya diberikan pada sang anak, tapi juga pada orang yang menanam kelapa tadi. Begitulah kedekatan masyarakat Silit dengan alam. Mereka sudah menjadi satu kesatuan kosmos.


Ritual pemberian nama itu menjadi acara sakral terakhir yang sempat kami saksikan di Silit. Meski tengkawang sudah mulai berbunga, ritual ngalu antu buah (acara adat untuk menyambut musim buah raya setiap tahunnya) belum juga dilaksanakan. Keesokan harinya rasa haru memenuhi dada kami saat kami pamit pulang setelah menghabiskan tiga hari di dusun ini. Meski berat rasanya untuk berpisah, tapi kami akhirnya saling melepas pelukan. Sebelum matahari meninggi kami sudah beranjak meninggalkan Dusun Silit. 


Bagi saya pribadi perjalanan ini ibaratkan perjalanan spiritual. Perjumpaan saya dengan masyarakat Silit yang sederhana dan mandiri menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Singkat tapi membekas. Ketika negara cenderung mengukur kemajuan peradaban dengan bangunan yang bertingkat, orang-orang ini justru sangat maju pikirannya melampaui orang-orang yang memiliki deretan gelar akademik.


Mereka tidak memiliki gedung pencakar langit, rumah yang mereka tinggali juga cukup sederhana, pendidikan formal juga tidak tinggi. Tapi mereka sangat mandiri. Saat negara tidak bisa memberi mereka penerangan, mereka membuat PLTMH sendiri. Saat korporasi datang melirik hutan dan sungai di dusun ini, mereka dengan keras menolak. Di Silit yang bagi sebagian orang merupakan perkampungan tertinggal, saya justru melihat masyarakatnya memiliki pikiran yang lebih maju.


Ketika orang-orang berpendidikan yang berpihak pada korporasi datang dan berusaha mengambil sumberdaya komunal yang mereka miliki dan sudah lestarikan turun temurun, orang-orang Silit yang bahkan tidak memiliki kesempatan untuk mengecap pendidikan tinggi dengan lantang menyuarakan bahwa mereka menolak berbagai upaya penguasaan hutan maupun sungai oleh satu golongan. Orang-orang Silit, mereka adalah orang-orang yang berdaulat, rakyat yang berdiri kokoh dengan semangat kolektif dan kemandiriannya. 



Tuesday, September 18, 2018

Sabung Patana; Proses Pencarian Kebenaran dengan Cara Tradisional dalam Komunitas Adat Tamambaloh


Sabungpatana, hakim terakhir yang dipercaya suku Tamambaloh ketika menyelesaikan sengketa dengan cara tradisional/ National Geographic Indonesia


Lelah menyaksikan perang tagar jelang pemilihan presiden tahun depan, mari kita berkunjung ke Kapuas Hulu. Melihat kearifan lokal masyarakat adat Tamambaloh yang disebut sabung patana. Sebuah cara tradisional untuk mengetahui kebenaran melalui adu ayam.

Mungkin terdengar aneh karena biasanya adu ayam hanya jadi hiburan atau agenda berjudi, oleh para aktivis pencinta hewan jadi bahan kritikan. Tapi masyarakat Tamambaloh percaya sabungpatana bisa jadi penunjuk kebenaran ketika manusia sudah tidak bisa membuktikan kebenaran tersebut. 

Seperti yang dijelaskan oleh Tamanggung Tamambaloh, Pius Onyang ST bahwa sabung patana merupakan proses penyelesaian konflik dengan cara tradisional karena konflik tersebut tidak bisa diselesaikan secara hukum negara akibat tidak adanya bukti. Misalnya kasus saling tuduh mencuri tanpa ada saksi atau bukti, atau kasus memperebutkan tanah warisan yang tidak ada surat wasiatnya.

Ketika manusia tidak mampu membuktikan kebenaran, orang Tamambaloh percaya roh-roh baik akan membantu. Inilah yang dimaksud kosmologi sebagai etika semesta dalam komunitas adat Tamambaloh, kosmologi yang mengatur cara-cara manusia berinteraksi dengan lingkungan sosial maupun dengan lingkungan alam. Sabung patana merupakan hasil kerja nyata roh-roh leluhur dan sampulo padari dalam menunjukkan kebenaran melalui menangnya ayam jago yang disabung. 

Sampulo padari sendiri merupakan pencipta dan penguasa semesta dalam kepercayaan tradisional orang-orang Tamambaloh sebelum misionaris dari Belanda masuk ke komunitas ini pada abad ke-19. Komunitas adat Tamambaloh memelihara tradisi-tradisi yang berkaitan erat dengan konsep yang memandang bahwa alam dihuni oleh roh-roh, sehingga melahirkan aturan, nilai-nilai, dan moralitas yang baik. 

Cara ini sudah dipercaya sejak turun temurun, sudah terbukti dan tidak terbantahkan. Karena itulah masih diakui dan dilaksanakan hingga saat ini. Tahun lalu saya berkesempatan menyaksikan langsung proses pencarian kebenaran dengan cara tradisional ini.

Sabung patana diadakan di desa Ukit-Ukit, kecamatan Batang Lupar, Kapuas Hulu karena kasus pencurian emas dan uang salah seorang warga, muncul banyak spekulasi siapa yang mencuri hingga ada dua orang yang dicurigai, tapi keduanya ngotot tidak mau mengaku hingga sabung patana dipilih sebagai proses pembuktian.

Setelah lebih dari 40 tahun tidak pernah diadakan sabung patana, tahun 2017 desa Ukit-Ukit kembali melaksanakannya. Saya masih ingat bagaimana suasana yang sangat ramai waktu itu. Saya yang baru saja menyelesaikan pendidikan hukum sangat antusias menyaksikannya. Bahkan saya nekat masuk ke arena adu ayam. Tidak banyak perempuan yang diperbolehkan masuk arena, kecuali keluarga pihak bersengketa. Saya sempat diminta keluar tapi kakek meminta saya tetap masuk (ternyata ada gunanya juga jadi cucu tamanggung, wkwk peace kakek). 

Arena sabungpatana kasus pencurian di desa Ukit-Ukit tahun 2017. Arena dijaga oleh para pengurus adat dan pihak kepolisian yang membantu agar proses sabungpatana berjalan aman/ Dokumen Pribadi.

Dari jarak yang sangat dekat saya menyaksikan proses sabung patana. Meski arena dipadati banyak kepala, tapi ketika pemanggil roh mulai membaca mantranya semua orang hening. Hanya ada suara pemanggil roh membacakan mantra dengan bahasa Tamambaloh kuno dan suara kokok sepasang ayam yang sebentar lagi akan diadu. 

Masing-masing pihak yang akan berlawanan membawa perlengkapan adu ayam. Jika adu ayam biasa hanya perlu membawa ayam beserta tajinya, beda halnya dengan sabung patana. Layaknya ritual adat pada umumnya, ada proses yang dijalani, ada syarat yang harus dilengkapi.

Suasana di luar arena, pihak keliarga tertuduh sedang memanggil roh keluarga agar turut membantu/ Dokumen Pribadi.

Pihak yang berlawanan harus menyediakan dolang berisi sesajian untuk pangalongang (pemanggil roh-roh leluhur). Dolang berisi uang taruhan, ikat tangan (panjarati), pulut delapan potong, satu buah kalame, satu kepal nasi dan harus dibawa oleh orang yang sudah ditunjuk sebelumnya, bisa keluarga atau orang kepercayaan masing-masing pihak.

Sabung patana paling cepat diadakan sekitar pukul 9 atau 10.00 siang, sebelum matahari terbenam harus sudah dilaksanakan. Aturannya cukup sederhana, ayam siapa yang lari dari arena dan melewati garis yang dibuat maka dinyatakan kalah. Meski ayam adu mati jika dia tidak keluar dari arena sementara ayam satunya masih bernyawa tapi dia lari meninggalkan arena maka ayam yang keluar tetap dinyatakan kalah. 

Suasana dalam arena. Pihak bersengketa menunggu di dalam arena, didampingi keluarga./ Dokumen Pribadi.

Tidak ada aturan harus menggunakan ayam adu yang seperti apa, karena orang tamambaloh percaya begitu selesai memanggil roh leluhur maka yang beradu bukan lagi ayam, tapi roh yang telah dipanggil. Orang yang bertugas memanggil roh leluhur juga bukan sembarangan orang, mereka haruslah berasal dari keturunan pemanggil roh yang sudah ditunjuk oleh para pemangku adat untuk menjalankan ritual ini. Begitulah syarat-syarat untuk melaksanakan sabungpatana.

Begitu semua pihak memasuki arena, pemanggil roh akan membacakan mantra, semua roh yang dipercaya orang Tamambaloh sebagai penguasa semesta dipanggil. Dimintai campur tangannya untuk menunjukkan kebenaran. Suasana agak berbeda. Meski di kiri kanan saya dikelilingi ponsel pintar dari masyarakat yang penasaran ingin mengabadikan momen langka ini, suasana tradisional tetap terasa. Ada dimensi lain yang entah mengapa membuat saya tidak nyaman. Saya terlalu gengsi untuk mengakui bahwa saya merinding waktu itu, padahal di sana ramai, cuaca cerah, arena sabung persis di samping rumah korban pencurian. Tempat ini telah disepakati bersama sebelumnya. 

Saat itu adu ayam tidak membutuhkan waktu lama, tidak sampai tujuh menit sudah ada ayam yang meninggalkan arena. Ayam tersebut merupakan ayam dari pihak yang dituduh sebagai pelaku. Saya sempat meragukan proses ini, tapi tidak lama setelah diketahui ayam siapa yang menang, pihak tertuduh mengakui bahwa dia memang mencuri perhiasan dan uang tersebut. Suasana jadi gaduh, tapi tidak ada keributan karena para pemangku adat dengan sigap memberi pengumuman bahwa penentuan hukuman untuk pelaku akan dilakukan sesuai dengan hukum adat Tamambaloh dan dilaksanakan di balai adat.


Untuk orang-orang yang skeptis hal seperti ini pasti tidak memuaskan rasa ingin tahu kalian. Terlepas benar atau tidaknya roh leluhur masih terhubung dengan dunia fana, saya menghormati kearifan lokal masyarakat Tamambaloh. Menurut pak Pius Onyang ST, dulu selain sabungpatana ada juga alternatif lain untuk membuktikan kebenaran. Yaitu dengan cara selam air atau mencelupkan tangan ke air panas.  Tapi kedua cara ini terlalu beresiko karena pernah terjadi insiden yang memakan nyawa para pihak bersengketa.

Ketika orang-orang memelihara hewan untuk hiburan, sumber uang, atau untuk konsumsi, ada orang-orang yang akhirnya menemukan kebenaran melalui ayam piaraannya. Ketika manusia tidak bisa membuktikan kebenaran, harapan digantungkan di kaki ayam. Aneh, tapi begitulah kosmos bekerja. Sebuah pengalaman berkesan yang sangat sayang jika tidak saya bagikan di sini. Karena sebagai seorang Tamambaloh dan sarjana hukum, ada banyak pertanyaan yang bersarang di kepala saya ketika menyaksikan sabung patana. 

Saturday, August 25, 2018

If You Can Dream It, You Can Do It



Tulisan ini untuk teman-teman yang sedang memperjuangkan impiannya, meski orang lain menganggap impian itu remeh, sepele, tidak penting, bahkan dianggap tidak layak untuk diperjuangkan. 

If you can dream it, you can do it.

Kalimat dari Walt Disney ini yang menyelamatkanku dari keputus-asaan. Hahaha. Serius, dulu aku penuhi sampul buku catatan semasa SMA-ku dengan kutipan ini. Karena aku yakin, kalau aku bisa memimpikan sesuatu aku pasti bisa meraihnya. 

Mari kita mulai dengan cita-cita di masa kecil.

Sejak kecil aku ingin jadi wartawan. Dari sekian banyak profesi yang aku kenali saat itu, wartawan adalah yang paling aku inginkan. Walaupun sebenarnya waktu SD aku sempat berpikiran untuk jadi pelukis. Oke, maksa banget. Aku bahkan tidak bisa menggambar sampai sekarang. 

FYI, aku menghabiskan masa kecil di sebuah tempat terpencil. Di sebuah kabupaten yang merupakan daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar). Tempat di mana impian teman-teman seusiaku sangat konvensional. Ingin jadi dokter, pramugari, pilot, guru, bekerja di bank, jadi perawat, bidan. Profesi yang tidak membuatku tertarik sama sekali. 

Aku tumbuh dengan ingatan masa kecil yang menyenangkan. Dengan impian suatu hari aku bisa mengobrol langsung dengan presiden, menanyakan semua yang ingin aku tanyakan padanya. Dulu tidak terpikirkan bahwa di masa depan, sebuah twit di Twitter saja sudah bisa membuat kita berinteraksi dengan presiden hahaha.

Begitulah hari-hari berlalu. Waktu sekolah aku mengurusi Mading. Satu-satunya penyesalan tumbuh di daerah 3T adalah ketika menyadari betapa sedikitnya informasi yang aku terima di banding kawan-kawan di daerah maju. Kalau teman-teman mungkin di masa SMA sudah ikut lomba karya tulis ilmiah atau bahkan magang di media-media lokal. Aku boro-boro. Makanya ketika aku meninggalkan tempatku dan bertemu peradaban, aku harus belajar banyak hal. Mengejar ketertinggalanku. heheu.

Setelah aku menyelesaikan kuliah hukum aku berencana melanjutkan pendidikan. Aku bahkan sampai menghabiskan beberapa bulan untuk belajar bahasa Inggris di Kampung Inggris, Kediri. Tapi pertengahan tahun aku berubah pikiran. Sekembalinya dari Kampung Inggris aku mengirim lamaran ke sebuah media lokal di tempatku. Aku diterima setelah melewati beberapa tahapan tes. Itu adalah tahapan tes yang membuatku takut.

Benaran, aku takut dengan tes psikologis karena aku seorang diskalkulia. Soal-soal hitungan membuatku merasa benar-benar tidak berguna di hadapan kertas. Jadi waktu menunggu hasil psikotes, aku sangat khawatir. Aku sangat tidak percaya diri kalau bicara tentang ini. Tapi untunglah aku lulus dan akhirnya aku menjadi wartawan.

Media tempatku bekerja merupakan anak perusahaan sebuah media yang memproduksi beberapa majalah favoritku, seperti Bobo dan KaWanku. Bapak adalah orang yang paling senang, karena ketika teman-temannya sibuk melobi kenalan agar anaknya diterima bekerja, dia justru menunggu dan melihat anaknya menentukan masa depannya. Waktu aku selesai sidang skripsi dan pengujiku bertanya aku mau menjadi apa di masa depan, dengan yakin aku jawab bahwa aku ingin jadi wartawan. Meski aku tau, banyak yang meragukannya hahaha karena dulu sebelum ke Kampung Inggris aku sangat pemalu, bahkan pemilih ketika bicara :’)

Hari pertama ke kantor aku benar-benar kacau. Aku bangun kesiangan, aku tidak keramas, aku bahkan tidak memakai lipstick. Aku datang ke kantor pertamaku dengan tidak percaya diri :’)

Masih jelas terbayang bagaimana mulasnya perutku karena grogi. Tidak ada yang aku kenal di sana, karena jujur saja selama kuliah aku tidak  gabung di organisasi manapun, berbeda dengan beberapa teman yang gabung di Lembaga Pers Mahasiswa. Aku justru memulai semua kebiasaan menulisku di blog. Aku menulis otodidak di blog ini. Waktu wawancara tahap pertama, blog ini juga jadi salah satu portofolioku. 

Tapi seperti kata Walt Disney, if you can dream it you can do it. Aku akhirnya bekerja dengan profesi masa kecilku. Jadi wartawan untuk sebuah media lokal. Aku merasakan bagaimana menjadi seorang pewarta berita, bertemu banyak orang baru, mengobrol, melempar pertanyaan meski lidahku kadang kelu dan seolah ada kupu-kupu menari di perutku. Untuk orang sepemalu aku, ini tidak pernah mudah.

Walaupun belum sempat wawancara presiden hahaha karena aku memilih resign setelah menyadari bahwa jadi wartawan tidak cukup hanya bisa menulis. Jadi wartawan harus bisa berkomunikasi dengan sabar. Ya sabar, sebuah sifat yang hanya ada sedikit di diriku. Setelah tidak jadi wartawan aku masih tetap menulis. Sekarang aku jadi content writer di sebuah perusahaan yang membuatku semakin yakin, bahwa aku akan survive dengan menulis. 

Meski jenis pekerjaan ini masih sangat asing di lingkunganku, meski beberapa keluarga masih membanding-bandingkan penghasilanku dengan sepupu-sepupu yang lain karena mereka tidak yakin seseorang bisa hidup dari menulis. 

Tapi syukur, aku punya orangtua yang mendukung semua keputusanku. Waktu aku dinyatakan diterima sebagai wartawan, bapak mengirim pesan yang isinya panjang banget. Mengucapkan selamat karena anak bungsunya yang cengeng ini akhirnya mendapat apa yang diinginkannya. Padahal aku tahu dia kecewa karena aku tidak jadi melanjutkan pendidikan. Waktu aku resign juga bapak dan mama mendukungku.

“Kalau capek, nda apa-apa istirahat dulu,” dari jaman kuliah sampai kerja, kalimat ini yang selalu mama ucapkan tiap kali aku mengeluh, bahkan menyerah.

Aku menulis ini karena aku ingin berbagi semangat untuk siapa saja yang impiannya dianggap tidak penting dan dianggap tidak layak untuk diperjuangkan. Tentu saja pengalamanku ini belum apa-apa, atau tidak ada apa-apanya dibanding pengalaman kalian. Tapi seperti yang aku katakan di awal, mari berbagi semangat.

Waktu aku jadi wartawan, beberapa anggota keluarga menganggap ini pilihan yang keliru. Bahkan ada yang bilang, ngapain kamu capek-capek kuliah hukum, belajar bahasa Inggris, kalau cuma jadi wartawan. Masih sedikit orang-orang yang menganggap wartawan sebagai profesi. Padahal jadi wartawan sangat menyenangkan, kamu bisa bertemu siapa saja. Mulai dari orang-orang menginspirasi sampai pembunuh, mulai dari pemulung sampai pejabat.

Kamu bisa memasuki gedung-gedung yang selama ini tidak tersentuh olehmu, berhadapan langsung dengan pembuat kebijakan, dan mendapatkan jawaban atas semua rasa ingin tahumu. Kamu tidak perlu ke kantor setiap hari, kamu bebas mengenakan pakaian apa saja dan kamu tidak pernah membenci hari Senin karena pekerjaan ini sangat menyenangkan.

Dan yang paling nikmat adalah ketika berita yang kamu tulis ternyata membantu nyawa seseorang. Aku bakal share cerita tentang seorang bapak yang mendatangi kantor karena berita tentang ASI eksklusif yang aku tulis. Sebuah kejadian yang membuatku lebih menghargai kehidupan :’)

Baiklah, teman-temanku. Selamat memperjuangkan kehidupan yang kalian inginkan ya. Meski dianggap remeh, sepele, atau tidak layak, kalau kalian bisa memimpikannya maka kalian bisa melakukannya. Selamat memelihara impian-impian masa kecil, selamat memperjuangkan pilihan hidup. Seperti kata seorang teman, jadilah apa saja yang kalian inginkan, yang penting sehat dan tidak jahat.

Jadi, apa impian masa kecil yang sedang kamu perjuangkan atau jalani saat ini? bagi ceritamu di kolom komentar ya. Mari saling menyemangati :)


Foto: Bonnie Kitle

Friday, August 17, 2018

[Review Film] Menyelami Romantisme Sepasang Anarkis dalam Film Anarchist from Colony


Film yang membuat bulu kuduk merinding, bukan karena sadisme yang ditampilkan. Tapi keberanian sepasang anarkis melawan penindasan dan pemerintahan yang otoriter ketika Jepang menjajah Korea.

Seperti janji saya di postingan sebelumnya untuk mengulas film sejarah dari Korea Selatan, kali ini saya akan menulis film Anarchist from Colony. Sebuah film yang harus ditonton oleh para anarkis, karena film ini merupakan film tentang aktivis gerakan anarkis asal Korea Selatan, Park Yeol dan kekasihnya, anarkis pemberontak asal Jepang, Kaneko Fumiko yang menentang penindasan Jepang terhadap Korea.

Aktor yang memerankan tokoh Park Yeol adalah Lee Je- Hoon. Dia ini memang aktor besar negeri ginseng, aktingnya tidak diragukan lagi. Film yang dirilis tahun 2017 ini menjadi film yang banyak dibicarakan oleh teman-teman penikmat film biografi. Sedangkan Kaneko Fumiko diperankan oleh Choi- Hee- Seo. 

Anarchist from Colony menceritakan perjalanan sepasang anarkis untuk melakukan revolusi. Meski porsinya lebih banyak menceritakan Park Yeol karena film ini memang didedikasikan untuk mengenangnya, tapi Kaneko Fumiko tidak bisa dikesampingkan. Makanya saya lebih senang menyebut Anarchist from Colony sebagai drama biografi.

Park Yeol adalah pemuda penuh semangat yang membenci penindasan dan keotoriteran. Dia lahir di Mungyeong, Provinsi Gyongsang, Korea pada 3 Februari 1902. Dia melanjutkan sekolah  menengah di Seoul. Tapi dikeluarkan karena terlibat sebuah gerakan. Dia lalu pergi ke Tokyo dan melanjutkan sekolah di sana. Di Tokyolah dia bertemu teman-teman yang memiliki tujuan sama dengannya. Mereka lalu membentuk kelompok anarkis yang dinamai Futeisha, Fumiko Kaneko merupakan perempuan Jepang yang tergabung di dalamnya. 

Usia Park Yeol masih 22 tahun saat dia ditangkap dan dipaksa untuk mengakui sebuah kejahatan yang tidak dilakukannya. Dia dan teman-temannya ditangkap, tapi akhirnya teman-temannya yang lain bebas. Hingga dia yang tersisa, namun Fumiko tidak mau meninggalkannya dan memaksa untuk ikut dipenjara. Mereka berdua menyusun strategi perlawanan dari balik jeruji, saling berkirim surat dan tetap mempertahankan kewarasan dengan menulis. Meski itu semua dilakukan secara diam-diam.




Film ini berhasil membuat saya envy, saya terkesima dengan cinta Fumiko yang besar pada kekasihnya. Mereka benar-benar memiliki pikiran yang merdeka, rasa kemanusiaan yang tinggi dan perjuangan tanpa takut. 

Bahkan saat sidang dilaksanakan, mereka berdua sama sekali tidak gentar. Park Yeol merupakan pemuda yang cerdas, mungkin teman-teman harus belajar dari sosoknya hehe. Pokoknya tipikal cowok pintar yang membuat meleleh. Dia juga senang menulis, puisinya yang berjudul Anjing Liar adalah puisi yang banyak dibaca pemuda-pemuda Korea. Bahkan Kaneko Fumiko mengenalnya lewat puisi ini. Sidang mereka diliput media asing, bahkan setelah dijatuhi hukuman penjara sosok Park Yeol tetap jadi panutan banyak mahasiswa karena keberaniannya.

Meski akhirnya dia dan kekasihnya harus berpisah karena Kaneko Fumiko meninggal duluan, film ini tetap menggemaskan karena berhasil menampilkan kesetia-kawanan dan cinta yang tulus. Bahkan dalam keadaan sulit. Tidak ada adegan romantis sama sekali sepanjang film, tapi sikap mereka yang saling melindungi membuat iri.

Film ini sangat saya rekomendasikan untuk teman-teman anarkis atau yang sedang ingin tahu tentang gerakan anarkis. Selain belajar sejarah Korea Selatan kita juga bisa mengambil pesan-pesan kemanusiaan dari film ini. Sebagai orang yang mengutuk paham feodal, emosi saya tercampur aduk. Penuh haru juga karena persaudaraan para aktivis selama Park Yeol dipenjara tetap kuat, perlawanan dilakukan dari balik penjara.

Adegan yang paling saya suka adalah ketika Park Yeol menyanyikan lagu The Internationale. Rasa geram dan haru bercampur, menggebu-gebu. Terkutuklah orang-orang bermental feodal di seluruh dunia, entah apapun bentuknya. Tegaklah kemanusiaan, keadilan dan kebahagian bagi semua orang.


Image: Google

Thursday, August 16, 2018

[Review Film] Lima Alasan Mengapa Harus Menonton Film 1987: When The Day Comes


Selain melalui bacaan, film juga bisa jadi media transformasi sejarah yang menyenangkan. Minggu lalu saya menonton beberapa film sejarah dari Korea. Salah satunya adalah film 1987: When The Day Comes. Sebuah film yang berhasil mengaduk-aduk emosi saya dan sumpah mati saya mengutuk pemimpin yang diktator.

Untuk teman-teman yang sedang mencari referensi film untuk ditonton, film ini sangat saya rekomendasikan. Saya juga telah merangkum lima alasan mengapa film 1987: When The Day Comes layak untuk ditonton.

1. Melihat Sejarah Kelam Korea Selatan

Kalau kalian taunya Korsel identik dengan cowok manis dan cewek cantik, serta hingar bingar k-pop yang membuat mata segar. Film ini menyajikan Korsel yang lain. Korea Selatan yang pernah dikuasai sebuah rezim yang dipimpin seorang diktator. Film garapan sutradara Jang Joon Hwan ini berkisah tentang kematian seorang aktivis mahasiswa pro-demokrasi, Park Jong Chul ketika sedang dalam proses introgasi. Kematiannya membuat rakyat bertanya-tanya, mereka meminta kebenaran tentang penyebab kematiannya. Tapi pemerintah menutupinya, ini menyebabkan rakyat marah. Gejolak mahasiswa pun tak terbendung lagi. Mereka menuntut agar pemerintah transparan, tidak ada kediktatoran lagi.  

2. Mengingatkan Tragedi Mei 1998 di Indonesia

Perjuangan para mahasiswa di Korsel untuk menggulingkan kediktatoran sama seperti perjuangan mahasiswa Indonesia ketika menuntut agar Soeharto. Jika 1987 menampilkan Park Jong Chul sebagai martir, Indonesia mencatat beberapa nama mahasiswa yang jadi korban tragedi Mei 1998. Makanya saya sangat rekomendasikan film ini untuk teman-teman yang masih kuliah. Supaya bisa melihat bahwa peran mahasiswa sangat besar, tidak hanya kuliah untuk mendapatkan IPK tinggi dan bekerja di perusahaan besar atau berlomba-lomba jadi PNS. Pada masanya mahasiswa pernah mencatat sejarah, jadi penggerak perubahan.

3. Menikmati Film Sejarah yang Digarap dengan Totalitas

Penggarap film sejarah Indonesia harus berkaca pada film 1987. Film ini benar-benar digarap dengan totalitas. Menampilkan suasana yang mencekam, menguras emosi. Kita seperti memasuki dimensi lain ketika Korsel sedang kacau. Kerusuhan terjadi di mana-mana. Melibatkan banyak pihak mulai dari pemerintah, kejaksaan, kepolisian, wartawan serta media massa, gereja, penjara, dan geliat demonstrasi mahasiswa hingga ketakutan rakyat. Semuanya ditampilkan utuh, mata saya berkaca-kaca sepanjang film ini. Kualitas film 1987 sangat jauh di atas film-film sejarah yang pernah dibuat di Indonesia. Apalagi deretan aktor yang main di film ini adalah aktor-aktor ternama. Dibanding film A Taxi Driver, film ini masih lebih menantang. 

4. Berhenti Mendukung Pemimpin Diktator yang Fasis

Kita bisa berkaca dari film sejarah ini, seorang pemimoin yang diktator dan fasis hanya akan membawa kesengsaraan pada rakyatnya. Kekerasan bisa dilegalkan dengan alasan melindungi negara, bahkan kemanusiaan jadi tidak memiliki nilai apa-apa. Para preman dibayar untuk menghentikan perlawanan rakyat, pembunuhan jadi hal yang biasa. 1987 juga mengambarkan dengan gamblang bagaimana aparat mengintimidasi rakyat, mengancam bahkan merampas hak mereka untuk hidup. Mungkin seperti inilah Indonesia ketika sedang bergejolak menuntut turunnya Soeharto. 

5. Peran Gereja Membela Kemanusiaan

Oke, untuk poin ke-lima ini saya tidak mau berpanjang lebar. Nanti saya dikira relijius. Hehe. Intinya gereja mengambil peran dalam penegakan konstitusi dan penggulingan kediktatoran di Korsel. Tonton film ini untuk mengetahui kisah selengkapnya. Siap-siap emosinya terkuras. 

Sunday, July 15, 2018

Yuk Berbagi Buku dengan Adik-Adik di Nanga Sungai



Kamu pasti punya banyak buku bekas di rumah kan? bagi kita buku bekas mungkin tidak menarik lagi. Tapi bagi orang-orang yang tinggal di daerah pelosok, buku bekas sangat berarti. Sulitnya akses ke luar daerah membuat informasi dan pengetahuan yang mereka miliki jadi terbatas. Ketersediaan buku ibaratkan sebuah oase karena mereka bisa mengetahui berbagai informasi mengenai daerah lain melalui buku.

Seperti sebuah kampung bernama Nanga Sungai di Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan  Barat. Di sini belum ada listrik, padahal jaraknya tidak begitu jauh dari pusat kecamatan. Anak-anak kecil di sana harus melalui masa  kecil dengan banyak ketertinggalan dibanding anak-anak di derah lain.

Mulai dari cara belajar hingga permainan. Waktu anak-anak lainnya belajar di bawah pencahayaan yang cukup, anak-anak di Nanga Sungai belajar di bawah temaram pelita minyak.

Karena belum ada listrik hiburan mereka bukan televisi atau gawai. Sepulang sekolah mereka terbiasa ikut ke ladang, bermain di sana atau di kebun-kebun karet membawa ketapel, kadang menghabiskan waktu meyusuri tepian parit mencari ikan. Memuaskan hasrat memancing di usia belia padahal kadang seharian nggak dapat apa-apa.

Bangunan di belakang itu rumah sekolah mereka, gaes. Cuma ada Sekolah Dasar. Muridnya juga tidak banyak. Kalau sudah tamat SD mereka harus melanjutkan pendidikan ke kecamatan.


Tahun lalu aku menemui anak-anak di sana. Aku datang membawa majalah bekas Bobo dan berbagai buku cerita anak milik adik sepupuku. Menumpang di rumah seorang warga aku mengumpulkan mereka lalu kami membaca bersama. 


Yang baju hitam itu sepupuku ya bukan adek-adek wkwk. Dia yang nemenin aku main bareng adik-adik di sana.


Antusias mereka sangat tinggi. Kalau kalian kecewa dengan riset yang mengatakan minat baca di negara kita rendah, aku juga kecewa, tapi aku tidak putus asa. Wajah-wajah ceria yang aku temui waktu itu membuat aku selalu semangat untuk menyebarkan kecintaan terhadap buku, kecintaan terhadap membaca dan menulis.


Ini aku lagi bacain cerita, aku belum mandi waktu itu tapi tetap saja sepertinya tida bau ehehehe.


Di daerah pelosok ada banyak orang yang senang membaca, tapi akses mereka terhadap buku sangat terbatas. Apalagi harga buku mahal. Contohnya saja adik-adik yang semangat mengerumuniku waktu aku ajak membaca. Mereka ini jauh dari kota, tapi rasa ingin tahu mereka sangat tinggi. Ketika ada satu anak bertanya dan aku menjelaskan, yang lainnya akan mendengarkan lalu menanyakan hal baru yang tidak mereka pahami. 

Satu per satu baca cerita di depan, kalau dia capek nanti minta ganti teman yang lain dan begitu seterusnya. Mereka gada capeknya.


Ada rasa hangat yang memenuhi hatiku waktu memandang wajah mereka satu per satu. Buku cerita menjadi barang mewah bagi mereka karena keterbatasan ekonomi keluarga. Adik-adik ini jarang menyentuh buku cerita anak. Kalau ada buku yang mereka baca itu adalah buku tematik yang cara penulisannya sangat kaku. 


Wajar saja mereka semangat ketika aku datang membawakan buku, meski yang aku bawa buku bekas. Karena buku bacaan jadi hal yang sangat berarti di sana, tidak peduli seusang apa sebuah buku mereka akan tetap membacanya dengan bahagia. Waktu aku pamit pulang mereka bertanya kapan aku datang lagi dan membawakan buku.

Aku lupa nama adik ini. Dia semangat banget bolak-balik halaman Bobo padahal belum bisa baca. Btw kata temannya rambutnya ini ketumpahan pewarna rambut abangnya, jadi lucu gini hahaha.


Karena melalui buku langkah mereka bisa lebih jauh, melewati batas kampung, menembus kota-kota besar di Indonesia bahkan dunia. Karena melalui buku pikiran mereka bisa lebih luas, imajinasi mereka lebih tinggi. Kalau kamu masih berpikir buku bekasmu tidak ada gunanya, kamu keliru. Buku-buku itu berarti bagi mereka yang haus informasi. Kalau kamu punya buku cerita anak yang masih layak baca dan buku itu sudah tidak kamu pakai, mungkin kamu berkenan membagikan kebahagiaan untuk adik-adik di Nanga Sungai. Hubungi aku ya. Mereka perlu bacaan anak supaya imajinasi mereka berkembang. Mereka butuh majalah-majalah seperti Bobo dan sejenisnya supaya pengetahuan mereka bertambah.


Mereka berhak untuk bahagia, dan buku membuat bahagia.

Kamu bisa menyumbangkan buku-buku bekasmu untuk mereka yang membutuhkan. Berbagi kebahagiaan dengan hal sederhana. Ketika kita memberi mereka buku, kita tidak hanya memberi kertas berisi tulisan dan gambar, kita sedang memberi kehiduan baru bagi mereka. Karena melalui buku yang mereka baca mereka bisa menjadi siapa saja, mereka bisa pergi ke mana saja. 
This entry was posted in

Saturday, July 07, 2018

Bagaimana kamu ingin mati?



Mungkin kita bisa memesan takdir kita.
Kamu ingin mati seperti apa?
Aku ingin mati dengan manis. Mengenakan pakaian terbaik yang pernah dikenakan tubuhku. Mati dengan rasa cukup akan kehidupan. Mati dengan memilih kematian itu sendiri, ketika 30.

Monday, June 25, 2018

Ketika Pecandu Buku Bertemu Penikmat Musik Underground di Silahturockmi


Malam itu galeri Canopy Centre sesak, musik keras memenuhi ruangan yang letaknya tepat di belakang cafe, menenggelamkan suara penonton yang hadir dalam acara Silahturockmi, ajang silaturahmi band underground di Pontianak. Saya tidak pernah nyaman berada di keramaian seperti itu, saya tidak begitu menyukai gigs, tidak ada kesenangan yang saya temui di tengah lautan manusia dengan suara bising yang memekakkan telinga, dengan wajah-wajah asing yang tidak saya kenali. Seringkali kehadiran saya di acara-acara seperti itu karena kepentingan pekerjaan.

Tapi malam itu saya datang dengan sukarela karena kami (saya dan dua teman lainnya dari Komunitas Pecandu Buku) membuka lapak baca gratis di acara itu. Beberapa buku kami bawa, kami susun di atas meja panjang tidak jauh dari pintu masuk. Mulai dari Tan Malaka, Michael Bakunin, Fidel Castro, Ema Goldman hingga Carl Sagan dan Stephen Hawking berjejeran menunggu pengunjung menyapa mereka, pengunjung yang mungkin saja lelah berteriak atau moshing di dalam. Buku-buku sastra juga disusun rapi, siapa tahu ada yang berkontemplasi sepanjang jalan pulang sesudah singgah di lapakan.

Kami ada untuk mengisi kebosanan atau kelelahan teman-teman setelah atau sebelum menonton. Bisa jadi ada yang sedang menunggu dan tidak tahu mau ngapain, membaca buku jauh lebih baik ketimbang berdiri bengong sendirian atau sok asik memainkan gawai, syukur-syukur kalau baterai atau kuotanya masih ada hehehe.

Awalnya saya pesimis akan ada yang membaca, berdasarkan pengalaman melapak di beberapa acara, yang tertarik membaca bisa dihitung pakai jari selama acara berlangsung. Kebanyakan dari mereka cuma melihat-lihat buku lalu bertanya apakah buku ini dijual atau tidak, padahal di depan sudah ditulis "Lapak Baca Gratis". Kalau sudah begini saya nyengir dan nyinyir di dalam hati, cakep-cakep tapi bego wkwk. 

Tapi malam itu dugaan saya salah, ternyata yang tertarik membaca lebih banyak dari biasanya. Beberapa wajah sudah saya kenal karena pernah saya temui ketika meliput acara Voice of Borneo (makasih om Den, w ga kuper-kuper amat akhirnya hahaha). Saya juga dapat beberapa kenalan baru yang suka membaca dan menulis. 

Sebenarnya menurut saya kegiatan membaca itu adalah kegiatan personal. Saya pribadi tidak bisa membaca buru-buru, jadi mustahil bisa membaca buku dari lapakan orang, ujung-ujungnya saya pasti pinjam buku itu karena buku itu candu, sama seperti drama korea. Sekali kamu buka halaman pertama, bakal sulit berhenti sampai halaman terakhir. Tapi kami rasa membuka lapak baca gratis seperti ini bisa jadi salah satu cara untuk meningkatkan minat baca di lingkungan kami.

Minimal jejaring akan bertambah, mereka yang membaca buku di lapakan biasanya tertarik dengan informasi yang ada di buku. Mereka lalu meminta kontak kami dan buku tersebut dipinjam. Minimal kami sudah berusaha, daripada misuh-misuh karena tingkat literasi yang rendah tapi tidak berbuat apa-apa.

Lapak baca gratis yang dibuka di ruang-ruang publik memungkinkan kita untuk saling menemukan. Saya yakin sebenarnya banyak yang senang membaca buku tapi buku yang ingin dibaca tidak ada. Untuk ukuran Pontianak yang toko bukunya terbatas, menemukan buku yang menarik dan sesuai kebutuhan tidaklah mudah. Lebih banyak buku-buku yang memuaskan emosi ketimbang mencerdaskan pembaca. Malam itu kami berusaha menghadirkan buku-buku alternatif, dan respon yang kami dapat sangat positif. Obrolan-obrolan panjang bersama pengunjung mengenai beberapa buku pun bergulir hangat meski harus setengah teriak supaya tidak tenggelam oleh musik. 

Meski tidak berharap terlalu banyak pada tingkat literasi di Kalbar, setidaknya respon yang kami dapat kemarin memperlihatkan banyak yang ingin membaca buku tapi belum menemukan buku tersebut. Yang harus kita lakukan adalah bersama-sama menyediakan bacaan yang memang bisa memuaskan keingintahuan masyarakat. Negara sebenarnya mengakomodir kebutuhan ini, tapi ada tetek bengek yang harus dilengkapi untuk menikmati buku-buku di sana. Rumit, shay :)

Dari perjumpaan dengan beberapa teman baru malam itu saya berharap semakin banyak orang-orang yang saling menemukan sehingga kita bisa saling bertukar pikiran, saling dukung untuk membuat diri kita berarti bagi sesama. Dengan saling menemukan, informasi yang didapat semakin banyak, landasan berpikir kita semakin kuat dan tujuan kita semakin jelas. Saya berharap suatu hari nanti forum-forum diskusi tentang masa depan tempat ini tidak hanya milik kalangan-kalangan tertentu, milik mereka yang konservatif sementara yang lainnya hanya jadi penurut karena minimnya informasi dan ketidakpahaman masyarakat membaca kebijakan yang dikeluarkan pemerintah.

Semoga semakin banyak orang yang saling menemukan dan membuat tempat ini semakin menyenangkan. Semakin menyenangkan dengan cowok-cowok cerdas yang tidak hanya cakep dan tajir tapi juga berwawasan luas. Karena kubosan dengan cowok-cowok yang obrolannya garing. Seharian nanyain "lagi ngapain, udah makan belum, hari ini mau jalan ke mana, nonton yuk, makan ke sini yuk." Kenapa gak ngomongin sesuatu yang informatif dan mencerdaskan. dududu :p

Jadi, sampai ketemu di lapak-lapak buku berikutnya. Kalau tertarik saling pinjam buku bacaan bisa menghubungi akun @bukuselanjutnya yaa. 

This entry was posted in

Friday, June 22, 2018

Membentuk Pustaka, Berbagi Kesenangan dengan Meminjamkan Buku


Selalu ada rasa senang tiap kali seseorang mengembalikan buku karena pembicaraan jadi lebih panjang dari biasanya.

Tahun ini saya mulai memberanikan diri untuk melepas buku-buku saya, saya pinjamkan pada orang lain. Saya dan pacar membuat akun Instagram khusus untuk pinjam meminjam buku di area Pontianak namanya @bukuselanjutnya buku-buku kami diunggah di sini, kalau ada yang ingin meminjam bisa langsung menghubungi kontak yang tercantum.

Tidak ada syarat khusus untuk meminjam buku di sini, kami meminjamkan dengan sukarela. Dengan niat tulus untuk berbagi kesenangan membaca. Tujuannya tentu saja untuk berbagi kebahagiaan dan menambah jejaring pertemanan. Sementara ini yang meminjam kebanyakan adalah teman-teman dekat kami, tapi ada juga beberapa teman baru, dan ada calon-calon peminjam yang terpaksa tidak kami pinjami buku karena yang bersangkutan tidak sopan ketika ingin meminjam.

Berbagi kesenangan dengan cara ini dianggap tindakan bodoh oleh sebagian orang. Apalagi Gus Dur pernah mengucapkan kalimat yang bunyinya "Hanya orang bodoh yang mau meminjamkan bukunya dan hanya orang gila yang mau mengembalikan buku yang sudah dia pinjam." Dulu saya juga setuju dengan kalimat ini, buku-buku saya jarang saya pinjamkan pada orang lain, kalau saya berani meminjamkan itu karena saya tahu orangnya pasti bisa menjaga buku saya, atau karena saya juga meminjam buku darinya. 

Semakin bertambahnya usia, semakin banyak saya membaca buku dan bertemu orang, semakin sering diskusi dan kontemplasi akhirnya saya sampai pada titik ini. Buku-buku saya boleh dipinjam siapa saja. Untuk kalian yang memiliki kecintaan terhadap buku dan kegiatan membaca, kalian pasti mengerti bagaimana sulitnya melepas keterikatan kita dengan buku, rasa memiliki yang teramat dalam sampai kita takut kehilangan. Apalagi buku-buku yang didapat dengan susah payah. 

Tapi sekarang rasa memiliki yang berlebihan seperti itu sudah saya tinggalkan. Saya selalu ingin bermanfaat bagi orang lain, kalau dengan buku-buku yang saya punya seseorang bisa merasa bahagia maka saya tidak keberatan untuk berbagi bacaan. Lagipula semesta bekerja dengan cara yang adil. Ketika kita berbuat baik maka kebaikan pasti terjadi juga pada kita, selalu ada balasan.

Saya tidak merasa bodoh ketika meminjamkan buku-buku saya pada orang lain karena saya tahu saya baru saja membuat orang lain bahagia tiap kali saya menyerahkan buku tersebut. Saya tidak merasa bodoh karena saya mungkin baru saja membantu seseorang mendapat pengalaman baru dalam hidupnya setelah membaca buku yang dia pinjam dari saya. Mungkin saja buku yang saya pinjamkan mengubah hidup seseorang, atau menyelamatkannya dari keputus-asaan. 

Saya yakin buku-buku yang dibaca lebih berarti ketimbang buku-buku yang disimpan rapi di rak buku. Kalau saya sudah membaca buku kemudian menyimpan buku tersebut dengan rapi, menjadikannya koleksian pribadi, itu sama saja saya menghilangkan nilai buku tersebut padahal di luar sana seseorang sedang kebingungan mencari buku tersebut atau berusaha keras menyisihkan gajinya yang tidak seberapa untuk membeli buku yang saya simpan rapi di rak buku, sesekali dikeluarkan untuk dibersihkan dan difoto lalu dipamerkan di media sosial. Betapa egoisnya saya.

Apalagi saya termasuk orang yang sering misuh-misuh karena rendahnya tingkat membaca dan menulis di lingkungan saya, tanpa sedikit pun saya peduli keadaan mereka yang mungkin tidak punya kemampuan untuk membeli buku yang ingin mereka baca. Kalau kamu memiliki banyak buku lantas marah-marah karena rendahnya tingkat literasi masyarakat tapi tidak berbuat apa-apa, sebenarnya kamu tidak layak marah-marah. Yang harus kita lakukan adalah berbagi buku yang kita punya, biarkan mereka meminjam dan membacanya.

Bukankah berbagi adalah hal yang menyenangkan? meski kecil dan sederhana seperti berbagi bacaan. Dulu saya sering marah-marah pada pacar saya kalau buku saya dipinjamkannya pada orang lain, sekarang sudah enggak dong. Kami berdua senang sekali kalau ada nomor baru menghubungi dan ingin meminjam buku, itu artinya kami akan membuat orang lain senang dan teman kami jadi bertambah. 

Seperti kata Tan Malaka, selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi. Dan bagi kami selama ada orang yang mau saling pinjam-meminjamkan buku, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, tidak hanya bertukar buku tapi juga berdiskusi dan membuat gerakan bersama.

Jadi kawan-kawan yang mau pinjam-pinjaman buku, yuk kita saling tukar pinjam. Jangan biarkan buku-buku yang kita beli memenuhi rak buku tanpa dibaca. Jangan sampai kita kesal pada kondisi literasi di sekitar kita tapi kita tidak berbuat apa-apa. Satu buku yang kita pinjamkan pada seseorang bisa saja mengubah kehidupannya atau menyelamatakannya dari kebingungan, bahkan kesepian. 
This entry was posted in